Home
/
Digilife

OpenAI Sebut AI Bisa Sumbang Rp6,46 Kuadriliun Buat Ekonomi RI

OpenAI memprediksi kontribusi AI ke ekonomi Indonesia mencapai USD 366 miliar pada 2030, namun adopsi dasarnya masih terkendala empat hambatan utama.

OpenAI Sebut AI Bisa Sumbang Rp6,46 Kuadriliun Buat Ekonomi RI

Bagikan :

Highlight Artikel

  • AI diproyeksikan menyumbang USD 366 miliar (Rp 6,46 kuadriliun) bagi perekonomian Indonesia pada tahun 2030.
  • Pemanfaatan AI di Indonesia saat ini masih didominasi fitur dan aktivitas dasar, belum mencapai tingkat lanjutan.
  • Empat hambatan utama adopsi AI lanjutan adalah fondasi digital, keterampilan/talenta, kapasitas inovasi, dan kejelasan regulasi.
  • OpenAI merekomendasikan penguatan ekosistem AI dan pembangunan tenaga kerja yang siap menghadapi era AI.

Uzone.id — Penggunaan teknologi AI (Artificial Intelligence) di Indonesia terus meluas secara masif. Bahkan, laporan terbaru dari OpenAI mengungkap bahwa AI bisa menyumbang nilai ekonomi hingga USD366 miliar atau sekitar Rp6,46 kuadriliun di tahun 2030 mendatang.

Prediksi ini disampaikan dalam laporan OpenAI berjudul “Closing Indonesia’s AI Capability Gap” yang dirilis pada Kamis, (03/09).

“Studi terbaru dari Kearney memperkirakan bahwa AI bisa memberikan kontribusi sebesar USD366 miliar bagi perekonomian Indonesia pada tahun 2030,” kata Ed Ratcliffe selaku Executive Director Southeast Asia Public Policy Institute di acara Media Briefing OpenAI bersama awak media.

Angka tersebut lebih dari sepertiga total kontribusi AI yang diproyeksikan terhadap perekonomian Asia Tenggara di tahun yang sama.

Tapi, angka tersebut bukan perkiraan pasti dan bergantung pada hal-hal pendukung agar bisa tercapai. Untuk merealisasikan peluang sebesar ini, Ratcliffe menyebut perlu adanya adopsi dan implementasi teknologi AI yang lebih canggih di sektor perekonomian.

“Hal ini bergantung pada penggunaan alat-alat AI yang lebih kompleks dan canggih,” tambahnya.

Sayangnya, saat ini penggunaan AI di Indonesia dinilai masih belum terlalu dalam dan hanya sebatas fitur-fitur dasar saja, seperti untuk aktivitas yang cenderung sederhana. Misalnya di perusahaan, teknologi AI kebanyakan digunakan hanya di level operasional dasar saja seperti untuk membuat dokumen, email dan lainnya.

“Hanya 11 persen saja yang menggunakan alat AI di level menengah dan hanya 10 persen yang memanfaatkan AI secara transformasional,” tuturnya.

Hambatan Adopsi AI di Indonesia

Laporan OpenAI mencatat ada empat hambatan utama yang perlu diatasi agar pemanfaatan AI di bisa lebih advanced.

Pertama adalah fondasi digital. Banyak perusahaan di Indonesia yang masih belum memiliki infrastruktur cloud, sistem digital, dan pengelolaan data yang memadai untuk memanfaatkan AI secara maksimal.



Kedua adalah keterampilan dan talenta. Perusahaan membutuhkan lebih banyak pekerja yang mampu menggunakan AI secara efektif, sekaligus spesialis yang dapat mengembangkan dan menerapkan teknologi AI tingkat lanjut.

Ketiga adalah kapasitas inovasi. Sejumlah proyek AI yang punya potensi besar di Indonesia masih kesulitan berkembang dari tahap pilot menjadi implementasi berskala besar. Keempat adalah kejelasan regulasi. Ketidakjelasan aturan membuat sebagian perusahaan lebih berhati-hati dalam menerapkan model bisnis berbasis AI.

Rekomendasi OpenAI untuk Pemerintah

Agar proyeksi USD366 miliar tersebut tercapai, OpenAI pun memberikan beberapa rekomendasi bagi pemerintah. Salah satunya, pemerintah dinilai perlu memperkuat ekosistem AI dari sisi infrastruktur, talenta, inovasi, hingga regulasi.

Selain itu, diperlukan dukungan yang lebih luas untuk mengakses alat-alat kecerdasan buatan (AI).

“Hal ini dapat diwujudkan melalui program-program dengan dukungan finansial untuk membantu perusahaan mengadopsi langganan AI, mengembangkan kasus penggunaan berbasis API, dan mengakses layanan cloud,” jelas Ratcliffe.



Sementara untuk mengatasi kurangnya talenta AI yang mumpuni, OpenAI merekomendasikan pemerintah Indonesia untuk membangun tenaga kerja yang siap menghadapi era AI. 

“Pertama, Indonesia dapat meningkatkan keterampilan pekerja yang sudah bekerja dan melatih ulang pekerja yang saat ini sedang menganggur

Indonesia dinilai perlu meningkatkan kemampuan pekerja melalui upskilling dan reskilling, memperluas sertifikasi bagi spesialis dan developer AI, serta memberikan insentif bagi perusahaan yang merekrut lebih banyak talenta AI.

Tantangan lainnya adalah bagaimana Indonesia bisa mengubah penggunaan AI dari yang sekadar membantu pekerjaan dasar menjadi teknologi yang benar-benar meningkatkan produktivitas dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.

Dengan memenuhi rintangan tersebut, bukan tidak mungkin proyeksi ekonomi digital tersebut bisa tercapai dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara Asia Tenggara dengan nilai ekonomi paling besar di sektor teknologi AI.

 

FAQ Artikel

Berapa potensi kontribusi AI terhadap ekonomi Indonesia pada tahun 2030?

Laporan OpenAI dan Kearney memprediksi AI dapat menyumbang USD366 miliar atau sekitar Rp6,46 kuadriliun bagi perekonomian Indonesia pada tahun 2030.

Bagaimana tingkat pemanfaatan AI di Indonesia saat ini?

Pemanfaatan AI di Indonesia dinilai masih belum terlalu canggih, umumnya hanya sebatas fitur dasar untuk aktivitas sederhana seperti membuat dokumen atau email. Hanya 11% perusahaan menggunakan AI di level menengah dan 10% secara transformasional.

Apa saja hambatan utama yang perlu diatasi untuk adopsi AI yang lebih maju?

OpenAI mengidentifikasi empat hambatan utama: fondasi digital yang belum memadai, kurangnya keterampilan dan talenta AI, kapasitas inovasi yang rendah dalam skala besar, serta ketidakjelasan regulasi yang membuat perusahaan berhati-hati.

Apa rekomendasi OpenAI untuk pemerintah Indonesia terkait pengembangan AI?

OpenAI merekomendasikan pemerintah untuk memperkuat ekosistem AI (infrastruktur, talenta, inovasi, regulasi), memberikan dukungan finansial untuk adopsi alat AI, serta membangun tenaga kerja siap AI melalui upskilling, reskilling, sertifikasi, dan insentif.

Vina Insyani

Jurnalis

Lihat semua artikel →
populerRelated Article