icon-category Startup

Startup Bubble Burst Bikin Ngeri Anak Muda?

  • 06 Jun 2022 WIB
  • Bagikan :
    Ilustrasi: Uzone.id/Vescha Permata Sari
    Kolom oleh: Direktur Digital Business Telkom Indonesia, Muhammad Fajrin Rasyid.
     
    Uzone.id -- Belakangan industri startup sedang naik-turun. Saat kabar beberapa startup lokal seperti Zenius, TaniHub, hingga sekelas Netflix melakukan PHK menyeruak, muncul istilah startup bubble burst.
     
    Secara sederhana, bubble burst memiliki makna sebuah situasi di mana sesuatu (dalam kasus ini nilai aset atau startup) dalam keadaan sukses, lalu tiba-tiba berhenti menjadi sukses, dikutip dari Collin Dictionary.
     
    Sementara dari laman Investopedia, bubble burst atau ledakan gelembung artinya sebuah siklus ekonomi yang ditandai dengan eskalasi nilai pasar yang terlalu tinggi dan cepat, namun diiringi juga dengan penurunan nilai dalam waktu yang juga cepat.
     
    Kabar startup yang PHK karyawan sebenarnya sudah ada sejak pandemi dimulai. Banyak yang menganggap perubahan kondisi ekonomi memaksa perusahaan melakukan penyesuaian bisnis dan mengatur ulang fokus. Daftarnya pun cukup panjang: ada LinkedIn, Zomato, Gojek, Grab, dan Airbnb. Bahkan, beberapa startup terpaksa harus gulung tikar.
     
    Baca juga: Mengenal Fenomena Bubble Burst di Dunia Startup
     
    Gejolak semangat startup yang begitu dinamis ini menyita perhatian anak-anak muda Indonesia yang ingin berkarier atau bahkan menjadi pemain baru.
     
    Namun, bubble burst ini sangat mungkin menciptakan persepsi baru: apakah industri startup ‘tidak aman’ bagi para fresh graduate? Bagaimana cara mengembalikan semangat entrepreneurship bagi anak muda agar tak lesu ketika fenomena seperti ini muncul dan terus maju mengembangkan usahanya?
     
    Pertama, startup memang memiliki risiko.
     
    Perlu diingat bahwa memang industri startup memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan industri. Bahkan, salah satu definisi startup yang cukup banyak digunakan orang adalah entitas atau organisasi yang dirancang untuk mencari model bisnis yang mampu diperbesar secara terus menerus (repeatable dan scalable). 
     
    Banyak startup yang kemudian tutup atau gagal sebelum menemukan model bisnis tersebut. Namun sebaliknya, startup yang berhasil biasanya tumbuh menjadi perusahaan berskala besar dalam waktu relatif singkat (di bawah 10 tahun).
     
    Kedua, pengalaman yang beragam.
     
    Lantas, apakah sebaiknya fresh graduate tidak bekerja di startup? Sebaliknya, menurut saya bekerja di startup merupakan salah satu bidang yang sangat potensial. Jack Ma pernah berkata, sebelum usia 30 tahun, yang penting adalah siapa bos kita, yang memimpin dan mengajari kita. 
     
    Ilustrasi/Unsplash
     
    Bekerja di startup biasanya memungkinkan kita untuk mempelajari berbagai aspek dari perusahaan secara luas. Sebagai contoh, selama kurang dari 10 tahun saya di Bukalapak, saya sempat menggeluti bidang keuangan, hubungan investor, pemasaran, penjualan, hukum, hubungan pemerintah, dan lain-lain.
     
    Ketiga, pengembangan kemampuan.
     
    Yang tidak boleh kita lupakan adalah, di setiap pekerjaan yang kita lakukan, jangan lupa untuk terus mengasah kemampuan yang kita miliki. Dunia digital telah membuat perubahan terjadi begitu cepat, baik di industri startup maupun industri lainnya.
     
    Sebagai contoh, 10 tahun lalu teknologi banyak berkutat dengan desktop. Saat ini, teknologi banyak berkutat dengan mobile. Namun, mungkin saja ke depan, teknologi akan beralih kepada metaverse, Web3, maupun teknologi lainnya. Kita mesti terus mengembangkan kemampuan agar relevan dengan perkembangan zaman tersebut.
     
    Baca juga: Ramai Bubble Burst, Telkom Tak Gentar Investasi di Startup
     
    Keempat, kembali kepada fundamental.
     
    Bagi fresh graduate yang ingin mengembangkan startup, ini merupakan momen untuk mengingat kembali bahwa startup yang baik diciptakan untuk menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat, bukan untuk menjadi sarana agar cepat kaya.
     
    Ciri-ciri startup yang baik di antaranya memiliki rencana untuk menghasilkan model bisnis yang kuat, bukan sekadar ingin mencapai valuasi tinggi. Dengan seperti ini, saya yakin startup tersebut akan dapat bertahan di masa sekarang.
     
    Sebagai penutup, baru-baru ini saya berbincang dengan salah satu startup yang melakukan layoff. Beliau menyampaikan bahwa mayoritas talenta yang terkena layoff tersebut langsung diterima oleh pasar.
     
    Hal inilah yang terjadi apabila kita fokus mengembangkan diri kita. Stay hungry, stay foolish.

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini