Home
/
Gadget

Review iPhone Duo: Baru Buka Layar, Sudah Terasa Bedanya

Uzone.id mengulas review lengkap iPhone Duo, HP lipat Apple berlayar nano-texture, ditenagai chip A20 Pro, serta fitur Split View.

Review iPhone Duo: Baru Buka Layar, Sudah Terasa Bedanya

Bagikan :

Highlight Artikel

  • iPhone Duo menghadirkan desain HP lipat solid dengan layar nano-texture yang efektif mengurangi silau dan sidik jari.
  • Ditenagai prosesor A20 Pro 2nm, performa multitasking Split View dan gaming berjalan sangat lancar.
  • Kapasitas baterai 4.883 mAh mampu bertahan hingga seharian serta didukung pengisian cepat 60W.
  • Kamera utama 48 MP menghasilkan foto tajam, meskipun tanpa lensa telephoto dan kamera UDC masih menjadi catatan.

Uzone.id - Kali pertama memegang iPhone Duo, rasanya mengingatkan saya dengan menggenggam iPhone Air. Keduanya sama-sama ‘entitas HP baru’ dari Apple yang kasih pengalaman berbeda. Tapi khusus iPhone Duo, experience yang saya dapatkan sangatlah baru. 

Dari desain dan kali pertama membuka smartphone ini, sensasi menggunakan ‘layar mungil’ di luar dan layar memanjang ala tablet di bagian dalam, bermain game, dan tentu saja saat mengabadikan foto dengan kameranya. Berikut ini review iPhone Duo setelah menggunakannya selama seminggu.

Desain solid, layar nano-texture emang beda!


Kalau soal bentuk, iPhone Duo bukan cuma beda dari iPhone yang udah ada—termasuk iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max—tapi juga kebanyakan HP lipat yang pernah saya coba. Saat ditutup, bodinya pendek dan agak melebar, seperti pegang paspor. Bentuk seperti ini juga diadopsi oleh Samsung Galaxy Z Fold8 yang pernah saya review sebelumnya.

Kalau digenggam sih, memang pas banget. Cuma, bobotnya lumayan terasa, apalagi kalau dibandingkan Samsung Galaxy Z Fold8. 


iPhone Duo punya berat 254 gram, sementara Samsung Galaxy Z Fold8 yang sebelumnya sempat saya coba hanya 201 gram. Selisih 53 gram itu cukup terasa lho. Kira-kira, bobotnya hampir setara casing Spigen Sim Armor Pro MagFit untuk Samsung Galaxy Z Fold8. 

Jadi ibaratnya, bobot total iPhone Duo tanpa casing, seperti Samsung Galaxy Z Fold8 yang sudah aman dengan balutan casing rugged. 

Meski berat, bodi iPhone Duo tergolong tipis. Ketebalannya 5,2 mm ketika dibuka dan menjadi 11,3 mm saat ditutup. Memang belum setipis Galaxy Z Fold8, tapi buat saya yang juga menggunakan iPhone Air, sensasi memegang bodi tipisnya cukup mengingatkan dengan HP tersebut. Terutama ketika iPhone Duo dibuka.


Apple sendiri menggunakan titanium grade 5 untuk bingkai iPhone Duo, dengan permukaan yang dipoles mengilap. Sementara bagian belakangnya dilindungi Ceramic Shield dan layar luarnya menggunakan Ceramic Shield 2.

Soal poles-polesan ini yang jadi kurangnya. Warna Star White dengan bingkai yang dipoles metallic memang kelihatan mewah. Tapi kurangnya, bingkainya jadi gampang memperlihatkan jejak sidik jari. Baru dipegang sebentar, bekasnya sudah kelihatan menempel dan bikin HP lipat ini terkesan mudah kotor. Ada warna lain yang lebih kalem, yakni Night Sky.


