icon-category Startup

Dear Founder Startup, Ini Hal yang Harus Diperhatikan Kalau Dapat Pendanaan

  • 27 Jun 2022 WIB
  • Bagikan :
    Ilustrasi: Uzone.id/Vescha Permata Sari

    Kolom oleh: Direktur Digital Business Telkom Indonesia, Muhammad Fajrin Rasyid

    Uzone.id — Di tengah kondisi sektor startup lokal dan global yang terpuruk karena adanya 'tsunami' PHK, banyak yang berharap hal ini tidak menyurutkan semangat generasi muda untuk berkarya dan berkontribusi lewat startup.

    Bagi siapapun yang sedang dan ingin merintis startup, sudah sebaiknya paham mengenai visi yang perlu dibangun, validasi pasar, hingga persoalan pencarian dana dari investor.

    Menjalin hubungan erat dengan venture capital hingga angel investor tentu penting, namun tetap ada hal yang harus diperhatikan ketika startup kita nyatanya berhasil dilirik dan siap mendapat kucuran dana segar sebagai investasi.

    Hal pertama yang perlu didiskusikan dan disepakati dengan investor kita adalah rencana atau proyeksi keuangan. Apabila kita memproyeksikan startup kita memiliki runway – tenggat waktu hingga startup kita kehabisan dana – maka sebaiknya rencana tersebut diubah sehingga runway menjadi 18 atau 24 bulan.

    Ini disebabkan karena banyak pihak berpendapat akan sulit untuk memperoleh pendanaan dalam 1 tahun ke depan. Oleh karena itu, startup kita mesti memiliki ketahanan finansial yang kuat.

    Baca juga: Startup Bubble Burst Bikin Ngeri Anak Muda?

    Berikutnya, kita mesti lebih disiplin dalam menganalisis keuangan khususnya biaya yang dikeluarkan. Sebagai contoh, dalam mengeluarkan biaya terkait pemasaran, kita mesti mengetahui ROI (Return on Investment) dari setiap aktivitas atau campaign.

    Apabila memungkinkan, telusuri hingga level LTV (Life Time Value) dan CAC (Customer Acquisition Cost). Kegiatan pemasaran yang baik memiliki CAC di bawah LTV. Jangan sampai kita membakar uang untuk menggaet pelanggan yang ternyata tidak pernah datang lagi di masa yang akan datang.

    Biaya lain yang biasanya cukup besar dikeluarkan oleh startup adalah terkait karyawan. Evaluasi kembali kebutuhan hiring startup kita – apakah dengan strategi yang baru, memang masih diperlukan untuk merekrut karyawan baru, atau bisa dengan mengoptimalkan karyawan yang ada?

    (Ilustrasi/Unsplash)

    Hal yang berat untuk dilakukan oleh tiap perusahaan adalah pemutusan hubungan kerja (PHK). Namun, manajemen memiliki kewajiban fidusia, sehingga apabila memang hal tersebut perlu dilakukan, kita mesti melakukan demi menjaga keberlangsungan perusahaan.

    Baca juga: Ramai PHK di Startup, Menkominfo Kasih Wejangan agar Lolos dari Krisis

    Tentu saja, apabila ada opsi lain yang dapat dipertimbangkan terlebih dahulu untuk dilakukan, maka itu lebih baik. Jadikanlah pemutusan ini sebagai opsi terakhir dan kalaupun memang akan dilakukan, pastikan seluruh hak dan kewajiban terselesaikan dengan tuntas sehingga kedua belah pihak dapat tetap berhubungan baik ke depan.

    Terakhir, dalam pengelolaan keuangan startup, biasanya ada hal-hal yang disepakati dengan investor di dalam shareholders agreement. Misalnya, kita tidak boleh menggunakan dana untuk hal-hal tertentu yang dilarang kecuali atas sepersetujuan investor.

    Pastikan bahwa kita tidak melanggar hal tersebut. Pada akhirnya, bisnis startup biasanya bersifat jangka panjang dan oleh karena itu, penting untuk kita membangun kepercayaan investor terhadap startup maupun diri kita sendiri.

    Selamat mengelola keuangan startup!

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini