Inovasi Anak SD Asal Surabaya, Ciptakan Teknologi Deteksi Sesak Nafas
Empat siswi SD Muhammadiyah 16 Surabaya meraih medali perak di Jepang dengan inovasi 'ASEK 2.0', alat deteksi sesak napas dini.

Highlight Artikel
- Empat siswi SD Muhammadiyah 16 Surabaya meraih medali perak di Jepang dengan inovasi 'ASEK 2.0'.
- ASEK 2.0 adalah alat deteksi sesak napas dini yang terinspirasi dari pengalaman kehilangan teman.
- Alat ini mampu terkoneksi secara online dan memantau pola pernapasan pengguna secara real-time.
- Mereka berkompetisi melawan peserta dari berbagai tingkatan, termasuk peraih gelar doktor, dan berhasil membawa pulang penghargaan.
Daftar Isi
Adalah Leanna, Noura Malia, Queenalesha, dan Nasyitha dari Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya yang berhasil membawa nama Indonesia diakui di skala internasional berkat inovasi mereka bernama ‘ASEK 2.0 (Shortness of Breath Detector)’.
Alat yang bisa mendeteksi sesak napas semenjak dini ini
berhasil meraih medali perak Design Idea and Invention Expo pada Juli 2026
lalu.
Bagaimana proses anak-anak ini menciptakan teknologi
tersebut dan apa kisah dibaliknya?
Inspirasi di Balik Penemuan ASEK 2.0
Inovasi ASEK 2.0 ternyata tidak lahir begitu saja. Keempat
siswa tersebut mendapatkan inspirasi dari pengalaman kehilangan seorang teman
berkebutuhan khusus yang meninggal dunia akibat pneumonia.
Kondisi teman yang terlambat diketahui karena mengalami
kesulitan dalam berkomunikasi ini mendorong mereka untuk menciptakan teknologi
yang bisa membantu anak-anak di luaran sana agar tidak bernasib serupa.
“Dulu kita mempunyai teman yang spesial. Dia meninggal
gara-gara pneumonia. Orang tuanya nggak tahu kalau dia punya pneumonia karena
dia autistik dan nggak bisa berkomunikasi dengan baik. Pas sudah tahu, sudah
telat. Jadinya, kita bikin (teknologi ini) biar gak kejadian lagi,” ujar salah
satu anggota tim.
Proses Pengembangan dan Dukungan
Sofyan Hidayat, Guru di SD Muhammadiyah 16 Surabaya yang
menjadi pembimbing mereka pun menerima ide tersebut dan membantu mereka agar
bisa menciptakan teknologi tersebut.
“Akhirnya kita terhubung dengan pihak-pihak yang bisa IT dan
jasa yang membantu mewujudkan ide-ide kita itu. Waktunya udah kita collab
dengan orang tua wali murid, mereka support, ya sudah akhirnya kita jalan kita
bikin proyek itu,” ujarnya kepada Uzone.id.
Melihat komitmen 4 anak ini dalam menciptakan teknologi yang
bisa membantu anak lainnya, Sofyan pun mengikutsertakan inovasi yang mereka
ciptakan ke ajang kompetisi regional sampai akhirnya ke Jepang.
Perjalanan mereka tidak selalu mulus dan singkat, Sofyan menjelaskan bahwa proyek ini sudah dikerjakan semenjak mereka kelas 4 dan berlanjut hingga ke tahun selanjutnya.
Prototipe pertama mereka dibuat dalam waktu sekitar dua
bulan, sebelum kemudian dikembangkan kembali menjadi versi yang lebih
canggih.
Meski kini berhasil membuat perangkat berbasis teknologi,
mereka mengaku awalnya tidak memiliki pengalaman di bidang elektronik. Masing-masing anggota kemudian mengambil peran sesuai dengan minatnya.
Ada yang fokus membuat materi presentasi, ada yang
mengembangkan aplikasi, sementara proses coding dan pembuatan alat dilakukan
secara bersama-sama.
Fitur dan Cara Kerja ASEK 2.0
Alat ASEK 2.0 adalah upgrade dari ASEK versi awal dimana di
versi sebelumnya, alat ini belum bisa terkoneksi secara online. Namun, di versi
terbaru, alat ini bisa terkoneksi dengan internet dan bisa terbaca oleh
aplikasi.
Dalam versi terbaru yang dibawa ke Jepang, alat tersebut
telah mengalami sejumlah pengembangan dibandingkan prototipe pertama. Alat ini
bisa terhubung ke WiFi dan aplikasi untuk membantu memantau data pernapasan
pengguna.
Untuk cara kerjanya, alat ini menggunakan sensor untuk
memantau pola pernapasan. Jika pola napas terdeteksi terlalu cepat atau terlalu
lambat, alat akan memberikan peringatan melalui buzzer dan menampilkan
hasilnya.
“Pertama alatnya connect ke WiFi. Kalau enggak connect, nanti offline. Kalau connect, online. Bedanya, kalau online datanya bisa tersimpan di aplikasi kita. Kalau offline, enggak tersimpan,” jelas mereka.
Sebelum menggunakan alat tersebut, pengguna diminta untuk
memilih kategori usia. Setelah selesai, alat kemudian bisa digunakan selama
kurang lebih satu menit untuk mengukur nafas penggunanya.
Jika frekuensi pernapasan terdeteksi berada di luar
rata-rata, perangkat akan memberikan peringatan melalui buzzer dan menampilkan
informasi mengenai jumlah pernapasan pengguna.