Selain itu, permukaan kaca di bodi belakang juga dibuat matte namun sangat halus. Saking halusnya, bodi belakang ini cenderung agak licin, bikin saya lebih berhati-hati saat menggenggamnya. Maklum saja, harga iPhone Duo di Indonesia mulai dari Rp45.678.910 untuk versi 256 GB, Rp51.999.000 untuk varian 512 GB yang saya review ini, dan Rp61.999.000 serta Rp75.999.000 untuk model 1 TB dan 2 TB.


Bagian yang saya suka justru ketika membuka dan menutupnya. Gerakannya solid, terlebih saat kedua sisi bodinya bertemu ketika dilipat. Suara ‘cetak’ yang terdengar seolah menegaskan kalau engsel HP ini memang dibuat serius oleh Apple.

Secara konstruksi, engsel iPhone Duo terdiri dari lebih dari 100 komponen yang mengatur gerakan membuka dan menutup, sekaligus menopang bagian tengah layar saat dibentangkan. 


Apple juga memasang susunan magnet untuk membantu kedua sisi bodinya menutup dengan rapat. Penutup engselnya sendiri dibuat melalui proses cetak 3D, dengan permukaan microblasting yang berbeda dari bingkai mengilap di sekeliling bodinya.

Beralih ke layar, iPhone Duo punya cover screen OLED Super Retina XDR berukuran 5,4 inci dan layar bagian dalamnya seluas 7,6 inci. Keduanya mendukung ProMotion 120Hz, serta tingkat kecerahan sampai 3.000 nits untuk penggunaan di luar ruangan.

Namun, yang paling menarik perhatian saya adalah permukaan matte pada layar dalamnya. Apple menggunakan lapisan nano-texture untuk mengurangi silau dan pantulan, sekaligus menyamarkan tampilan garis lipatan di tengah layar.


Garis lipatannya memang belum semulus Oppo Find N6 yang juga pernah saya coba. Cuma, lapisan nano-texture ini berhasil menjawab salah satu hal yang cukup mengganggu dari HP lipat yang pernah saya pakai sebelumnya, yakni layar utama yang gampang kelihatan kotor setelah disentuh.

Mau mengelap layar utama ini jadi agak hati-hati, mengingat permukaannya berbeda dari layar HP biasa. Nah, dengan nano-texture ini, bekas sentuhan di layar bagian dalam tidak terlalu mengganggu tampilan.

Masih ada PR untuk kompatibilitas aplikasi


Sejujurnya, iPhone Duo masih belum memberikan user experience yang maksimal selama seminggu saya pakai, terutama saat membuka aplikasi sehari-hari yang sering digunakan. Jadi gini, ada aplikasi yang benar-benar bisa memanfaatkan layar dan bentuk lipat iPhone Duo dengan baik, ada juga yang tampilannya terasa kurang pas. 

WhatsApp misalnya. Di layar luar, tampilan percakapannya memang agak bergeser ke kiri. Sementara sisi kanan, memanjang dari area kamera depan ke bawah, dibiarkan ‘sepi’, karena menjadi tempat untuk informasi sistem bawaan serta navigasi aplikasi, seperti tombol panggilan suara atau video.

Susunan ini memang jauh berbeda dari iPhone biasa yang menempatkan navigasi utamanya di bawah layar. Cuma buat saya, ini adalah cara pintar Apple agar pengguna lebih mudah mengoperasikan layar pendek dan lebar seperti iPhone Duo. 


Begitu iPhone Duo dibuka dalam posisi horizontal, WhatsApp menampilkan dua kolom sekaligus. Daftar percakapan berada di kiri, sementara isi chat yang sedang dibuka tampil di kanan. Jadi, layar tambahannya memang dipakai untuk menampilkan lebih banyak informasi.

Tampilan seperti ini memudahkan untuk melihat daftar chat sambil tetap membuka percakapan. Rasanya lebih mendekati WhatsApp di tablet atau komputer dibandingkan aplikasi di iPhone biasa yang sekadar diperbesar.


Beda lagi kalau membuka WhatsApp dengan layar dalam yang diputar secara vertikal. Tampilannya mirip seperti smartphone dengan layar yang lebih besar. Ukuran keyboard-nya pun mengikuti rasio layar, namun posisi ini tak menampilkan dua kolom informasi sekaligus.

Instagram juga punya penyesuaian serupa pada navigasinya. Saat menggunakan layar luar, tombol-tombol utama ditempatkan di sisi kanan, sehingga lebih mudah dijangkau dengan satu tangan.


Cuma, ketika membuka Instagram di layar dalam, orientasi HP cukup memengaruhi kenyamanan. Buat melihat Feed atau scrolling Reels, saya lebih suka membalik iPhone Duo ke posisi vertikal. Konten yang memanjang ke bawah terasa lebih pas, sementara navigasi utamanya berpindah ke bagian bawah layar.


Kalau tetap horizontal, unggahan vertikal tampil di tengah dan menyisakan area kosong yang lebar di sekelilingnya. Namun, ruang tambahan tersebut akan terasa manfaatnya ketika membuka kolom komentar. Konten ditampilkan di sebelah kiri, sementara daftar komentar muncul di kanan. 


Beda cerita dengan TikTok. Aplikasi ini masih menyisakan bar hitam di layar luar maupun layar dalam. Malah, saat memakai layar utama dalam posisi horizontal, area kosongnya tebal banget.

Video vertikal tampil di tengah, sedangkan ruang di kanan dan kirinya masih banyak yang kosong. Seperti IG Reels, lebih nyaman scrolling TikTok di layar dalam iPhone Duo dengan posisi vertikal. 


Untuk mengetik, tampilannya juga mengikuti layar yang digunakan. Di cover screen, keyboard membentang di bagian bawah seperti pada iPhone biasa. Sementara di layar dalam, keyboard bisa ditampilkan terbelah menjadi dua bagian, sehingga tombol-tombolnya berada lebih dekat dengan kedua jempol saat HP dipegang dengan dua tangan.


Di luar penyesuaian tampilan masing-masing aplikasi, akhirnya Split View ada di iPhone Duo, memungkinkan pengguna untuk membuka dua aplikasi berdampingan. Meski memang, buat pengguna HP lipat Android, fitur seperti ini bukanlah hal yang baru. 

Pengalaman lain ada di Books. Dalam orientasi horizontal, buku digital yang mendukung bisa ditampilkan dalam dua halaman berdampingan. Ditambah animasi membalik halamannya, tampilannya jadi seperti buku yang sedang dibuka. Apalagi, sensasi nano-texture-nya membuat sensasi membalik halaman seperti buku sebenarnya.


Buat menonton film, bentuk lipatnya memberi beberapa pilihan posisi. Selain bisa dibuka sepenuhnya, iPhone Duo juga bisa ditekuk sekitar 90 derajat, tent mode, atau kembali dilipat untuk melanjutkan tontonan di layar bagian luar.


Malah kalau di Netflix, saat layarnya ditekuk 90 derajat, film bisa ditampilkan di bagian atas, sementara layar bawah menjadi area kontrolnya.

Bagaimana dengan gaming?

Saya bermain beberapa judul game, seperti No Man’s Sky, NBA 2K26, dan Sneaky Sasquatch. Mirip seperti saat membuka aplikasi, ada yang optimal di layar iPhone Duo ada juga yang tidak.

Berbekal prosesor A20 Pro yang setara iPhone 18 Pro dan 18 Pro Max, No Man’s Sky bisa dimainkan pada grafis High atau Ultra dan opsi frame rate Uncapped. NBA 2K26 juga bisa ditampilkan dengan grafis setara konsol pada Ultra High.


Cuma kurangnya, kedua game ini masih menyisakan bar hitam yang cukup tebal di area kamera saat dimainkan di layar luar. Saat iPhone Duo dibuka, bar hitamnya masih ada di bagian atas dan bawah. Saya juga mencoba posisi ditekuk membentuk huruf L, tapi game hanya tampil di bagian atas dan layar bawahnya hitam.

