Home
/
Automotive

Harga Pertalite Eceran di Gorontalo Tembus Rp16 Ribu per Liter

Harga Pertalite eceran di Gorontalo Utara melonjak drastis hingga Rp25.000 per botol 1,5 liter, memberatkan warga dan pengemudi bentor.

Harga Pertalite Eceran di Gorontalo Tembus Rp16 Ribu per Liter

Ilustrasi BBM Pertalite eceran (Dok: Istimewa)

Bagikan :

Highlight Artikel

  • Harga Pertalite eceran di Kabupaten Gorontalo Utara melonjak tinggi, mencapai Rp25.000 per botol 1,5 liter di Kecamatan Anggrek.
  • Kenaikan ini sangat memberatkan warga di daerah terpencil dan pengemudi bentor, yang kesulitan mengakses SPBU dan menghadapi peningkatan biaya operasional.
  • Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara akan memperketat pengawasan distribusi BBM bersubsidi melalui Satgas untuk mencegah penyalahgunaan.
  • Satgas akan menindak penggunaan tangki modifikasi, namun petani dan nelayan tetap dapat membeli BBM bersubsidi dengan surat rekomendasi resmi.

Uzone.id - Harga Pertalite eceran di Kabupaten Gorontalo Utara melonjak tinggi. Di Kecamatan Anggrek, harga BBM bersubsidi ini menembus Rp25.000 untuk kemasan botol 1,5 liter, atau setara dengan Rp16.650 per liter.

Kenaikan harga ini langsung bikin pusing warga yang sehari-hari bergantung pada bensin eceran akibat lokasi rumah maupun tempat kerja yang terbilang jauh dari SPBU.

Lonjakan Harga Pertalite di Gorontalo Utara

Muhammad, seorang warga Gorontalo Utara, menceritakan bahwa sebelumnya Pertalite eceran di Kecamatan Anggrek masih dijual sekitar Rp18.000 untuk ukuran botol 1,5 liter. Namun, belakangan harganya langsung melompat ke Rp25.000.



“Di wilayah Kecamatan Anggrek, pengecer menjual pertalite seharga Rp25.000 per botol ukuran 1,5 liter. Sebelumnya dijual Rp18.000 per botol. Sedangkan ukuran botol satu liter dijual Rp15.000 per botol, sebelumnya Rp12.000 per botol,” kata warga Gorontalo Utara Muhammad, dikutip Antara.

Menurut Muhammad, kondisi ini sangat memberatkan masyarakat yang aksesnya sulit ke SPBU. Warga mau tidak mau harus menebus BBM dari pedagang eceran meski patokan harganya terpaut jauh dari harga resmi SPBU.

Ia menuturkan bahwa lonjakan harga ini cukup memukul dompet, apalagi tempatnya mengais rezeki berjarak lumayan jauh dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Dampak Kenaikan bagi Warga dan Pengemudi Bentor

Fenomena serupa dirasakan warga di Kecamatan Tomilito. Pengemudi becak motor (bentor), Untun Lanio, mengungkapkan kalau harga bensin eceran di kawasannya pun merangkak naik belakangan ini.

Untun menyebut masih ada segelintir pengecer yang melepas Pertalite di harga Rp18.000 per botol 1,5 liter. Tapi, jumlah mereka terus berkurang karena mayoritas pedagang sudah mematok harga baru di kisaran Rp20.000 hingga Rp22.000 per botol.

Situasi ini mulai bikin para penarik bentor cemas. Pembengkakan biaya bahan bakar berpotensi mengerek operasional harian yang ujung-ujungnya bisa berimbas ke penyesuaian tarif jalan.



Kenaikan harga bensin eceran tersebut mulai menimbulkan kekhawatiran bagi pengemudi bentor. Biaya bahan bakar yang meningkat berpotensi menambah beban operasional dan pada akhirnya dapat memengaruhi tarif angkutan.

Walau begitu, Untun mengaku masih menahan diri untuk tidak menaikkan ongkos sewa bentor. Ia memilih bertahan dengan harga lama sebab penentuan tarif bentor selama ini berbasis kesepakatan langsung dengan penumpang.

