Home
/
Digilife

Langit Indonesia ‘Memerah’, NASA Deteksi Karbon Monoksida Pekat

Langit Indonesia 'memerah' pada 14-16 Oktober 2026 menurut citra NASA, akibat konsentrasi karbon monoksida tinggi dari karhutla yang sulit dipadamkan.

Langit Indonesia ‘Memerah’, NASA Deteksi Karbon Monoksida Pekat

Bagikan :

Highlight Artikel

  • Langit Indonesia terlihat 'memerah' dalam citra satelit NASA (14-16 Oktober 2026) akibat konsentrasi karbon monoksida (CO) yang pekat dan tinggi.
  • Data konsentrasi CO berasal dari instrumen Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) pada satelit Aqua milik NASA, di mana warna merah tua mengindikasikan tingkatan sangat tinggi.
  • Karbon monoksida adalah gas berbahaya tanpa warna atau bau yang dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna, termasuk kebakaran hutan dan lahan.
  • Kebakaran lahan gambut, yang diperparah kekeringan, sangat sulit dipadamkan karena apinya dapat membara di bawah tanah dan terus berlanjut hingga hujan.

Uzone.id - Langit Indonesia terlihat ‘memerah’ dalam citra satelit terbaru NASA. Hampir seluruh wilayah Indonesia tertutup karbon monoksida (CO) pekat dengan konsentrasi tinggi pada periode 14-16 Oktober 2026. 

Citra tersebut bisa dilihat melalui platform Eyes on the Earth milik NASA. Situs ini dapat digunakan untuk memantau berbagai kondisi Bumi, termasuk suhu udara, curah hujan, sampai tingkat karbon monoksida. 

Citra NASA memperlihatkan sebagian besar langit Indonesia diselimuti warna merah tua, oranye, kuning, dan hijau. Warna-warna ini menunjukkan konsentrasi karbon monoksida, di mana merah tua berarti sangat tinggi tingkatannya. 

Data yang ditampilkan berasal dari instrumen Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) pada satelit Aqua milik NASA. Instrumen tersebut digunakan untuk mendeteksi konsentrasi serta memantau pergerakan karbon monoksida di atmosfer.

Dikutip dari situs resmi NASA, visualisasi ini berasal dari pengamatan selama tiga hari untuk mengurangi area kosong yang tidak terjangkau satelit. Dalam keterangannya, NASA juga menjelaskan bahwa AIRS melakukan pengukuran pada ketinggian sekitar 18.000 kaki atau 5,5 km di atas permukaan laut. 

Karbon monoksida merupakan salah satu gas yang dapat dihasilkan dari proses pembakaran tidak sempurna, termasuk kebakaran hutan dan lahan. Gas ini tidak memiliki warna maupun bau, namun berbahaya jika terhirup dalam jumlah yang tinggi.

Sebelumnya, instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) pada satelit Aqua milik NASA juga menangkap citra kebakaran lahan gambut di Indonesia pada 1 September 2026. 

Citra tersebut memperlihatkan asap tebal yang berasal dari banyak titik kebakaran di Pulau Kalimantan. Titik-titik itu menunjukkan anomali panas yang terdeteksi oleh MODIS dan mengindikasikan adanya kebakaran.

NASA juga mengatakan, Indonesia tengah mengalami kekeringan parah dan meluas. Sebagian kebakaran yang terjadi merupakan kebakaran lahan gambut tropis yang dapat membara secara perlahan pada suhu rendah.

Apinya bukan cuma menyebar di permukaan, tetapi bisa masuk sampai ke lapisan bawah tanah. Hal tersebut membuat kebakaran lahan gambut sulit dipadamkan dan dapat terus membara sampai hujan kembali turun yang diperkirakan pada bulan Oktober atau November. 

Selain karbon monoksida, emisi yang dilepaskan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini juga mencakup partikel halus, sulfur dioksida, karbon organik, sampai metana. Apalagi, NASA menyebut bahwa Indonesia memiliki sekitar 36 persen dari keseluruhan lahan gambut tropis di seluruh dunia. 

FAQ Artikel

Apa yang menyebabkan langit Indonesia terlihat 'memerah' dalam citra satelit NASA?

Langit Indonesia terlihat 'memerah' karena tertutup karbon monoksida (CO) pekat dengan konsentrasi tinggi, yang terdeteksi oleh citra satelit terbaru NASA pada periode 14-16 Oktober 2026.

Apa itu karbon monoksida (CO) dan mengapa berbahaya?

Karbon monoksida adalah gas tanpa warna maupun bau yang dihasilkan dari proses pembakaran tidak sempurna, seperti kebakaran hutan dan lahan. Gas ini berbahaya jika terhirup dalam jumlah tinggi.

Mengapa kebakaran lahan gambut di Indonesia sulit dipadamkan?

Kebakaran lahan gambut sulit dipadamkan karena apinya tidak hanya menyebar di permukaan, tetapi juga bisa masuk sampai ke lapisan bawah tanah dan membara secara perlahan pada suhu rendah, terutama saat kekeringan parah.

Selain karbon monoksida, emisi apa lagi yang dilepaskan akibat karhutla di Indonesia?

Selain karbon monoksida, emisi yang dilepaskan akibat karhutla juga mencakup partikel halus, sulfur dioksida, karbon organik, dan metana.

Muhammad Faisal Hadi Putra

Muhammad Faisal Hadi Putra

Jurnalis

Suka ngulik teknologi, gadget, dan game. Buat saya, yang menarik bukan cuma spesifikasi dan fitur, tapi juga pengalaman saat mencobanya langsung.
Lihat semua artikel →
populerRelated Article