Home
/
Gadget

Samsung Konsisten Memimpin Pasar Ponsel Lipat Selama Satu Dekade

Samsung pelopor smartphone lipat sejak 2019. Evolusi Galaxy Z Series pada desain, durabilitas, performa, dan AI menjaga dominasi Samsung di pasar kompetitif.

Samsung Konsisten Memimpin Pasar Ponsel Lipat Selama Satu Dekade

Samsung Fold menjadi bukti dominasi Samsung di Pasar HP Lipat (Foto: Dok Uzone)

Bagikan :

Highlight Artikel

  • Samsung memelopori dan konsisten mengembangkan smartphone lipat Galaxy Z Series sejak 2019, menjadikannya pemimpin inovasi di kategori ini.
  • Evolusi seri ini meliputi penyempurnaan signifikan pada desain, durabilitas (engsel, ketahanan air IPX8), performa, dan integrasi AI (Galaxy AI).
  • Galaxy Z Fold fokus pada produktivitas tinggi dengan layar besar, multitasking, dan dukungan S Pen, mendekati fungsi laptop mini.
  • Galaxy Z Flip memperluas pasar foldable dengan desain ringkas, bergaya, portabilitas, dan fitur kamera fleksibel melalui Flex Window.

Uzone.id: Samsung tidak sekadar menjadi salah satu pemain awal di industri smartphone layar lipat. Sejak memperkenalkan Galaxy Fold pada 2019, Samsung secara konsisten membangun dan mengembangkan kategori tersebut hingga Galaxy Z Series menjadi salah satu lini utama dalam inovasi smartphone premium.

Selama hampir satu dekade, perjalanan Galaxy Z Series menunjukkan bagaimana Samsung mempertahankan kepemimpinannya melalui evolusi yang berkelanjutan. Setiap generasi membawa penyempurnaan pada desain, engsel, durabilitas, performa, kamera, hingga kecerdasan buatan (AI).

Perjalanan tersebut juga memperlihatkan bagaimana Samsung secara bertahap mengatasi berbagai tantangan yang sebelumnya menjadi hambatan utama smartphone layar lipat, mulai dari ketahanan layar dan engsel, ukuran perangkat, ketebalan, hingga pengalaman penggunaan sehari-hari.

Dari Pelopor Menjadi Pembentuk Standar


Samsung Galaxy Fold Pertama (Foto: XDA)

Pada fase perintisan di tahun 2019, Samsung Galaxy Fold hadir sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah smartphone layar lipat. Perangkat ini membuktikan bahwa layar fleksibel seluas 7,3 inci dapat digunakan dalam perangkat yang tetap bisa dilipat menjadi bentuk lebih ringkas dengan ketebalan 17,1 mm.

Galaxy Fold memperkenalkan layar 7,3 inci Infinity Flex dan engsel inovatif yang memungkinkan perangkat menghadirkan pengalaman multitasking melalui Multi Window untuk menjalankan beberapa aplikasi sekaligus.

Langkah tersebut menjadi fondasi bagi Samsung untuk mengembangkan Galaxy Z Series. Alih-alih berhenti pada konsep smartphone yang bisa dilipat, Samsung terus menyempurnakan bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan secara nyata dalam aktivitas sehari-hari.

Setahun kemudian, Galaxy Z Fold2 (2020) hadir dengan layar yang lebih besar, yakni 7,6 inci pada layar utama dan 6,2 inci pada cover screen. Samsung juga memperkenalkan Flex Mode yang memungkinkan layar terbagi ketika perangkat dilipat, sekaligus meningkatkan kemampuan kamera melalui fitur seperti Auto Framing dan Dual Preview.

               

Samsung Galaxy Fold2 (Foto: Dok Samsung)


Dengan pendekatan tersebut, Samsung mulai menunjukkan bahwa kepemimpinan di pasar foldable bukan hanya soal menjadi yang pertama, tetapi juga bagaimana sebuah teknologi baru terus dibuat semakin matang dan relevan.

Seperti dikutip dari situs resminya, Samsung bahkan menyebut Galaxy Z Series edisi terbaru sebagai babak baru inovasi foldable yang dirancang untuk mendukung “produktivitas tingkat Ultra, eksplorasi yang lebih imersif, dan kebebasan berekspresi”.

Evolusi Desain dan Durabilitas

Salah satu kunci Samsung mempertahankan posisi di kategori foldable adalah konsistensinya menyelesaikan persoalan fundamental dari smartphone lipat: bagaimana membuat perangkat yang dapat dilipat berkali-kali tanpa mengorbankan ketahanan dan kenyamanan penggunaan.

Samsung terus menyempurnakan desain dan durabilitas Galaxy Z. Bobot dan ketebalan berkurang dari generasi ke generasi. Misalnya, Z Fold4 (2022) memiliki bobot 263 gram dengan ketebalan 15,8 mm ketika dilipat, sementara Z Fold5 (2023) kembali lebih ringan menjadi 253 gram dan lebih tipis dengan ketebalan 13,4 mm ketika dilipat.


Samsung Galaxy Fold4 (Foto: Uzone)

Engsel juga menjadi bagian penting dari evolusi tersebut. Samsung mengembangkan teknologi Sweeper menggunakan serat optik pada engsel Z Fold2 untuk membantu mencegah debu masuk. Perkembangan berikutnya hadir melalui Flex Hinge yang membuat mekanisme lipatan semakin ringkas dan memungkinkan perangkat tertutup lebih rapat.

Galaxy Z Fold3 (2021) menjadi tonggak lain dalam perjalanan tersebut. Perangkat ini menjadi smartphone lipat pertama Samsung dengan sertifikasi tahan air IPX8, berkat perlindungan pada sisi layar dan penggunaan material yang lebih tahan korosi.

Samsung juga menggunakan Armor Aluminum dan Gorilla Glass Victus untuk meningkatkan ketahanan perangkat. Bureau Veritas bahkan menguji Z Fold3 hingga 200.000 kali lipat buka-tutup.

Artinya, inovasi Samsung pada foldable tidak berhenti pada membuat layar bisa dilipat. Tantangannya kemudian bergeser menjadi bagaimana membuat teknologi tersebut cukup tangguh untuk digunakan setiap hari.

Pada 2023, Samsung memperkenalkan Flex Hinge pada Galaxy Z Fold5 dan Z Flip5. Arsitektur engsel dengan sistem rel ganda (dual rail structure) memungkinkan layar melengkung menyerupai bentuk tetesan air di area lipatan.


Samsung Galaxy Z Fold5 (Foto: Uzone)

Teknologi ini membantu menghilangkan celah saat perangkat ditutup rapat (zero-gap), sekaligus mengurangi ketebalan dan mendistribusikan tekanan mekanis secara lebih merata.

Rangkaian perubahan tersebut menunjukkan pola yang konsisten: setiap generasi Galaxy Z bukan sekadar menghadirkan perangkat baru, tetapi menyelesaikan persoalan yang muncul pada generasi sebelumnya.

Performa Flagship & Galaxy AI

Kepemimpinan Samsung juga dibangun melalui konsistensi menghadirkan performa kelas flagship pada perangkat foldable.

Setiap Galaxy Z selalu dibekali chipset flagship generasi terbaru. Misalnya, Galaxy Z Fold5 (2023) menggunakan Snapdragon 8 Gen 2 for Galaxy, yang meningkatkan kecepatan sekaligus memanfaatkan kemampuan AI untuk gaming dan kinerja grafis.



Peningkatan chipset juga membantu efisiensi daya. Gizmologi mencatat Galaxy Z Fold5 mampu bertahan lebih lama berkat efisiensi prosesor baru meski kapasitas baterainya tetap sama. Z Flip5 menggunakan Snapdragon 8 Gen 2, yang cukup untuk pemakaian berat sehari-hari.

Namun, evolusi Galaxy Z kini tidak lagi hanya berbicara tentang prosesor. Samsung mulai membawa AI sebagai bagian penting dari pengalaman foldable.

Galaxy AI disematkan di berbagai form factor layar lipat. Layar besar pada Fold8/Ultra memungkinkan pengguna melakukan multitasking dengan lebih leluasa, sementara Flex Window pada Flip8 menjadi ruang interaksi yang lebih praktis untuk mengakses informasi, widget, dan shortcut.

Lewat kolaborasi dengan Gemini Intelligence, fitur AI ini memberikan “lebih banyak cara bagi pengguna menyelesaikan berbagai aktivitas… dengan tetap mengedepankan privasi”.


Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra (Foto: Rangga/Uzone)
Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana Samsung terus menggeser standar smartphone foldable. Jika generasi awal berfokus pada “bisakah smartphone dilipat?”, generasi terbaru mulai menjawab pertanyaan yang lebih besar: “apa yang bisa dilakukan smartphone karena memiliki bentuk yang dapat dilipat?”


Kamera juga menjadi bagian dari evolusi tersebut. Galaxy Z memanfaatkan pemrosesan AI untuk fitur seperti Nightography dan stabilisasi, sementara Galaxy AI membantu pengguna melakukan editing foto dan video secara lebih instan langsung dari perangkat.

Multitasking dan Produktivitas

Salah satu alasan Samsung mampu mempertahankan diferensiasi Galaxy Z Fold adalah kemampuannya menggabungkan inovasi hardware dengan ekosistem software.

