icon-category Startup

Startup Lingkungan di Indonesia, Hype Sesaat atau Peluang Terselubung?

  • 19 Jul 2022 WIB
  • Bagikan :
    Ilustrasi: Uzone.id/Vescha Permata Sari

    Kolom oleh: Direktur Digital Business Telkom Indonesia, Muhammad Fajrin Rasyid.

    Uzone.id -- Sejatinya teknologi dapat menyentuh berbagai aspek di kehidupan, tak terkecuali lingkungan. Isu lingkungan pun telah menjadi perhatian besar di mata dunia, maka bukan hal mengejutkan jika startup-startup bidang lingkungan mulai bermunculan.

    Isu lingkungan memang luas. Semua orang tampak peduli dengan perubahan iklim (climate change). Semua berbondong-bondong ingin menjaga dan memelihara bumi, entah dengan mengurangi sampah, menggunakan barang eco-friendly, hingga melakukan metode 3R (reuse, reduce, recycle).

    Startup yang menyajikan solusi untuk lingkungan mulai ramai, sebut saja Carboon Addons, Duitin, hingga Hijauku.com.

    Semangat generasi muda untuk berkontribusi melalui rintisan startup bidang lingkungan ini tentu hal baik. Namun, jika melihat lanskap ekosistem startup di Indonesia, apakah startup sektor lingkungan memang menjadi peluang terselubung yang situasional, atau hype sesaat saja?

    Baca juga: Dear Founder Startup, Ini Hal yang Harus Diperhatikan Kalau Dapat Pendanaan

    Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka ada beberapa hal yang perlu dielaborasi.

    Pertama, ukuran pasar atau market size.

    Berapa banyak pihak, baik itu individu maupun perusahaan, yang berpotensi menjadi pelanggan atau pihak yang berkepentingan (stakeholder) di sini? Saya belum memiliki data terkait hal ini, namun melihat tren yang ada, saya melihat hal ini cukup besar dan berpotensi akan tumbuh lebih besar lagi ke depan.

    Sebagai contoh, di kalangan investor global bahkan sudah ada kategori khusus untuk perusahaan-perusahaan dan instrumen keuangan yang memiliki kepedulian atau manfaat terhadap lingkungan. Green bonds misalnya, ini merupakan istilah bagi proyek yang sedang mencari pendanaan dalam bentuk utang dan memiliki mafaat tersebut.

    Ilustrasi foto: Markus Spiske/Unsplash

     

    Kedua, model bisnis.

    Ini menurut saya merupakan tantangan terbesar yang perlu dijawab oleh startup di bidang ini. Meskipun banyak pihak yang akan menggunakan startup kalian karena memiliki manfaat terhadap lingkungan, apabila tidak ada model bisnis yang memungkinkan startup tersebut memperoleh pendapatan, startup ini tidak akan bertahan.

    Petakan pihak-pihak yang terkait startup kalian dan manfaat apa yang dapat startup kalian berikan kepada masing-masing pihak. Kalian tidak harus menarik biaya dari setiap pihak.

    Bisa saja misalnya kalian menarik biaya dari pihak korporasi, namun tidak menarik biaya dari pihak individu. Ini yang disebut dengan model bisnis ganda atau double side business model.

    Baca juga: Ramai Bubble Burst, Startup Game Lokal Kena Juga Gak?

    Terakhir, jangan lupakan kompetensi.

    Kalian tidak harus memiliki latar belakang pendidikan untuk dapat berhasil mengembangkan startup ini. Namun, lebih baik apabila setidaknya salah satu founder startup memiliki keahlian di bidang ini. Selain itu, penting untuk terus mengembangkan kemampuan dan update akan isu-isu terkini agar startup kalian tetap relevan.

    Terlepas dari hal-hal di atas, global warming dan beberapa isu lain terkait lingkungan yang melanda dunia menjadikan startup yang bergerak di bidang lingkungan menjadi urgen untuk dikembangkan.

    Oleh karena itu, mari mendukung startup-startup ini untuk dapat bergerak lebih jauh lagi!

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini