Raksasa Kripto Binance Kebobolan, Aset Rp113,4 Triliun Raib Dicuri
Binance diretas USD6,3 miliar, USD3 miliar diamankan; diduga peretas Korut melalui laptop karyawan, namun Binance menjamin dana pengguna aman.

Highlight Artikel
- Bursa kripto Binance diretas, mengakibatkan kerugian USD6,3 miliar (Rp113,4 triliun) aset pengguna.
- Binance berhasil mengamankan sekitar USD3 miliar, namun sebagian dana masih dikuasai peretas.
- Peretasan bermula dari laptop karyawan yang disusupi, namun merupakan serangan kompleks dengan beberapa pelaku dan mekanisme penghapus jejak.
- Binance telah menyiapkan dana USD6,34 miliar untuk menanggung kerugian dan menduga kelompok peretas Korea Utara sebagai pelakunya.
Uzone.id— Bursa
mata uang kripto terbesar di dunia, Binance, dilaporkan mengalami peretasan
besar yang membuat aset digital pengguna senilai USD6,3 miliar atau sekitar
Rp113,4 triliun diambil alih oleh para pelaku.
Binance mengklaim telah berhasil mengamankan sekitar USD3
miliar atau setara Rp54 triliun dari total aset yang terdampak. Tapi, sebagian
dana lainnya masih berada dalam penguasaan peretas yang identitasnya belum
diketahui secara resmi.
Mengutip laporan BBC News, Sabtu, (31/10), serangan ini
ternyata bermula dari laptop milik salah satu karyawan mereka yang berhasil
disusupi oleh para penjahat siber.
Perangkat tersebut diduga menjadi pintu masuk bagi pelaku untuk melakukan penarikan aset tanpa izin.
Tapi ternyata, penyelidikan lebih lanjut menunjukkan kalau
serangan ini cukup kompleks dan tidak hanya melibatkan satu titik
kelemahan keamanan saja.
Co-CEO Binance, Richard Teng, mengatakan peretasan itu
melibatkan lebih dari satu orang. Pelaku juga menggunakan mekanisme khusus
untuk menghapus perangkat dan jejak aktivitas mereka selama serangan
berlangsung.
“Serangan ini tidak dilakukan oleh satu orang,” kata Teng
dikutip dari BBC News.
Ia juga mengungkapkan bahwa pelaku menggunakan mekanisme
penghancuran otomatis yang menghapus perangkat dan jejak aktivitas mereka.
“Mereka menggunakan mekanisme penghancuran otomatis yang
menghancurkan perangkat dan jejak aktivitas saat serangan berlangsung,” ujar
Teng.
Terkait dana yang masih ‘disekap’ oleh para pelaku, Binance menyatakan telah menyiapkan dana perusahaan lebih dari USD6,34 miliar atau sekitar Rp114,12 triliun untuk mengantisipasi kerugian akibat insiden tersebut.
Perusahaan juga berupaya mengamankan aset yang dicuri dengan
melakukan pembelian token secara aktif dan memastikan bahwa pengguna tidak
perlu khawatir terhadap keamanan dana mereka.
“Uang Anda aman, dan kami akan menanggung setiap kerugian,”
demikian pernyataan Binance yang dikutip BBC News.
Hingga saat ini, penyelidikan terus dilakukan bahkan
melibatkan Dinas Rahasia AS. Mereka menyebut bahwa saat ini pihaknya terus
"bekerja tanpa henti" "untuk mengidentifikasi, membekukan,
melacak, dan memulihkan" dana yang dicuri.
Terkait pelakunya sendiri, sejumlah perusahaan analisis
blockchain menduga kelompok peretas Korea Utara berada di balik serangan
tersebut.
Dugaan ini muncul setelah ditemukan kemiripan pola dengan
sejumlah insiden peretasan sebelumnya yang dikaitkan dengan negara tersebut.
Perusahaan analisis blockchain Chainalysis menyatakan
memiliki tingkat keyakinan tinggi bahwa peretas Korea Utara terlibat dalam
insiden ini.
Dugaan yang sama juga disampaikan TRM Labs. Perusahaan itu
menemukan kemiripan dengan pola serangan yang pernah terjadi sebelumnya,
termasuk peretasan bursa kripto Bybit pada 2025 yang menyebabkan kerugian
sekitar USD1,5 miliar atau Rp27 triliun.
FAQ Artikel
Berapa kerugian total yang dialami Binance akibat peretasan ini?
Total aset digital pengguna yang diambil alih oleh peretas mencapai USD6,3 miliar atau sekitar Rp113,4 triliun.
Apakah dana pengguna di Binance aman setelah insiden peretasan?
Binance menyatakan bahwa "Uang Anda aman, dan kami akan menanggung setiap kerugian". Mereka telah menyiapkan dana perusahaan lebih dari USD6,34 miliar untuk mengantisipasi kerugian.
Apa pemicu awal peretasan Binance?
Serangan ini bermula dari laptop salah satu karyawan Binance yang berhasil disusupi. Namun, penyelidikan lebih lanjut menunjukkan bahwa serangan ini kompleks dan tidak hanya melibatkan satu titik kelemahan keamanan saja.
Siapa yang diduga menjadi pelaku peretasan Binance ini?
Beberapa perusahaan analisis blockchain seperti Chainalysis dan TRM Labs menduga kelompok peretas Korea Utara berada di balik serangan ini, berdasarkan kemiripan pola dengan insiden peretasan sebelumnya.
Vina Insyani
Jurnalis

