Kemenkeu Siapkan Sistem AI Khusus buat Lacak Kebocoran Pajak
Kementerian Keuangan menggunakan AI menganalisis data perdagangan ekspor-impor untuk menemukan pajak tak terbayar dan menekan kebocoran penerimaan negara.

Highlight Artikel
- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memanfaatkan teknologi AI untuk menutup celah kebocoran penerimaan negara dan menganalisis potensi pajak yang belum dibayar.
- AI akan mengolah data perdagangan dan aktivitas ekspor-impor dari Lembaga National Single Window (LNSW) yang sebelumnya belum terintegrasi optimal.
- Sistem AI ini mampu mendeteksi potensi kewajiban perusahaan yang belum dibayarkan dengan membandingkan data besar dengan dokumen pelaporan resmi seperti SPT.
- Teknologi ini juga diklaim dapat menelusuri kembali aktivitas ekonomi dan transaksi perusahaan dari tahun-tahun sebelumnya untuk meningkatkan akurasi perhitungan.
Uzone.id – Kementerian
Keuangan (Kemenkeu) mulai memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI)
untuk menutup rapat celah kebocoran penerimaan negara serta memudahkan
kementerian untuk menganalisa potensi pendapatan pajak yang belum dibayar.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan
bahwa pengolahan data secara manual maupun dengan program komputer biasa
dinilai belum cukup optimal untuk melihat potensi penerimaan negara.
Oleh karena itu, Kemenkeu mengembangkan aplikasi berbasis AI
untuk membantu proses analisis. Teknologi ini kemudian akan diintegrasikan
dengan berbagai data yang dimiliki oleh LNSW, dimana saat ini database yang
sudah dikumpulkan belum terintegrasi.
“Jadi, kita kembangkan di sini aplikasi menggunakan AI juga, untuk membantu para analis kita melihat potensi pendapatan yang mungkin diperoleh dengan perbaikan sistem. Dengan mengintegrasikan pemakaian semua data yang ada di LNSW,” ujar Purbaya, dikutip dari CNN Indonesia, Jumat, (11/09).
Salah satu kemampuan dari teknologi tersebut adalah untuk
mendeteksi lebih awal adanya potensi kewajiban perusahaan yang belum
dibayarkan. AI tersebut nantinya akan mengolah data dalam jumlah besar dan
memberikan sinyal jika menemukan indikasi yang dianggap janggal dalam aktivitas
perpajakan.
Data tersebut kemudian dapat dibandingkan dengan dokumen
pelaporan resmi perusahaan, termasuk Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) dan
dokumen pembayaran royalti.
Dengan cara ini, sistem dapat melihat apakah terdapat
perbedaan antara aktivitas ekonomi yang tercatat dengan kewajiban yang
dilaporkan perusahaan.
“Untuk betul-betul ke depan setiap perusahaan terdeteksi berapa potensi pembayaran kewajibannya yang kurang. Jadi segala potensi pajak, potensi juga yang bisa terdeteksi awal di sini. Memang hasilnya seperti itu, akurasi cukup tinggi,” ungkap Purbaya.
Selain mendeteksi potensi kewajiban yang kurang dibayar,
sistem yang kini dikembangkan diklaim bisa digunakan untuk menelusuri kembali
aktivitas ekonomi dan transaksi perusahaan dari tahun-tahun lalu atau tracking
back.
“Kegiatan seperti ini kan bisa untuk beberapa tahun ke
belakang. Kalau (transaksi) setahun lalu bisa kelihatan semua,” kata Purbaya.
Tracking dari tahun-tahun yang lalu ini bisa menjadi bahan
analisis sehingga akurasi perhitungan pun semakin presisi.
Lebih lanjut, Purbaya menegaskan bahwa pemerintah nantinya
akan melakukan pemantauan dengan lebih teliti untuk melihat potensi kewajiban
yang belum terpenuhi.
“Jadi ke depan nggak ada yang bisa main-main lagi. Kita akan
monitor itu dengan lebih teliti,” tegas Purbaya.
Saat ini pemerintah masih terus melakukan pemantauan secara
keseluruhan mengenai berapa banyak potensi penerimaan yang bisa ditemukan dari
hasil integrasi data tersebut. Setelah nama perusahaan diketahui, ia kemudian
akan meminta petugas pajak untuk menindak lanjuti.
FAQ Artikel
Apa tujuan Kementerian Keuangan menggunakan teknologi AI?
Kementerian Keuangan menggunakan AI untuk menutup celah kebocoran penerimaan negara, menganalisis potensi pendapatan pajak yang belum dibayar, serta memudahkan proses analisis data yang sebelumnya kurang optimal.
Data apa saja yang akan diolah oleh teknologi AI Kemenkeu?
AI akan mengolah data perdagangan dan aktivitas ekspor-impor yang dikelola oleh Lembaga National Single Window (LNSW). Data ini akan diintegrasikan karena sebelumnya belum terintegrasi secara optimal.
Bagaimana AI membantu mendeteksi potensi kebocoran penerimaan negara?
AI akan mengolah data dalam jumlah besar untuk mendeteksi indikasi janggal dalam aktivitas perpajakan atau potensi kewajiban perusahaan yang belum dibayarkan. Hasil analisis akan dibandingkan dengan dokumen pelaporan resmi seperti Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) dan dokumen pembayaran royalti.
Apakah sistem AI ini dapat menelusuri aktivitas ekonomi tahun-tahun sebelumnya?
Ya, sistem yang dikembangkan ini diklaim mampu menelusuri kembali aktivitas ekonomi dan transaksi perusahaan dari tahun-tahun lalu (tracking back), sehingga akurasi perhitungan dapat semakin presisi.

