Prabowo Siapkan Skema Tukar Tambah Motor Listrik, Ini Kata Asosiasi
Presiden Prabowo gencarkan transisi motor bensin ke listrik, tawarkan insentif tukar tambah dan kredit. Pengguna diklaim hemat 50-70%.

Highlight Artikel
- Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan transisi dari motor bensin ke motor listrik.
- Pemerintah menyiapkan berbagai skema insentif, termasuk penurunan bunga cicilan, opsi kredit tanpa uang muka (DP), dan program tukar tambah.
- Prabowo optimis penggunaan motor listrik dapat menghemat pengeluaran harian minimal 50%, bahkan hingga 70%.
- Aismoli mendukung skema tukar tambah, namun menekankan agar motor bensin lama yang ditukar harus di-scrapping dan tidak dijual kembali untuk mengurangi konsumsi BBM.
Uzone.id - Presiden Prabowo Subianto saat ini tengah gencar mendorong percepatan transisi dari motor bensin ke motor listrik. Bahkan pemerintah mau menyiapkan berbagai skema insentif, mulai dari rencana penurunan bunga cicilan sampai opsi kredit tanpa uang muka (DP).
Salah satu program yang paling disorot adalah rencana skema tukar tambah. Jadi, bagi pemilik motor bensin yang ingin beralih ke motor listrik, nantinya akan ada jalur yang lebih mudah untuk melakukan penggantian kendaraan.Presiden Prabowo sendiri punya pandangan optimis soal peralihan ini. Menurutnya, menggunakan motor listrik memberikan keuntungan finansial yang nyata bagi penggunanya sehari-hari.
"Kita tadi hitung memakai motor listrik dibandingkan pakai motor bensin, penghematannya minimal 50 persen, pengeluaran kalian untuk sehari-hari bergerak itu minimal 50 persen, bahkan bisa sampai 70 persen di ujungnya. Ya, dan nanti mungkin, karena ini sudah kebutuhan dunia. Jadi ada namanya carbon tax. Di kota-kota besar, seperti di Beijing, enggak bisa motor bensin masuk. Jadi ini warning saja, yang, yang masih masih nekat gandrung dengan motor bensin, ya," kata Prabowo belum lama ini.
Menanggapi rencana ini, Presiden juga memastikan bahwa proses peralihannya nanti akan dibuat senyaman mungkin bagi pemilik motor lama.
"Tapi, tenang saja. Kita ada skema-skema nanti. Yang sudah terlanjur punya motor bensin, nanti kita pikirkan bagaimana kita bisa, bisa tukar tambah. Kau setor motor yang lama dapat motor baru. Ya, tambah dikit, lah. Iya, kan? Kalau TNI Polri maunya enggak bayar saja terus," ungkap Prabowo lagi.
Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli), Budi Setiyadi, menyambut baik rencana ini.
Menurutnya, skema tukar tambah ini punya dua fungsi krusial, yakni memudahkan konsumen untuk ganti kendaraan sekaligus menjadi instrumen pemerintah dalam mengurangi populasi kendaraan bensin secara bertahap.
Tentu saja, kunci keberhasilan program ini terletak pada proses penilaian harga. Semakin jelas sistem taksiran harga motor lama, konsumen akan semakin mudah menghitung berapa selisih biaya yang perlu disiapkan untuk membawa pulang motor listrik baru.
"Jadi artinya motor yang lama itu mungkin dihargai berapa, kemudian harga motor lama itu diberikan untuk motor listrik," kata Budi dikutip dari CNBC (24/8).
Namun, ada catatan penting dari Aismoli. Pengelolaan motor lama yang sudah masuk program trade-in tidak boleh sembarangan.
Kendaraan tersebut harus dipastikan benar-benar berhenti beroperasi agar tujuan utama pemerintah, yaitu mengurangi konsumsi BBM tetap tercapai.
Menurutnya jangan sampai motor lama justru dilempar kembali ke pasar bekas yang membuat konsumsi BBM nasional tetap sama.
"Tapi motor lamanya itu tidak dijual lagi, mungkin langsung di-scrapping gitu, tidak boleh digunakan lagi gitu karena memang kan intinya untuk mengganti motor lama dengan motor yang baru untuk supaya nanti ada pengurangan subsidi BBM," tukas Budi.
.jpg%3Fdownload%3Dfalse%26amp%3Bresolution%3DHD&w=256&q=75)
.jpg%3Fdownload%3Dfalse%26amp%3Bresolution%3DHD&w=256&q=75)