Sejak Galaxy Fold pertama, Samsung terus mengoptimalkan One UI untuk layar besar. Fitur Multi Window dan App Pair memungkinkan pengguna menjalankan beberapa aplikasi sekaligus.

Galaxy Z Fold4 kemudian membawa taskbar ala PC untuk mengakses aplikasi favorit dengan lebih cepat, ditambah kemampuan drag-and-drop antarjendela. Gestur juga membuat penggunaan layar besar menjadi lebih praktis, termasuk membagi layar dengan sapuan dua jari.


Aplikasi populer seperti Chrome, Gmail, Office, dan Outlook turut dioptimalkan untuk layar Fold, membuat pengalaman perangkat semakin mendekati laptop mini.

Dukungan S Pen fold edition yang diperkenalkan pada Z Fold3 (2021) semakin memperkuat positioning tersebut. Pengguna dapat mencatat, menggambar, atau memberikan anotasi langsung di layar besar. Samsung kemudian menghadirkan S Pen yang lebih ramping pada Fold5 untuk meningkatkan kenyamanan penggunaan.

Dari sini terlihat bagaimana Samsung tidak hanya menjual layar yang lebih besar, tetapi membangun pengalaman produktivitas yang memang memanfaatkan layar tersebut.

Galaxy Z Fold pada akhirnya berkembang menjadi lebih dari sekadar smartphone yang bisa dilipat. Ia menjadi perangkat yang mencoba menggabungkan fungsi smartphone, tablet, dan perangkat kerja dalam satu bentuk yang tetap portabel.

Kamera dan Hiburan

Di sisi kamera, Galaxy Z Series juga mengalami evolusi dari generasi ke generasi.

Z Fold2 sudah memperkenalkan Auto Framing dan Dual Preview untuk meningkatkan pengalaman foto dan video ketika perangkat digunakan dalam posisi terlipat. Sementara itu, lini Z Flip berkembang dengan pendekatan yang lebih berorientasi pada fleksibilitas dan ekspresi diri.


Samsung Galaxy Z Flip5 (Foto: Uzone)


Z Flip4 (2022), misalnya, membawa Nightography serta Quick Shot yang memungkinkan pengguna mengambil foto selfie menggunakan kamera utama tanpa harus membuka perangkat.

Z Flip5 (2023) kemudian menghadirkan Flex Window yang lebih besar. Pengguna dapat melihat pratinjau wajah saat menggunakan kamera utama, sekaligus memanfaatkan layar cover untuk berbagai kebutuhan tanpa harus membuka ponsel.

Kombinasi layar besar dan performa tinggi juga membuat Galaxy Z berkembang sebagai perangkat hiburan. Fold5/6 dapat digunakan untuk streaming film di layar 7,6 inci maupun bermain game dengan grafis tinggi.



Dukungan HDR10+ dan refresh rate adaptif hingga 120Hz membuat pengalaman visual semakin mulus, sementara speaker stereo dengan Dolby Atmos melengkapi pengalaman multimedia.


Dengan demikian, Samsung tidak hanya menjadikan foldable sebagai perangkat untuk produktivitas. Galaxy Z juga terus diperluas menjadi perangkat yang mampu memenuhi kebutuhan fotografi, hiburan, gaming, dan konsumsi konten.

Galaxy Z Flip: Membuka Pasar Foldable Lebih Luas

Jika Galaxy Z Fold menunjukkan bagaimana Samsung mengembangkan smartphone lipat untuk produktivitas, Galaxy Z Flip memainkan peran berbeda: membuat teknologi foldable lebih dekat dengan kebutuhan pengguna sehari-hari.

Seri Galaxy Z Flip hadir sebagai perangkat yang lebih ringan dan bergaya. Galaxy Z Flip5, misalnya, memiliki bobot 187 gram dengan ketebalan 15,1 mm ketika dilipat.


Samsung Galaxy Z Flip (Foto: Dok Samsung)


Salah satu perubahan terbesar hadir pada Flex Window 3,4 inci yang jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya. Layar tersebut dapat menampilkan widget yang lebih kaya hingga keyboard QWERTY untuk membalas pesan tanpa perlu membuka ponsel.

Ciri khas tersebut membuat Galaxy Z Flip memiliki pendekatan yang berbeda dari Fold. Jika Fold menonjolkan produktivitas dan layar besar, Flip menawarkan portabilitas, fleksibilitas, dan ekspresi diri.

Materialnya juga terus diperkuat. Flip menggunakan Armor Aluminum, Gorilla Glass Victus+, serta sertifikasi tahan air IPX8 yang sudah diperkenalkan sejak Flip3.

Kamera utama 12MP wide dan ultra-wide juga mendukung berbagai fitur seperti Auto Framing dan Nightography.

Dengan bentuk yang lebih ringkas, performa flagship, dan pengalaman kamera yang fleksibel, Galaxy Z Flip menjadi salah satu cara Samsung memperluas penggunaan smartphone foldable dari perangkat premium yang bersifat eksperimental menjadi produk yang lebih mudah diterima konsumen.

Bukan Sekadar Menjadi yang Pertama

Perjalanan Galaxy Z Series selama hampir satu dekade memperlihatkan satu hal penting: kepemimpinan di pasar foldable tidak cukup hanya dengan menjadi pionir.

Samsung harus terus berinvestasi untuk menyelesaikan persoalan teknologi yang muncul dari generasi ke generasi.

Mulai dari ketahanan layar, mekanisme engsel, ketebalan perangkat, bobot, ketahanan air, performa, kamera, hingga software dan AI, hampir setiap aspek Galaxy Z mengalami penyempurnaan.

Inilah yang membuat evolusi Galaxy Z berbeda dari sekadar pergantian model setiap tahun.

Galaxy Z Fold dan Z Flip berkembang berdasarkan kebutuhan yang muncul dari pengalaman generasi sebelumnya. Ketika persoalan engsel diselesaikan, Samsung bergerak ke desain yang lebih tipis. Ketika hardware semakin matang, Samsung memperluas fungsi melalui software. Dan ketika AI menjadi bagian penting dari pengalaman smartphone, Samsung mulai mengintegrasikannya ke dalam form factor foldable.

Menjaga Posisi di Era Foldable yang Semakin Kompetitif

Persaingan smartphone layar lipat kini semakin ramai. Berbagai produsen menghadirkan perangkat dengan desain dan teknologi masing-masing.

Namun, Samsung memiliki keunggulan yang dibangun melalui pengalaman panjang di kategori ini. Perusahaan tidak hanya mengembangkan perangkat, tetapi juga ekosistem Galaxy, One UI, aksesori, AI, serta pengalaman pengguna yang terus disempurnakan selama bertahun-tahun.

Karena itu, perjalanan Galaxy Z Series lebih tepat dilihat sebagai perjalanan Samsung dalam mendewasakan sebuah kategori smartphone baru.

Dari Galaxy Fold pada 2019 hingga Galaxy Z Fold8 Ultra, Z Fold8, dan Z Flip8 pada 2026, Samsung terus membawa inovasi foldable ke tahap berikutnya.

Jika generasi pertama membuktikan bahwa smartphone bisa dilipat, generasi-generasi berikutnya membuktikan bahwa smartphone lipat bisa semakin tipis, tangguh, produktif, powerful, cerdas, dan relevan untuk kebutuhan sehari-hari.

Pada akhirnya, kepemimpinan Samsung di pasar foldable bukan dibangun oleh satu produk, melainkan oleh konsistensi evolusi selama bertahun-tahun.

Galaxy Z Series menjadi representasi dari strategi tersebut: terus menyempurnakan teknologi yang sudah ada, sekaligus membuka kemungkinan baru dari sebuah smartphone yang dapat dilipat.

Dan memasuki 2026, Samsung kembali menegaskan ambisinya untuk mempertahankan posisi tersebut melalui Galaxy Z Fold8 Ultra, Z Fold8, dan Z Flip8, membawa pengalaman foldable ke babak berikutnya dan mempertahankan Galaxy Z Series sebagai salah satu tolok ukur utama inovasi smartphone layar lipat.

FAQ Artikel

Kapan Samsung pertama kali memperkenalkan smartphone layar lipatnya?

Samsung memperkenalkan smartphone layar lipat pertamanya, Galaxy Fold, pada tahun 2019.

Bagaimana Samsung mengatasi tantangan durabilitas pada Galaxy Z Series?

Samsung terus menyempurnakan desain, menggunakan material seperti Armor Aluminum dan Gorilla Glass Victus, mengembangkan Flex Hinge untuk lipatan rapat, serta menghadirkan sertifikasi tahan air IPX8 sejak Galaxy Z Fold3.

Apa perbedaan fokus utama antara Galaxy Z Fold dan Galaxy Z Flip?

Galaxy Z Fold dirancang untuk produktivitas tinggi, multitasking, dan pengalaman mirip tablet/laptop mini, sedangkan Galaxy Z Flip menonjolkan portabilitas, gaya, fleksibilitas kamera, dan ekspresi diri untuk menarik pasar yang lebih luas.

Fitur AI apa yang diintegrasikan Samsung ke dalam Galaxy Z Series?

Samsung menyematkan Galaxy AI untuk mendukung multitasking, editing foto/video instan, dan berbagai aktivitas lain yang memanfaatkan form factor layar lipat, dengan kolaborasi Gemini Intelligence.

populerRelated Article