Pengalaman yang lebih menarik justru ada di Sneaky Sasquatch. Game ini memenuhi layar luar maupun dalam. Bahkan, pas HP ditekuk membentuk huruf L, game-nya tampil di atas dan bagian bawah berubah menjadi joystick virtual. Rasanya jadi seperti bermain Nintendo DS. 


Sebenarnya wajar juga sih banyak aplikasi atau game yang belum mendukung rasio layar iPhone Duo, wong masih perangkat baru juga. Lagian, Apple sudah meminta para developer untuk menyesuaikan serta menguji aplikasi mereka untuk berbagai posisi layar iPhone Duo. 

Di App Store malah, ada penanda ‘Made for iPhone Duo’ untuk mengenali aplikasi yang sudah dioptimalkan, dengan pembaruan lainnya yang disebut akan terus menyusul.

Performa tanpa cela, baterai awet buat harian


Ditenagai A20 Pro, nggak ada keluhan berarti selama pakai iPhone Duo. Buka aplikasi, berpindah antar aplikasi, sampai menjalankan dua aplikasi lewat Split View, semuanya lancar jaya. Catatan soal tampilan aplikasi pun lebih berkaitan dengan penyesuaian antarmuka terhadap layarnya, bukan soal performa secara keseluruhan.

iPhone Duo sendiri ditenagai prosesor A20 Pro yang sama dengan iPhone 18 Pro dan 18 Pro Max. Chip ini dibuat dengan fabrikasi 2nm, mengusung CPU 6-core yang terdiri dari 2x super-core dan 4x efficiency-core, GPU 7-core, serta Dual Neural Engine 16-core untuk menangani pemrosesan AI-nya. GPU-nya juga sudah mendukung ray tracing berbasis hardware.


Klaimnya Apple, kemampuan CPU-nya meningkat hingga 20 persen dibandingkan A19 Pro, sementara GPU-nya sampai 40 persen lebih cepat. Ada pula peningkatan bandwidth memori sebesar 50 persen untuk mendukung pemrosesan data.

Buat pemakaian saya, performanya memang lebih dari cukup untuk menjalankan aktivitas yang sudah dibahas sebelumnya. Kemampuannya juga terasa saat memainkan No Man’s Sky dan NBA 2K26 dengan pengaturan grafis tinggi. 

Apple juga memasangkan sistem pendingin vapor chamber yang dirancang khusus untuk iPhone Duo. Menurut Apple, chip-nya terhubung langsung dengan vapor chamber tersebut untuk membantu menyebarkan panas. Kombinasi ini diklaim memberikan performa berkelanjutan hingga 35 persen lebih baik dibandingkan iPhone 17 Pro.

Lalu, bagaimana baterainya?

iPhone Duo menggunakan dua baterai yang ditempatkan pada masing-masing sisi bodinya dengan total kapasitasnya mencapai 4.883 mAh.

Dalam pemakaian saya, baterainya cukup bisa diandalkan untuk menemani aktivitas sampai malam. Namun, durasi layar aktif saya memang tidak selalu panjang setiap harinya. Pemakaiannya bergantian antara membuka aplikasi, chatting, media sosial, menonton, dan bermain game dengan rata-rata screen on-time 3-4 jam.


Namun secara overall, baterai iPhone Duo masih cukup untuk menemani berbagai aktivitas harian. Apalagi, Apple sendiri memang mengklaim iPhone Duo bisa digunakan hingga 24 jam untuk penggunaan normal. 

Malah untuk pemutaran video, klaimnya sampai 44 jam melalui layar luar atau 31 jam menggunakan layar dalam. 

Untuk mengisi baterainya, iPhone Duo mendukung pengisian cepat melalui USB-C. Klaimnya Apple, baterai bisa terisi hingga 50 persen dalam sekitar 20 menit menggunakan adaptor berkemampuan 60W atau lebih tinggi. Ada pula wireless charging via MagSafe dan Qi2 hingga 25W.

