icon-category Lifestyle

Survei: Pemimpin Tidak Jujur, Banyak Karyawan Bakal "Resign" dalam Setahun

  • 18 Oct 2018 WIB
  • Bagikan :

    Uzone.id - Kebanyakan pemimpin percaya bahwa mereka sudah cukup kompeten dalam memimpin perusahaan. Padahal terdapat beberapa perilaku yang tanpa sadar dapat berdampak buruk terhadap karyawan.

    Survei Dale Carnegie bertajuk Global Leadership Study (2017) menyebut perilaku itu “titik buta” yang terdiri dari empat hal, yaitu menunjukkan apresiasi, mengaku ketika salah, sungguh-sungguh mendengarkan, dan jujur pada diri sendiri maupun orang lain.

    Namun hasil survei tersebut menunjukkan angka yang masih rendah. Kejujuran pada diri sendiri maupun orang lain menjadi perilaku “titik buta” dengan persentase paling kecil, dibandingkan perilaku lainnya.

    Baca: Banyak Orang Indonesia Konsumsi Makanan Tidak Bergizi

    Faktanya, hanya 32 persen karyawan yang merasa pemimpinnya selalu jujur. Bahkan, 11 persen karyawan Indonesia merasa atasan mereka jarang atau tidak pernah bersikap jujur dan dapat dipercaya oleh orang lain.

    Padahal, semakin pemimpin bersikap jujur dan dapat dipercaya, motivasi karyawan meningkat hingga 41 kali. Sebaliknya, bila pemimpin di Indonesia jarang atau tidak pernah jujur dengan orang lain, 64 persen karyawannya akan mengundurkan diri dalam waktu satu tahun.

    Studi ini melibatkan sekitar 4.400 pekerja tetap di 17 negara dan empat benua, termasuk Indonesia. Responden yang terlibat mulai dari karyawan hingga direktur atau pemilik perusahaan.

    Baca: 5 Kesalahan yang Dilakukan Pelancong Saat Kali Pertama Liburan ke Luar Negeri

    Survei ini menggunakan metode online web-based survey. Di Indonesia, studi menyertakan sekitar 205 pekerja dari perusahaan kecil hingga besar, dengan usia di atas 21 tahun.

    Stephen Siregar, Area Director Dale Carnegie Indonesia, mengungkapkan, “Minimnya angka pemimpin yang konsisten terhadap perilaku jujur akan mempengaruhi kinerja karyawan.”

    Karena itu, Stephen mengingatkan para pemimpin untuk mengetahui dan mengatasi titik-titik buta mereka.

    “Dengan demikian, karyawan akan merasa termotivasi dan terinspirasi dengan pekerjaan mereka, sehingga berkeinginan untuk melakukan upaya terbaik guna mencapai tujuan perusahaan atau organisasinya,” ungkap Stephen.

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini