Home
/
Automotive

Subsidi BBM Jadi Penyebab Transisi Energi Terhambat, Kok Bisa?

Penataan ulang subsidi BBM yang menghambat transisi energi bersih disarankan untuk hemat anggaran dan danai investasi terbarukan demi target bauran nasional.

Subsidi BBM Jadi Penyebab Transisi Energi Terhambat, Kok Bisa?

Bagikan :

Highlight Artikel

  • Subsidi bahan bakar minyak (BBM) saat ini menghambat transisi Indonesia ke energi bersih karena membuat harga energi fosil terlihat jauh lebih murah dari biaya produksinya.
  • Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno mendesak pemerintah untuk menata ulang subsidi energi melalui penyesuaian besaran (right sizing) dan pengetatan sasaran (right targeting).
  • Penataan ulang subsidi diyakini dapat menghemat anggaran negara, yang kemudian bisa dialokasikan untuk mendanai agenda transisi energi terbarukan.
  • Indonesia membutuhkan investasi fantastis senilai 180 miliar dolar AS hingga 2034 untuk mengembangkan infrastruktur energi terbarukan guna mencapai target bauran energi bersih.

Uzone.id - Upaya mendorong masyarakat dan pelaku usaha beralih ke energi yang lebih bersih rupanya masih menemui hambatan. Salah satu tantangan terbesarnya ternyata bersumber dari kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM), kok bisa?

Gara-gara ditekan subsidi, harga energi fosil jadi terlihat jauh lebih murah dibanding biaya produksinya. Hasilnya? Insentif untuk melirik sumber energi alternatif pun jadi makin minim.

Dampak Subsidi BBM Terhadap Transisi Energi

Melihat kondisi ini, Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menilai penataan ulang subsidi energi sudah sangat mendesak agar manfaatnya benar-benar tepat sasaran.

Menurutnya, pemerintah wajib mengevaluasi kembali besaran subsidi sekaligus memastikan alokasi anggarannya hanya diterima oleh kelompok masyarakat yang memang membutuhkan.

“Problem kita adalah subsidi. Padahal energi fosil artificially cheap, karena subsidinya besar,” ujar Eddy dalam sebuah forum di Jakarta, dikutip dari Antara.



Untuk menggambarkan jurang harga tersebut, Eddy mencontohkan BBM jenis Pertalite. Saat ini masyarakat membelinya di kisaran Rp10.000 per liter, padahal biaya produksi aslinya tembus sekitar Rp16.100 per liter.

Selisih harga jual dan biaya produksi inilah yang akhirnya ditanggung negara lewat kantong subsidi.

Selisih harga jual dan biaya produksi ini ditanggung negara lewat subsidi, artinya harga yang dibayar konsumen sama sekali tidak mencerminkan angka total penyediaan.Pemerintah rela menutup celah tersebut demi menjaga harga energi tetap terjangkau di kantong publik.

Namun di mata Eddy, dampaknya tidak berhenti pada urusan menjaga daya beli saja. Harga BBM murah hasil subsidi ini rupanya ikut memengaruhi cara pandang serta keputusan konsumen dan dunia usaha dalam memilih jenis energi.





Mendesaknya Penataan Ulang Subsidi Energi

Selama BBM fosil terus dijual murah, dorongan untuk pindah ke kendaraan listrik, energi terbarukan, atau teknologi rendah emisi bakal tetap loyo. Alhasil, ritme Indonesia dalam mengejar target transisi energi pun terancam melambat.

Sebagai solusinya, Eddy menyarankan agar pemerintah melakukan penyesuaian besaran subsidi (right sizing) sekaligus memperketat ketepatan sasaran penerimanya (right targeting).

Langkah ini diyakini mampu menghemat anggaran negara yang nantinya bisa dialokasikan langsung untuk mendanai agenda transisi energi.



“Kalau kita bisa lakukan right sizing dan right targeting dari subsidi itu, tentu ada sebagian penghematan yang bisa kita gunakan untuk membiayai transisi energi yang ada sekarang,” katanya.

Penataan subsidi ini juga krusial demi menciptakan struktur harga energi yang transparan dan mencerminkan biaya sebenarnya. Menurut Eddy, hal ini penting agar energi fosil tidak terus-menerus memegang keunggulan harga yang terlampau jauh ketimbang sumber energi bersih.

Alokasi Anggaran untuk Transisi Energi dan Target Nasional

Di waktu yang sama, kebutuhan dana untuk mempercepat proyek energi terbarukan sangat fantastis. Eddy memperkirakan Indonesia butuh suntikan investasi hingga 180 miliar dolar AS sampai tahun 2034 mendatang.

Modal raksasa ini diperlukan untuk membangun pembangkit listrik berbasis energi terbarukan beserta seluruh infrastruktur pendukungnya.



Di sinilah penataan subsidi BBM memegang peranan kunci. Jika alokasi subsidi bisa dirapikan dan tepat sasaran, ruang fiskal yang tercipta bakal sangat membantu mendanai pembangunan infrastruktur energi bersih nasional.

Sebagai gambaran, porsi bauran energi terbarukan Indonesia saat ini baru menyentuh angka 17 persen. Jika proyek penambahan kapasitas pembangkit berjalan mulus, porsinya ditargetkan melonjak hingga mendekati 30 persen pada 2034 dan menembus kisaran 40 persen di tahun 2040.

Pada akhirnya, isu subsidi BBM bukan sekadar urusan nominal rupiah di SPBU. Kebijakan ini berdampak langsung pada tata kelola anggaran negara, pola konsumsi harian masyarakat, daya tarik investasi energi terbarukan, hingga seberapa cepat Indonesia bisa lepas dari ketergantungan energi fosil.

FAQ Artikel

Mengapa subsidi BBM menjadi hambatan transisi energi bersih?

Subsidi membuat harga energi fosil (seperti BBM) terlihat jauh lebih murah dari biaya produksinya. Hal ini mengurangi insentif bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk beralih ke sumber energi alternatif atau kendaraan listrik.

Siapa yang menyarankan penataan ulang subsidi energi?

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menilai penataan ulang subsidi energi sudah sangat mendesak agar manfaatnya benar-benar tepat sasaran.

Apa solusi yang disarankan untuk subsidi energi?

Eddy Soeparno menyarankan agar pemerintah melakukan penyesuaian besaran subsidi (right sizing) sekaligus memperketat ketepatan sasaran penerimanya (right targeting). Langkah ini diyakini mampu menghemat anggaran negara.

Berapa besar investasi yang dibutuhkan Indonesia untuk proyek energi terbarukan hingga tahun 2034?

Indonesia diperkirakan membutuhkan suntikan investasi hingga 180 miliar dolar AS sampai tahun 2034 mendatang. Dana ini diperlukan untuk membangun pembangkit listrik berbasis energi terbarukan beserta seluruh infrastruktur pendukungnya.

Apa target porsi bauran energi terbarukan Indonesia?

Dari porsi saat ini sekitar 17 persen, ditargetkan melonjak hingga mendekati 30 persen pada 2034 dan menembus kisaran 40 persen di tahun 2040, jika proyek penambahan kapasitas pembangkit berjalan mulus.

Brian Priambudi

Brian Priambudi

Jurnalis

Berpengalaman dalam review mobil dan motor.  Pengalaman menjadi jurnalis otomotif sejak 2018.
Lihat semua artikel →
populerRelated Article