“Kalau nafasnya terlalu banyak atau terlalu sedikit
dibandingkan rata-ratanya, nanti akan ada buzzer. Terus nanti ditunjukkan
berapa kali kamu bernapas,” tambah Sofyan.
Perjalanan Menuju Kompetisi Internasional di Jepang
Setelah dirasa maksimal dengan berbagai persiapan dan
perlengkapan fitur yang memadai, ASEK 2.0 pun dibawa ke kompetisi
internasional di Jepang.
Keempat siswi ini melakukan berbagai persiapan mulai dari
alat, latihan presentasi, bahasa Inggris, hingga menyiapkan perlengkapan.
DI Jepang, anak-anak ini berkompetisi dengan peserta dari
berbagai latar belakang pendidikan. Mereka bahkan bertemu dengan peserta dari
tingkat SMP, SMA, universitas, hingga peserta yang telah memiliki gelar doktor
dan PhD.
Namun, hal tersebut tidak membuat mereka gentar. Anak-anak
ini justru datang dengan kepala tegak untuk menunjukkan inovasi yang sudah
mereka siapkan selama bertahun-tahun.
“Kita siapin booth kita. Ini itu kita siapin supir-supir
kita. Wayang. Wayang sama bookmark. Terus habis itu nunggu juri. Tapi juri
pertama memang lama banget,” cerita salah satu dari mereka.
Dengan semangat, anak-anak ini menghadapi dan menjelaskan
teknologi tersebut kepada para juri. Hingga akhirnya, mereka mendapatkan pujian
dari masing-masing penilai, termasuk pujian akan cara mereka presentasi.
Kemenangan dan Dampak bagi Masa Depan
Hasilnya benar-benar di luar dugaan. Tim berhasil membawa
pulang medali perak dari Jepang. Menariknya, penghargaan di sana nggak
diberikan lewat seremoni di atas panggung, tapi langsung diletakkan di booth
masing-masing.
“Untuk hasilnya, kita benar-benar nggak nyangka dapat silver
medal. Karena waktu saya datang, karena di Jepang kan beda. Sistemnya nggak awarding
yang naik atas panggung. Nggak, jadi ditaruh di booth kita. Jadi ada map, ada
dua sertifikat. Satu, participation, dan satunya award, medal award,” mereka.
Orang tua mereka pun mengaku tidak menyangka dengan
pencapaian tersebut. Saat hasil kompetisi dibuka, mereka mengetahui tim
tersebut mendapatkan penghargaan medali perak.
“Ketika dibuka,
ternyata ada dua sertifikat. Alhamdulillah. Di mana yang kakak-kakak
sebelahnya itu ada yang nggak dapat, ada yang bronze. Kita harus senang karena
alhamdulillah dapat silver,” kata Ira, ibu salah satu murid.
Kemenangan mereka di Jepang bukan akhir, setelah membawa
pulang medali perak tersebut, empat anak ini justru semakin tertarik untuk
menciptakan inovasi baru.
Mereka bahkan sudah memiliki grup diskusi yang kini berisi
lebih banyak orang dan mulai membicarakan ide-ide proyek berikutnya.
“Mereka ingin mengembangkan alatnya yang sebelumnya. Dan
juga ternyata mereka itu mulai kepikiran untuk bikin inovasi-inovasi baru. Jadi
saya tuh nggak sengaja waktu itu ya ngeliat mereka itu lagi diskusi,” ujar
Arfa, ibu murid lainnya.
Melihat kegigihan Leanna, Noura, Queenalesha, dan Nasyitha
beserta guru dan orang tua mereka membuktikan bahwa Indonesia mampu menciptakan
inovasi yang sejajar dengan negara maju lainnya.
Tidak hanya membawa pulang medali perak dari Jepang, ke-4
anak ini juga membawa kebanggaan serta harapan bagi anak-anak lainnya untuk
terus bermimpi dan berusaha untuk mewujudkan impian mereka.
FAQ Artikel
Apa itu ASEK 2.0?
ASEK 2.0 (Shortness of Breath Detector) adalah inovasi alat deteksi sesak napas dini yang diciptakan oleh empat siswi SD Muhammadiyah 16 Surabaya. Alat ini merupakan pengembangan dari versi sebelumnya yang kini bisa terkoneksi secara online.
Siapa saja penemu ASEK 2.0?
Penemu ASEK 2.0 adalah Leanna, Noura Malia, Queenalesha, dan Nasyitha, empat siswi dari Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya.
Apa inspirasi di balik penemuan ASEK 2.0?
Inspirasi penemuan ASEK 2.0 berasal dari pengalaman kehilangan seorang teman berkebutuhan khusus yang meninggal dunia akibat pneumonia karena kondisinya terlambat diketahui dan sulit berkomunikasi.
Penghargaan apa yang diraih ASEK 2.0 di Jepang?
ASEK 2.0 berhasil meraih medali perak dalam ajang Design Idea and Invention Expo yang diselenggarakan di Jepang pada Juli 2026.
Bagaimana cara kerja ASEK 2.0?
ASEK 2.0 menggunakan sensor untuk memantau pola pernapasan. Jika pola napas terdeteksi terlalu cepat atau terlalu lambat, alat akan memberikan peringatan melalui buzzer dan menampilkan hasilnya. Versi 2.0 juga bisa terkoneksi ke WiFi dan aplikasi untuk menyimpan data secara online.
Apa rencana ke depan para inovator ASEK 2.0?
Setelah kemenangan ini, mereka semakin tertarik untuk mengembangkan alat ASEK 2.0 ke versi yang lebih baik dan juga mulai memikirkan serta mendiskusikan ide-ide proyek inovasi baru lainnya.