“Sejauh ini harga sewa bentor belum naik, masih normal sebab saya pun bingung bagaimana caranya menaikkan harga, apalagi pembayaran sewa bentor dilakukan atas kesepakatan dengan penumpang,” katanya.





Langkah Pengawasan Distribusi oleh Pemkab

Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara menegaskan bakal terus memperketat pengawasan jalur distribusi BBM bersubsidi.

Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Daerah Gorontalo Utara, Mohammad Fader Zubedi, menyampaikan pengawalan dilakukan lewat Satuan Tugas (Satgas) yang sudah disiagakan.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara memastikan pengawasan distribusi BBM bersubsidi tetap dilakukan.

Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Daerah Gorontalo Utara Mohammad Fader Zubedi mengatakan pengawasan pembelian BBM bersubsidi dilakukan melalui Satuan Tugas (Satgas) yang telah dibentuk.

“Kami mengawasi pendistribusian BBM bersubsidi di seluruh SPBU,” katanya.



Fader menerangkan, setiap pembelian BBM bersubsidi di SPBU wajib mengikuti ketetapan harga resmi pemerintah. Langkah pengawasan ini ditempuh guna mencegah praktik aksi borong berlebihan atau penyalahgunaan BBM yang tidak sesuai aturan.

Satgas juga memantau ketat modus-modus pembelian yang disinyalir merusak rantai distribusi BBM bersubsidi. Salah satu sasaran penertiban utama yakni penggunaan kendaraan dengan tangki rakitan atau modifikasi.

“Kalau pembelian BBM bersubsidi menggunakan galon, masih bisa diartikan tujuannya untuk nelayan dan petani, tapi kalau tangki modifikasi, hal itu secara langsung sangat melanggar,” katanya.

Fader menambahkan, kelompok petani dan nelayan yang memerlukan pasokan BBM bersubsidi tetap dipastikan terlayani sesuai skema formal.

Syaratnya, proses pembelian BBM bersubsidi bagi kelompok tersebut wajib melampirkan surat rekomendasi resmi dari dinas terkait.





Harapan Warga untuk Stabilitas Harga

Untun sangat berharap harga bensin eceran bisa kembali stabil supaya tidak terus menjepit perekonomian warga. Baginya, keberadaan pengecer bensin sangat vital, terutamanya untuk penunjang mobilitas warga di pelosok yang belum tersentuh jangkauan SPBU.

Ia berharap harga bensin eceran kembali normal, sebab peran penjual bensin eceran sangat menunjang aktivitas perekonomian di wilayah terpencil yang jauh dari SPBU.

Di tengah gejolak harga eceran saat ini, warga di kawasan terpencil sangat mendambakan penyaluran BBM berjalan lancar dan berkesinambungan.

Ketersediaan bensin eceran merupakan urat nadi bagi penggerak roda ekonomi dan penopang kegiatan masyarakat sehari-hari.

FAQ Artikel

Berapa harga Pertalite eceran tertinggi di Gorontalo Utara?

Harga Pertalite eceran di Kecamatan Anggrek, Gorontalo Utara, mencapai Rp25.000 per botol 1,5 liter, atau setara dengan Rp16.650 per liter.

Siapa saja yang paling terpengaruh oleh kenaikan harga bensin eceran ini?

Kenaikan harga ini sangat memberatkan warga yang jauh dari SPBU, termasuk pengemudi becak motor (bentor) yang merasakan dampak pada biaya operasional harian.

Apa respons Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara terkait masalah ini?

Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara akan memperketat pengawasan distribusi BBM bersubsidi melalui Satuan Tugas (Satgas) untuk mencegah penyalahgunaan dan pembelian menggunakan tangki modifikasi.

Apakah petani dan nelayan tetap bisa mendapatkan BBM bersubsidi?

Ya, kelompok petani dan nelayan tetap dipastikan terlayani untuk mendapatkan BBM bersubsidi dengan melampirkan surat rekomendasi resmi dari dinas terkait.

Brian Priambudi

Brian Priambudi

Jurnalis

Berpengalaman dalam review mobil dan motor.  Pengalaman menjadi jurnalis otomotif sejak 2018.
Lihat semua artikel →
populerRelated Article