InfraNexia Kelola 112.000 Km Fiber Optik, Nilai Transaksi Rp85,7 Triliun
Telkom memisahkan bisnis fiber optik grosir ke InfraNexia, pengelola 112.000 km jaringan senilai Rp85,7 triliun untuk fondasi AI Ready Infrastructure.

Highlight Artikel
- Telkom Indonesia telah menyelesaikan pemisahan bisnis dan aset wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia).
- InfraNexia kini mengelola sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik di Indonesia, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik.
- Nilai transaksi dalam proses pemisahan aset dan bisnis ini mencapai sekitar Rp85,7 triliun.
- InfraNexia diarahkan menjadi AI Ready Infrastructure, yang terbuka untuk berbagai pelaku industri guna mendukung pertumbuhan ekosistem digital dan AI nasional.
Uzone.id – Telkom Indonesia telah resmi menyelesaikan tahap penting pemisahan bisnis dan aset wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia). Setelah konsolidasi, InfraNexia kini mengelola jaringan fiber optik dengan skala sekitar 112.000 kilometer yang membentang di berbagai wilayah Indonesia.
Dari total tersebut, sekitar 26.000 kilometer merupakan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik. Nilai transaksi dalam proses pemisahan aset dan bisnis ini mencapai sekitar Rp85,7 triliun.Angka tersebut menggambarkan besarnya infrastruktur jaringan yang kini berada di bawah pengelolaan InfraNexia sebagai perusahaan yang menggawangi bisnis infrastruktur jaringan TelkomGroup.
Penyelesaian tahap ini ditandai dengan persetujuan pemegang saham independen Telkom dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar secara daring pada Rabu (30/9).
Pada hari yang sama, Telkom dan InfraNexia juga menandatangani akta pemisahan (deed of spin-off) sebagai bagian dari penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap 2.
Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno mengatakan pemisahan tersebut menjadi langkah penting untuk membangun struktur bisnis yang lebih fokus sekaligus memberikan ruang bagi InfraNexia untuk berkembang.
“Dengan skala dan fokus yang semakin solid, InfraNexia diharapkan mampu mengelola infrastruktur secara lebih optimal sekaligus membuka pemanfaatannya bagi lebih banyak pelaku industri. Langkah ini menjadi bagian dari upaya TelkomGroup membangun bisnis agar semakin fokus, kompetitif, dan mampu menciptakan nilai yang jauh lebih besar dari tiap aset strategis yang dimiliki,” ujar Nanang.
112.000 Km Fiber Optik, 26.000 Km Kabel Laut
Dalam proses konsolidasi ini, lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya berada di bawah Telkom resmi dikonsolidasikan ke InfraNexia.
Dengan skala tersebut, InfraNexia kini memiliki jaringan yang tidak hanya mengandalkan infrastruktur darat, tetapi juga terhubung melalui jaringan kabel laut.
Secara keseluruhan, jaringan fiber optik yang dikelola mencapai sekitar 112.000 kilometer, termasuk 26.000 kilometer SKKL domestik.
Infrastruktur tersebut menjadi bagian penting dari jaringan konektivitas yang dapat dimanfaatkan berbagai pelaku industri, mulai dari operator telekomunikasi, penyedia layanan internet, perusahaan cloud, hingga pengelola data center.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji mengatakan konsolidasi tersebut memberikan ruang yang lebih besar bagi InfraNexia untuk meningkatkan utilisasi jaringan sekaligus memperluas kolaborasi di dalam ekosistem digital nasional.
“Skala infrastruktur yang semakin besar memberi kami fleksibilitas untuk menghadirkan solusi yang lebih relevan bagi berbagai kebutuhan pelanggan. Fokus kami bukan hanya memperluas pemanfaatan aset, tetapi memastikan infrastruktur yang kami miliki dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan lebih banyak mitra dan layanan digital, serta mendukung penguatan ekosistem dan kedaulatan digital Indonesia,” tambah Seno.
Ada 4 Area, 12 Regional, dan 61 Distrik
Bukan hanya soal panjang jaringan fiber optik, InfraNexia juga kini mengelola cakupan infrastruktur yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Pasca konsolidasi, jaringan serat optik InfraNexia didukung oleh 4 area, 12 regional, dan 61 distrik di seluruh Indonesia.
