icon-category Auto

Jokowi ‘Presiden Otomotif’ Indonesia dan Ironi Kampanye Mobil Listriknya

  • 16 Sep 2022 WIB
  • Bagikan :

    Uzone.id - Jokowi adalah ‘Presiden Otomotif’ Indonesia. Selain memang sudah sering terlihat kecintaannya pada dunia otomotif, salah satu hobinya itu pun disalurkan sampai pada kebijakan kenegaraan.

    Kampanye terbaru ‘Presiden Otomotif’ kita ini bukan untuk Pemilu 2024 yang masih lama, tapi soal sat set sat set-nya beliau untuk menyegerakan kehidupan mobil listrik di Tanah Air.

    Jokowi sudah meminta jajarannya untuk mulai menggunakan mobil listrik dengan menerbitkan Instruksi Presiden No. 7 Tahun 2022. 

    BACA JUGA: Wuling Air ev Hadir di GIIAS Surabaya 2022, Harga Tembus Rp300 Juta

    Kebijakan itu menyoal Penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) sebagai Kendaraan Dinas Operasional dan/atau Kendaraan Perorangan Dinas Instansi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

    "Menteri Dalam Negeri untuk mendorong gubernur dan bupati/wali kota untuk menyusun dan menetapkan peraturan kepala daerah dalam rangka mendukung percepatan pelaksanaan program penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (battery electric vehicle) sebagai kendaraan dinas operasional dan/atau kendaraan perorangan dinas instansi pemerintahan daerah dan badan usaha milik daerah," bunyi instruksi Jokowi itu dikutip Uzone.id.

    Jokowi pun meminta Menteri BUMN Erick Thohir untuk menyediakan mobil listrik bagi pada bos-bos BUMN dan juga mengadakan program pengadaan mobil listrik untuk karyawan BUMN.

    Jokowi juga meminta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno untuk mendorong penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai oleh aparatur pembina program pariwisata setempat dalam rangka mendukung green tourism di destinasi pariwisata seluruh Indonesia.

    Bahkan, Lord Luhut sampai membeberkan akan melakukan pembatasan penjualan mobil bermesin BBM. Dalam akun instagramnya, dirinya meminta tim teknis agar menerapkan pembatasan penjualan kendaraan BBM.

    BACA JUGA: SUV Ferrari Purosangue Resmi Meluncur: Ini Spek dan Pesaingnya

    Begitulah Indonesia, begitu Presiden memberi instruksi, semua mendadak agresif, semua jadi sat set sat set, meski sayangnya, masih banyak pertimbangan dan kebutuhan lain untuk bisa mewujudkan era mobil listrik ini.

    Salah satu faktor penting pendukungnya adalah SPKLU, tempat pengecasan, yang sampai saat ini masih kurang agresif dari kampanye anjuran pemakaian mobil listriknya.

    Memang, Jokowi juga sudah mengintruksikan jajaran terkait untuk mempercepat dan memperbanyak pembangunan tempat-tempat pengisian baterai mobil listrik.

    Berdasarkan catatan Kementerian ESDM saat ini sudah ada lebih dari 300 unit SPKLU di 279 lokasi publik di Indonesia. Sementara SPBKLU atau battery swap station sudah tersedia sebanyak 369 unit. 

    Termasuk di antaranya SPKLU di destinasi pariwisata, misalnya dalam rangka Presidensi G20 telah dibangun 24 Charging Station di 17 Lokasi di Pulau Bali (2 di antaranya adalah unit Ultra Fast Charging 200 kW).

    Pemerintah sendiri memiliki peta jalan dengan rencana pembangunan SPKLU di 2.400 titik dan SPBKLU di 10 ribu titik sampai dengan tahun 2025.

    Potensial isu lain dari terlalu grabag-grubug-nya menerapkan era mobil listrik adalah terkait industri otomotif-nya itu sendiri. Saat ini, masih sedikit pabrikan yang sudah memulainya.

    Kebanyakan masih malu-malu untuk bergerak secepat instrukti Presiden. Entah karena masih ragu terkait minat warga membelinya atau ragu terkait ekosistem industri mobil bermesin bakar yang sudah mereka bangun puluhan tahun terakhir ini.

    BACA JUGA: Cek Harga Hyundai Stargazer di GIIAS Surabaya 2022

    Kebanyakan dari pabrikan pun hanya menjawab secara formalitas ketika di tanyakan kesiapan dan kemauannya menjual mobil listrik. “Apapun kebijakan pemerintah, kita pasti mendukung 100 persen,” begitu rata-rata jawaban mereka.

    Terakhir dan gak kalah penting, di tengah ingar-bingar kampanye ramah lingkungannya mobil listrik, ternyata tidak seramah lingkungan itu.

    Memang, mobilnya ramah lingkungan, namun proses pembuatannya dan juga produksi komponen-komponennya, seperti baterai, belum ramah lingkungan.

    Terkait proses produksi baterai, Indonesia memang berada di papan atas dalam hal kepemilikan sumber daya nikel sebagai bahan baku pembuatan baterai untuk kendaraan listrik.

    Pabrik Nikel terbesar di Pulau Obi yang dikelola PT Harita Nickel (Mongabay.co.id)

    Salah satu lokasi pabrik terbesar pengolahan nikel ada di pulau Obi, di Maluku Utara. Kalau kalian googling, pasti menemukan kalau pulau ini terkait identik dengan pengolahan industri nikel, salah satu yang terbesar.

    Pada prosesnya, dalam jangka panjang misalnya, bakal terjadi kondisi Jakarta yang hijau (karena warganya pakai mobil listrik), sementara kawasan pulau Obi lautnya jadi memerah karena tercemar proses pengolahan nikel.

    BACA JUGA: Mitsubishi Outlander PHEV Turun Harga, Solusi BBM Mahal?

    Terdengar klise, tapi seperti ini lah kondisi yang terjadi di Indonesia ketika hendak memulai sesuatu yang besar. Indah di lokasi dan kondisi yang biasa terlihat dunia global, namun rusak di pedalaman yang jarang terjamah pemberitaan.

    Tapi biar bagaimanapun, langkah Jokowi yang seolah menjelma jadi ‘Presiden Otomotif’ Indonesia layak di acungi jempol, karena kalau benar kejadian, Indonesia akan berubah dan mulai menjalankan era elektrifikasi kendaraan.

    VIDEO Mitsubishi Outlander PHEV, Solusi BBM Mahal:

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini