home ×
Startup

Apa yang Harus Dipertimbangkan Jika Startup Berencana Merger?

07 December 2020 By
Apa yang Harus Dipertimbangkan Jika Startup Berencana Merger?
Share
Share
Share
Share

Photo by Charles Deluvio on Unsplash

Kolom oleh: Fajrin Rasyid, Direktur Digital Business PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom)

Uzone.id - Prediksi menarik datang dari Direktur Investasi BRI Ventures William Gozali November lalu. Beliau mengatakan bahwa tren konsolidasi (merger dan akuisisi) akan terjadi di ekosistem startup e-commerce pada 2021. Menurutnya, langkah konsolidasi bisa berfokus pada efisiensi dan perkuatan platform. 

Belum lagi, belakangan juga santer terdengar dua decacorn Gojek dan Grab sedang dalam proses penggabungan bisnis. Secara umum, sebenarnya apa saja yang harus dipertimbangan bagi startup jika berencana merger dan bagaimana cara menargetkan perusahaan yang akan diajak kolaborasi tersebut?

Baca juga: Kapan Startup Layak Go Global?

Yang pertama perlu diperhatikan adalah sinergi. Dalam melakukan konsolidasi, salah satu syarat utama adalah perusahaan hasil konsolidasi dari dua atau lebih perusahaan akan lebih baik daripada apabila perusahaan-perusahaan tersebut berjalan sendiri-sendiri. Dengan kata lain, apabila 2 startup melakukan merger, maka potensi nilai startup hasil merger harus lebih besar daripada penjumlahan nilai startup keduanya.

Sinergi biasanya lebih mudah dicapai bagi perusahaan-perusahaan yang bersifat komplementer, atau saling melengkapi. Dalam kasus di atas, perusahaan-perusahaan yang santer disebut memberikan layanan yang sama sehingga terdapat potensi redundansi khususnya dalam menghadirkan layanan pelanggan.

Mari kita ambil contoh dua perusahaan e-commerce A dan B yang melakukan konsolidasi. Apabila salah satu layanan e-commerce - misalnya e-commerce A - dimatikan, maka potensi transaksi dan pendapatan dari layanan A tersebut akan berkurang karena belum tentu seluruh pelanggan A akan berpindah ke B.

Baca juga: Bagaimana Menghitung ROI Bisnis Digital?

Namun, apabila A dan B tetap dipertahankan, maka tentu saja biaya dan investasi untuk mengembangkan keduanya akan kurang optimal dibandingkan dengan mengalokasikan seluruh sumberdaya untuk fokus ke salah satu saja.

Dengan demikian, langkah pertama bagi startup yang ingin melakukan konsolidasi adalah mendata siapa startup atau perusahaan lain yang dapat menghasilkan sinergi terbesar dengan startup tersebut. Lakukan analisis internal khususnya terkait SWOT analysis dan eksternal khususnya terkait kondisi pasar dan kompetisi serta ekosistem lain yang berhubungan.

Setelah itu, penting bagi startup tersebut untuk mempertimbangkan positioning yang dapat diambil oleh masing-masing setelah merger. Misalnya, e-commerce A dapat berfokus kepada customer segment atau posisi di dalam supply chain tertentu dan e-commerce kepada selain itu. Jangan lupa untuk juga melakukan analisis terkait legal dan regulasi yang berlaku serta konsekuensi terhadap keuangan dan perpajakan. 

Saya sendiri melihat prediksi yang disampaikan oleh William Gozali memiliki kemungkinan yang cukup tinggi untuk terjadi. Alternatif yang mungkin terjadi adalah, satu atau beberapa perusahaan tersebut bisa jadi akan go public atau setidaknya mempersiapkan untuk go public. Saya berpikir sudah waktunya hal ini terjadi agar ekosistem startup di Indonesia berkembang lebih cepat lagi.

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini

Contact Us:
Redaksi: redaksi@uzone.id
Sales: sales@uzone.id
Marketing: marketing@uzone.id
Partnership: partnership@uzone.id

Related Article