Digilife

Cancel Culture: Sejarah ‘Pemboikotan Massal’ di Sosial Media

  • 18 November 2021
  • Bagikan :
    Cancel Culture: Sejarah ‘Pemboikotan Massal’ di Sosial Media

    Ilustrasi foto: Markus Winkler/Unsplash

    Uzone.id - Fenomena Cancel Culture sepertinya makin sering ditemukan di sosial media, khususnya sosial media populer seperti Twitter, Instagram, YouTube dan lainnya. 

    Fenomena ini tak hanya dilakukan pada publik figure saja tapi juga pada brand, tayangan dan bahkan film yang dinilai melakukan hal yang sudah kelewat batas dan merugikan.

    Sesuai namanya, budaya cancel ini merujuk pada maksud ‘membatalkan’ satu pihak tertentu, atau lebih tepatnya memboikot seseorang baik itu di dunia nyata maupun di sosial media.

    Sering terjadi bahwa aksi cancel culture ini dilakukan oleh massa di sosial media, baik itu menyerang akun pribadi, menaikkan hashtag, memblokir hingga mereport akun ketika seseorang telah menyalahi norma yang ada.

    Kemudian jika skandal dan kasus tersebut benar adanya, dampak tersebut kemudian akan terasa ke dunia nyata, pemutusan kerjasama hingga yang paling parah adalah berakhirnya karir sang public figure.

    Baca juga: China Hapus Nama Aktris Cantik Vicki Zhao di Internet

    Contoh yang paling baru adalah pemboikotan salah satu bintang populer asal China, Kris Wu dan Vicki Zhao, serta salah satu aktor Korea Selatan pemeran Han Jip Yeong alias Kim Seon Ho.

    Sebenarnya, bagaimana sih sejarah awal adanya Cancel Culture ini? Berikut pemaparannya.

    Ternyata, akar dari fenomena Cancel Culture ini sudah ada sepanjang sejarah manusia. Hal ini disampaikan oleh Dr Jill McCorkel, seorang profesor sosiologi dan kriminologi Universitas Villanova.

    Manusia telah menghukum orang yang berperilaku di luar norma sosial selama berabad-abad lalu, dan cancel culture ini menjadi salah satu dari varian ‘hukuman’ tersebut, jelasnya, dikutip dari New York Post.

    “Cancel culture adalah perpanjangan atau evolusi kontemporer dari serangkaian proses sosial yang lebih berani yang dapat kita lihat dalam bentuk ‘pengusiran.” katanya.

    “(Mereka) dirancang untuk memperkuat seperangkat norma,” tambahnya.

    Dilihat dari kamus Merriam Webster, cancel culture ini adalah sebuah praktek atau kecenderungan melakukan ‘pembatalan’ secara massal, sebagai cara untuk mengungkapkan ketidaksetujuan dan memberikan tekanan sosial.

    Kapan Cancel culture mulai terkenal di sosial media?

    Mengutip dari Vox, salah satu referensi pertama ‘membatalkan’ seseorang dalam film berjudul New Jack City, pada tahun 1991. 

    Ironisnya, kalimat ini muncul dari lelucon bernada misogini yang dilontarkan oleh tokoh Nino Brown dalam film tersebut. Berlanjut ke tahun 2010, Lil Wayne turut mereferensikan dialog ini dalam lagunya ‘I’m Single’.

    Namun, kata Cancelling ini mulai aktif digunakan di sosial media pada tahun 2014 setelah salah satu cast dari VH1 Love and Hip-Hop: New York menyebut “Kamu dibatalkan!” atau “You’re cancelled” pada lawan mainnya ketika beradegan berkelahi.

    Selanjutnya, kata tersebut menjadi ‘trend’ dalam platform sosial media, khususnya Twitter.

    Lalu, dengan perkembangan yang cukup pesat, istilah ini kemudian diterapkan kepada para tokoh terkemuka baik itu musisi, influencer, politisi, aktor maupun aktris yang dinilai menyalahi aturan dan norma.

