Home
/
Startup

Bukan Cuma E-Commerce, Bank dan Fintech juga Bakal Kena Pajak Digital

Pajak digital Indonesia diundur hingga 9 November 2026, berlaku untuk layanan digital guna tingkatkan penerimaan negara dari PPh 0,5 persen marketplace.

Bukan Cuma E-Commerce, Bank dan Fintech juga Bakal Kena Pajak Digital

Bagikan :

Highlight Artikel

  • Penerapan pajak digital di Indonesia diundur menjadi 9 November 2026.
  • Pajak digital akan diperluas cakupannya tidak hanya ke e-commerce, tetapi juga bank pemerintah, swasta, dan fintech.
  • Kebijakan ini bertujuan meningkatkan penerimaan negara, menurut Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi.
  • Marketplace akan memungut PPh Pasal 22 sebesar 0,5% dari pendapatan penjual, yang sempat ditunda hingga 1 November.

Uzone.id — Pemerintah Indonesia kembali mengundur tanggal penerapan pajak digital dari tanggal 1 November 2026 menjadi 9 November 2026. 

Dalam pembaruan ini, gak cuma e-commerce saja tapi juga akan diterapkan ke bank pemerintah, bank swasta hingga perusahaan teknologi finansial (fintech).

Rencana tersebut disampaikan Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia pada Kamis (29/10).

“Kita mulai dengan transaksi yang namanya digital taxation, pajak digital. Ini akan segera dilaksanakan tanggal 9 November,” ungkap Hashim dalam Rapimnas Kadin, mengutip siaran YouTube resmi Kadin, Senin, (02/10).




Hashim menyebut kebijakan tersebut akan segera dijalankan dengan melibatkan berbagai penyedia layanan transaksi digital.

Ia mengatakan, seluruh bank pemerintah dan swasta serta perusahaan fintech akan dilibatkan dalam mekanisme tersebut. Sejumlah platform e-commerce, seperti Shopee, Lazada, Tokopedia/TikTok Shop (GoTo) dan juga Blibli.

“Semua bank pemerintah, bank swasta dan semua fintech, termasuk Shopee, Lazada, GoTo dan sebagainya harus ikut pungut dan harus setor pajak yang selama ini tidak dipungut,” tambahnya.

Menurut Hashim, kebijakan pajak digital menjadi salah satu langkah pemerintah untuk meningkatkan penerimaan negara. Ia menilai Indonesia masih memiliki ruang untuk mengoptimalkan pendapatan dari sektor perpajakan.

Salah satunya, Hasyim menyoroti rasio penerimaan negara Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) yang disebut baru mencapai sekitar 12 persen. Angka tersebut mencakup penerimaan pajak, cukai, dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto menjelaskan bahwa pemungutan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 atas transaksi penjual di marketplace masih ditunda hingga 31 Oktober mendatang. Setelah masa penundaan itu berakhir, kebijakan akan dijalankan sesuai kesiapan masing-masing platform.




“Marketplace itu kan ditunda sampai 31 Oktober. Nanti insyaallah 1 November akan kita berlakukan sesuai dengan kesiapan para platform,” kata Bimo setelah konferensi pers APBN KiTa pada Jumat (18/9/2026). 

Dalam penundaan ini, platform e-commerce pun memiliki waktu untuk mempersiapkan pelaksanaan kewajiban pemungutan PPh, termasuk menyiapkan sistem sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 

Nantinya, marketplace akan memungut PPh Pasal 22 sebesar 0,5 persen dari pendapatan penjual yang tercantum dalam tagihan, di luar PPN dan pajak penjualan atas barang mewah.

FAQ Artikel

Kapan tanggal penerapan pajak digital terbaru di Indonesia?

Penerapan pajak digital di Indonesia diundur dari 1 November 2026 menjadi 9 November 2026.

Pihak mana saja yang akan dikenakan pajak digital ini?

Pajak digital akan diterapkan pada e-commerce, bank pemerintah, bank swasta, dan perusahaan teknologi finansial (fintech), termasuk platform seperti Shopee, Lazada, GoTo, dan Blibli.

Siapa yang menyampaikan informasi mengenai kebijakan pajak digital ini?

Rencana kebijakan ini disampaikan oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin Indonesia.

Apa tujuan pemerintah menerapkan kebijakan pajak digital?

Kebijakan pajak digital ini merupakan salah satu langkah pemerintah untuk meningkatkan penerimaan negara, karena rasio penerimaan negara Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih sekitar 12 persen.

Berapa besaran PPh Pasal 22 yang akan dipungut oleh marketplace?

Marketplace akan memungut PPh Pasal 22 sebesar 0,5 persen dari pendapatan penjual yang tercantum dalam tagihan, di luar PPN dan pajak penjualan atas barang mewah.

Vina Insyani

Vina Insyani

Jurnalis

Jurnalis yang berfokus untuk memantau tren viral di sekitar kalian serta mengulik isu yang ramai dibahas di ruang digital.
Lihat semua artikel →
populerRelated Article