Kamera sudah bagus, UDC masih jadi catatan


iPhone Duo membawa dua kamera belakang, yakni kamera utama Fusion 48 MP dengan bukaan lensa f/1.6 dan sudah OIS berbasis sensor-shift. Lalu ada ultrawide Fusion juga dengan sensor 48 MP dengan bukaan f/2.2 dan sudut pandang 120 derajat. Kamera ultrawide-nya juga sudah mendukung pengambilan foto makro.

Mungkin karena keterbatasan ruang juga, tidak ada kamera telephoto di iPhone Duo. Untuk zoom, bisa mengandalkan kamera utama dengan perbesaran 2 kali dan keluaran foto beresolusi 12 MP. Perbesaran digital juga hanya mentok sampai 10 kali saja.

Ada dua kamera depan yang bisa digunakan. Pada cover screen, Apple menyematkan kamera Center Stage 12 MP f/2.2, sedangkan di layar dalam ada kamera FaceTime yang ditaruh di bawah layar atau under display camera (UDC) dengan bukaan f/1.8.


Untuk video, kamera utama mendukung Dolby Vision hingga 4K 120 FPS, kamera depan cover screen sampai 4K 60 FPS, sementara untuk UDC-nya terbatas di 1080p 60 FPS.

Mulai dari kamera utama, hasilnya memang susah dicela. Detail objek yang menjadi fokus terlihat jelas, kalaupun ada efek bokeh di latar belakang, efek buramnya tidak sampai ‘bocor’ ke objek utama, seperti lipatan krim di atas milkshake, permukaan roti pada burger, sampai helaian rambut.

Tapi jujur, saya paling suka hasil foto makanan yang diambil dari kamera utama iPhone Duo. Warnanya dibuat menggugah selera, terutama pada detailnya dengan tekstur yang lebih ditonjolkan, seperti warna roti kecokelatan atau bagian krim dan ceri pada milkshake.

Karakter warna yang dihasilkan juga kuat. Merah pada sofa restoran dan kuning pada bunga terlihat pekat. Untuk bunga, detail kelopak yang terkena fokus masih terlihat, meskipun ada beberapa bagian kuning yang terang mulai kehilangan gradasinya.

Sedikit catatannya, warna kulit yang dihasilkan belum selalu konsisten. Pada foto di restoran, wajah terlihat cukup warm, bahkan cenderung oranye pada beberapa pengambilan. Suasana pencahayaan tempatnya memang ikut terbawa, tetapi hasil seperti ini mungkin kurang cocok buat yang lebih suka warna kulit netral.


Untuk kamera ultrawide, kelebihan kamera ini langsung terasa saat ingin memasukkan lebih banyak suasana ke dalam foto. Warna dan detailnya juga masih bagus kok, meski ketajamannya tak sebanding dengan kamera utama. Misalnya saat memotret bangunan, dedaunan dan objek kecil di kejauhan justru terlihat kurang tajam. 

Karena ada cover screen, bisa banget selfie pakai kamera utama atau ultrawide, sementara viewfinder-nya ditampilkan pada layar bagian luar. Asalkan, posisi smartphone sedang dibuka.


Untuk kamera depan di cover screen, hasilnya tergolong bagus. Dari detail rambut, bingkai kacamata, sampai tekstur pakaian masih terlihat. Wajah juga cukup terang tanpa membuat latar belakang kehilangan seluruh detailnya.

Wefie juga hasilkan gambar yang oke. Wajah orang-orang yang berada di posisi berbeda masih terlihat jelas. Warna kulitnya cenderung warm, tetapi detail mata, rambut, dan pakaian tetap terjaga.

Nah, kamera under-display punya hasil yang berbeda. Karena beresolusi 4 MP saja, maka gambarnya terlihat lebih lembut dan seperti diselimuti seperti kabut tipis. Detail rambut kurang tegas, tekstur wajah lebih rata, dan kontrasnya juga terasa lebih rendah.

