Iran Siapkan Rencana Serang 7 Kabel Internet Bawah Laut di Selat Hormuz
Iran mengancam menyerang tujuh kabel internet bawah laut di Selat Hormuz dan infrastruktur digital AS di Teluk jika diserang.

Foto ilustrasi: AI Generated
Highlight Artikel
- Iran mengancam akan menyerang tujuh kabel komunikasi internet bawah laut di Selat Hormuz jika diserang AS dan Israel.
- Serangan ini juga akan diikuti upaya menghambat perbaikan kabel untuk memperpanjang gangguan komunikasi.
- Dampak serangan terhadap internet global diperkirakan terbatas, namun dapat mengganggu aktivitas digital regional seperti transaksi keuangan dan cloud computing.
- Iran juga menargetkan infrastruktur digital AS di kawasan Teluk, termasuk pusat data dan fasilitas kecerdasan buatan (AI).
Daftar Isi
Uzone.id – Iran dikabarkan telah menyiapkan rencana untuk menyerang tujuh kabel komunikasi internet bawah laut di Selat Hormuz jika Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali melancarkan serangan terhadap negara tersebut.
Salah satu pejabat keamanan Iran yang tak mau disebut namanya mengatakan, Iran juga berencana menghambat proses perbaikan kabel setelah serangan terjadi. Langkah ini ditujukan untuk memperpanjang gangguan komunikasi, termasuk koneksi internet, di kawasan tersebut.
"Jika Iran diserang, tidak akan ada lagi garis merah. Mulai dari kabel bawah laut hingga pangkalan militer, termasuk yang beroperasi secara rahasia," ujar salah satu pejabat tersebut kepada kantor berita Reuters, dikutip hari ini, Senin (25/10).
Ia juga memperingatkan Washington agar tidak bermain api. Menurutnya, Iran memiliki akses penuh terhadap kabel-kabel bawah laut di kawasan itu dan dapat dengan mudah menghancurkannya.
Ancaman tersebut sejalan dengan pernyataan Yadollah Javani selaku Wakil Kepala Urusan Politik dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (Iran’s Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC).
Pada Rabu lalu (21/10), ia mengatakan Iran bisa menargetkan tujuh kabel internet utama di bawah Selat Hormuz jika infrastruktur Iran diserang.
Serangan kabel internet di Selat Hormuz bisa hambat apa saja?
Seperti diketahui, Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan kawasan Teluk dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Selain penting bagi perdagangan energi dunia, kawasan ini juga dilintasi infrastruktur komunikasi yang menghubungkan berbagai negara.
Menurut International Telecommunication Union (ITU), badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sekitar 99 persen lalu lintas internet global melewati kabel bawah laut.
Meski begitu, dampak serangan terhadap internet global diperkirakan relatif terbatas jika hanya menyasar kabel di Selat Hormuz.
Alan Mauldin, direktur riset perusahaan riset telekomunikasi TeleGeography, mengatakan kurang dari 1 persen kapasitas bandwidth internasional melewati selat tersebut.
Namun, pemutusan beberapa kabel sekaligus tetap berpotensi memperlambat layanan internet dan mengganggu berbagai aktivitas digital, mulai dari transaksi keuangan, perdagangan elektronik, hingga layanan komputasi awan atau cloud computing.
Besarnya dampak akan bergantung pada kemampuan operator mengalihkan lalu lintas data ke jalur lain serta kapasitas jaringan alternatif yang tersedia.
Proses pemulihan juga berpotensi menghadapi kendala jika konflik militer kembali pecah. Risiko keamanan, kenaikan biaya asuransi, serta sulitnya memperoleh izin untuk memasuki perairan teritorial dapat memperpanjang waktu perbaikan kabel.
Iran juga ancam infrastruktur digital AS
Ancaman terhadap kabel internet bawah laut menjadi bagian dari peringatan Iran bahwa negara tersebut akan memberikan respons lebih keras jika kembali menghadapi serangan militer AS.
Pejabat senior Iran, Mohsen Rezaei, sebelumnya memperingatkan bahwa infrastruktur digital yang terkait dengan AS di kawasan Teluk, termasuk pusat data dan fasilitas kecerdasan buatan (AI), bisa menjadi sasaran dalam konflik berikutnya.