Struktur tersebut menghubungkan infrastruktur darat dan laut dalam satu jaringan yang dikelola InfraNexia.
Dengan cakupan tersebut, jaringan InfraNexia diarahkan menjadi fondasi bagi berbagai kebutuhan konektivitas industri. Operator telekomunikasi dan penyedia layanan internet dapat memanfaatkannya untuk memperluas kapasitas dan jangkauan layanan.
Begitu juga dengan perusahaan cloud, data center, serta berbagai pelaku industri yang membutuhkan infrastruktur konektivitas dalam skala besar.
InfraNexia sendiri menjalankan model bisnis berbasis carrier-neutral dan open-access. Bisnisnya terbagi dalam dua lini utama, yakni Wholesale Connectivity dan Wholesale FTTx.
Portofolionya mencakup layanan konektivitas berkapasitas tinggi, akses jaringan, hingga pemanfaatan infrastruktur pasif bersama yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan kapasitas, cakupan, dan model bisnis pelanggan.
Disiapkan untuk Era AI dan Data Center
Dengan jaringan yang semakin besar dan terintegrasi, InfraNexia juga menempatkan infrastrukturnya sebagai fondasi untuk kebutuhan teknologi yang terus berkembang, termasuk AI, cloud, dan data center.
Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf mengatakan fase baru ini memperkuat peran perusahaan dalam mengembangkan jaringan nasional sebagai AI Ready Infrastructure yang terbuka dan dapat dimanfaatkan bersama oleh berbagai pelaku industri.
“Indonesia membutuhkan AI Ready Infrastructure yang mampu berkembang seiring kebutuhan industri dan teknologi. Dengan jaringan yang semakin terintegrasi dan scalable, kami ingin menghadirkan fondasi yang dapat mendukung pertumbuhan AI, cloud, data center, serta berbagai inovasi digital lainnya di masa depan, sekaligus membuka lebih banyak ruang bagi mitra untuk memperluas layanan dan menciptakan peluang pertumbuhan baru tanpa harus mengembangkan seluruh infrastrukturnya secara mandiri,” pungkas Lukman.
Selain memperbesar skala jaringan, InfraNexia juga mempercepat modernisasi operasi melalui otomasi, integrasi sistem, dan pengembangan kapabilitas autonomous network.
Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan keandalan layanan dan efisiensi operasional, sekaligus membuat jaringan lebih responsif terhadap permintaan pelanggan.
Dengan sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik, termasuk 26.000 kilometer kabel laut domestik, serta cakupan 4 area, 12 regional, dan 61 distrik, InfraNexia kini memiliki skala infrastruktur yang cukup besar untuk menjalankan peran sebagai penyedia infrastruktur digital berbasis wholesale.
Bagi TelkomGroup, konsolidasi ini juga menjadi bagian dari transformasi dari Operating Holding menuju Strategic Holding melalui model Holding Company-Operating Company (HoldCo-OpCo), dengan fokus pada penciptaan nilai dan sinergi antarentitas.
FAQ Artikel
Apa itu InfraNexia?
InfraNexia adalah PT Telkom Infrastruktur Indonesia, perusahaan yang dibentuk oleh Telkom Indonesia untuk mengelola bisnis dan aset wholesale fiber connectivity, serta menggawangi bisnis infrastruktur jaringan TelkomGroup.
Berapa panjang jaringan fiber optik yang dikelola InfraNexia?
InfraNexia kini mengelola sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik yang membentang di berbagai wilayah Indonesia, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik.
Berapa nilai transaksi pemisahan bisnis Telkom ke InfraNexia?
Nilai transaksi dalam proses pemisahan aset dan bisnis ini mencapai sekitar Rp85,7 triliun.
Siapa saja yang dapat memanfaatkan infrastruktur jaringan InfraNexia?
Infrastruktur InfraNexia dapat dimanfaatkan oleh berbagai pelaku industri, seperti operator telekomunikasi, penyedia layanan internet, perusahaan cloud, hingga pengelola data center.
Bagaimana InfraNexia mempersiapkan jaringannya untuk masa depan?
InfraNexia menempatkan infrastrukturnya sebagai AI Ready Infrastructure yang terbuka, serta mempercepat modernisasi operasi melalui otomasi, integrasi sistem, dan pengembangan kapabilitas autonomous network.
Hani Nur Fajrina
Jurnalis