Kalau membahas kamera malam, hasilnya juga masih oke. Saat memotret gedung, garis-garis pada fasad dan deretan jendelanya masih terlihat jelas. Bagian bangunan yang gelap tetap menyimpan detail, sementara langitnya masih terasa seperti suasana malam, meski terlihat agak kecokelatan karena efek pendar cahaya. Namanya juga foto malam, kalau fotonya diperbesar, penurunan detailnya langsung terasa. 


Di dalam ruangan dengan pencahayaan lampu, hasilnya justru cukup menarik. Contohnya pada foto rak peralatan kopi, tekstur karung, serat kayu, sampai tulisan pada kemasan masih terlihat. Nuansa kuning dari lampu ikut tertangkap, sementara bagian rak yang gelap tetap punya kedalaman.

Sementara pada contoh wefie menggunakan kamera ultrawide saat cahaya mulai berkurang, semua wajah masih terlihat cukup terang berkat bantuan lampu di sekitar lokasi. Hanya saja, detail rambut dan wajahnya lebih lembut, terutama pada orang yang berada di pinggir frame. 

Kesimpulan


Seminggu memakai iPhone Duo, saya suka dengan pengalaman baru yang ditawarkan Apple lewat bentuk lipatnya. 

Bodinya terasa solid, layar dalam dengan nano-texture nyaman digunakan, dan akhirnya ada Split View di iPhone. Performa juga lancar untuk aktivitas harian sampai bermain game dengan grafis tinggi, sementara baterainya masih cukup menemani pemakaian saya sampai malam.

Cuma, pengalaman aplikasinya memang belum semuanya maksimal. Ada yang sudah memanfaatkan layar dengan baik, ada juga yang masih menyisakan ruang kosong atau bar hitam yang tebal. 

Bobot iPhone Duo juga lumayan terasa kalau dibandingkan Samsung Galaxy Z Fold8, ditambah bodi belakang yang licin. 

Untuk kamera, hasil kamera utama cukup memuaskan, tetapi absennya telephoto dan kualitas kamera UDC-nya tetap menjadi catatan. 

Dengan harga puluhan juta rupiah, iPhone Duo lebih cocok buat pengguna yang memang ingin mencoba pengalaman HP lipat sambil tetap nyaman menggunakan ekosistem Apple. Saya menikmati fleksibilitas layarnya, tetapi pada harga setinggi ini, wajar kalau berharap aplikasi dan game yang sering dipakai juga sudah tampil optimal. 

FAQ Artikel

Berapa harga iPhone Duo di Indonesia?

Harga iPhone Duo di Indonesia dibanderol mulai dari Rp45.678.910 untuk varian 256 GB, Rp51.999.000 untuk varian 512 GB, serta Rp61.999.000 dan Rp75.999.000 untuk model 1 TB dan 2 TB.

Apa keunggulan layar utama iPhone Duo?

Layar utama bagian dalam iPhone Duo berukuran 7,6 inci dengan ProMotion 120Hz dan dilengkapi lapisan nano-texture untuk mengurangi silau serta menyamarkan noda sidik jari.

Prosesor apa yang digunakan pada iPhone Duo?

iPhone Duo menggunakan chipset Apple A20 Pro berteknologi 2nm dengan CPU 6-core, GPU 7-core, Dual Neural Engine 16-core, dan sistem pendingin vapor chamber.

Berapa kapasitas baterai iPhone Duo?

iPhone Duo membawa total kapasitas baterai 4.883 mAh dengan dukungan fast charging 60W (50 persen dalam 20 menit) serta wireless charging MagSafe hingga 25W.

Muhammad Faisal Hadi Putra

Muhammad Faisal Hadi Putra

Jurnalis

Suka ngulik teknologi, gadget, dan game. Buat saya, yang menarik bukan cuma spesifikasi dan fitur, tapi juga pengalaman saat mencobanya langsung.
Lihat semua artikel →
populerRelated Article