Salah satu pejabat keamanan Iran juga menyinggung investasi besar negara-negara Teluk dalam infrastruktur teknologi. Menurutnya, negara-negara tersebut seharusnya meminta pertanggungjawaban pihak Washington, bukan Teheran, jika kabel bawah laut mengalami kerusakan.
Negara-negara Teluk selama ini menggelontorkan investasi besar untuk mengembangkan sektor teknologi dan membangun pusat AI berskala global. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi mereka untuk mengurangi ketergantungan pada minyak sekaligus memperkuat hubungan dengan perusahaan teknologi AS.
Pada Maret lalu, serangan Iran dilaporkan menghantam langsung dua fasilitas Amazon Web Services (AWS) di Uni Emirat Arab (UEA) dan merusak infrastruktur di dekat salah satu fasilitasnya di Bahrain.
Di tengah konflik yang sama, IRGC juga menyebut sejumlah perusahaan teknologi AS, termasuk Microsoft, Google, Apple, dan Nvidia, sebagai target yang sah.
Laut merah juga berpotensi jadi titik rawan
Selain Selat Hormuz, Laut Merah dinilai berpotensi menjadi titik yang lebih signifikan bagi gangguan kabel komunikasi bawah laut, terutama jika Iran mendapat dukungan dari kelompok Houthi yang bersekutu dengannya di Yaman.
Meski demikian, Iran belum secara terbuka menyatakan rencana untuk menargetkan kabel di Laut Merah.
Menurut Mauldin, jalur kabel di Laut Merah menghubungkan Eropa, Afrika Timur, dan Asia. Kapasitas yang melintasi kawasan tersebut mencakup sekitar 3 persen dari total permintaan data internasional global dan sekitar 10 persen lalu lintas data antarkawasan.
Untuk mengurangi risiko gangguan, jalur koneksi berbasis darat dapat menjadi alternatif bagi lalu lintas internet. Negara-negara Teluk dan perusahaan teknologi AS juga terus berinvestasi dalam infrastruktur tambahan untuk memperkuat ketahanan jaringan.
Microsoft, misalnya, berencana menginvestasikan lebih dari USD400 juta hingga 2030 untuk mengembangkan konektivitas bawah laut dan darat di kawasan Timur Tengah.
Hingga laporan Reuters diterbitkan, Departemen Luar Negeri AS dan Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait pernyataan para pejabat keamanan Iran tersebut. Negara-negara Teluk juga belum memberikan komentar langsung.
FAQ Artikel
Apa rencana Iran jika diserang Amerika Serikat dan Israel?
Iran telah menyiapkan rencana untuk menyerang tujuh kabel komunikasi internet bawah laut di Selat Hormuz dan menghambat proses perbaikannya jika kembali diserang AS dan Israel.
Mengapa Selat Hormuz menjadi target ancaman Iran?
Selat Hormuz adalah jalur strategis yang penting bagi perdagangan energi dunia dan dilintasi infrastruktur komunikasi bawah laut yang menghubungkan berbagai negara.
Bagaimana dampak serangan terhadap kabel di Selat Hormuz pada internet global?
Dampak terhadap internet global diperkirakan relatif terbatas karena kurang dari 1 persen kapasitas bandwidth internasional melewati selat tersebut. Namun, dapat memperlambat layanan internet dan mengganggu aktivitas digital regional.
Selain kabel bawah laut, apa lagi yang menjadi target ancaman Iran?
Infrastruktur digital yang terkait dengan AS di kawasan Teluk, termasuk pusat data, fasilitas kecerdasan buatan (AI), dan perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, Google, Apple, dan Nvidia.
Apakah ada titik rawan lain selain Selat Hormuz yang berpotensi menjadi target?
Laut Merah dinilai berpotensi menjadi titik yang lebih signifikan bagi gangguan kabel komunikasi bawah laut, terutama jika Iran mendapat dukungan dari kelompok Houthi di Yaman, meskipun Iran belum secara terbuka menyatakan rencana menargetkannya.
Hani Nur Fajrina
Jurnalis