    Di tahun 2016, istilah Cancel Culture ini kemudian secara resmi masuk ke dalam kamus besar Merriam Webster.

    Bagaimana sih Cancel Culture itu bekerja?

    Public figure rentan mengalami cancel culture ketika mereka ketahuan terkena skandal. Di beberapa negara, penerapan cancel culture ini cukup berbeda, meski inti dari tindakan ini sama sebenarnya, menghukum secara massal tokoh yang melanggar dan menyalahi norma yang ada.

    Di Amerika Serikat khususnya Hollywood, cancel culture ini dilakukan pada orang-orang yang melakukan pelanggaran norma seperti rasisme, isu kemanusiaan, homophobic, seksisme, isu kebudayaan, pelecehan seksual, kekerasan, dan lainnya yang dianggap menyinggung norma dan suatu golongan tertentu.

    Dampak yang dialami cukup beragam, ada yang masih mendapat kesempatan untuk berkarya, namun ada pula yang karirnya langsung redup akibat skandal yang mereka lakukan.

    Contohnya saja host kondang Ellen DeGeneres yang di cancel karena dianggap memiliki sikap yang buruk, bahkan hal ini dibocorkan oleh beberapa mantan pegawai acara talkshow tersebut.

    Akibat cancel culture ini, ia mengalami penurunan followers di media sosialnya di tahun 2020, begitupun rating acaranya yang terus anjlok hingga dipastikan akan berakhir tahun 2022 mendatang.

    Di Korea Selatan, budaya ‘pembatalan’ ini terasa lebih kejam. Aktor atau aktris yang terbukti terkena skandal akan dituntut untuk mundur dari dunia entertainment Korea Selatan. Mereka diminta untuk tidak muncul secara publik, termasuk di televisi ataupun di sosial media.

    Baca juga: Lawan Fan Culture, China Hapus Vicki Zhao hingga Kris Wu di Internet

    Skandal yang di ‘cancel culture’ di Korea Selatan biasanya berupa tindakan bullying, rasisme, narkoba, pelecehan seksual, dan tindakan yang dianggap merusak moral yang berlaku di negara tersebut. 

    Selain memberikan hukuman secara online, para warganet Korea ini biasanya membuat petisi agar mereka mundur. Dampak lain dari cancel culture ini adalah pembatalan projek, iklan, dan bahkan penyensoran dan pemotongan adegan yang menayangkan aktor/aktris yang di cancel.

    Meski begitu, untuk beberapa kasus, meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama, aktor atau aktris tersebut masih berkesempatan untuk kembali ke panggung hiburan, tergantung dengan seberapa berat skandal yang mereka lakukan.

    Di China, perilaku yang tak sesuai dengan norma sosial juga menjadi salah satu pendorong cancel culture pada seseorang. 

    Sebut saja Kris Wu dan Zheng Shuang yang kena cancel akibat melakukan tindakan yang dianggap melanggar moral. Kris Wu dengan kasus pelecehan seksualnya, dan Zheng Shuang yang disebut telah menelantarkan anaknya demi karir.

    Hasilnya, tokoh publik yang di cancel ini dihapus dari sosial media China, karya-karyanya dicabut dan dihapus penayangannya. Dan tentunya, karir mereka sudah dipastikan berakhir.

    Selain itu, pihak pemerintah China juga ambil andil dalam cancel culture pada public figure mereka. Jika ada artis yang dinilai tidak sesuai dengan nasionalisme dan ideologi partai komunis yang menguasai China, maka mereka pun akan di cancel oleh pemerintah.

    Contohnya adalah Vicki Zhou yang ‘dilenyapkan’ oleh pemerintah China dari sosial media dan dunia entertainment China.

    Negara mana sih yang menerapkan Cancel Culture?

    Sejauh ini, ada tiga negara yang populer dengan istilah Cancel Culture. Yang pertama adalah negara asalnya, Amerika Serikat atau bisa dibilang ranah Hollywood, Korea Selatan, dan China.

    Namun, budaya cancel culture juga akhir-akhir ini sudah mulai diterapkan oleh negara lainnya. termasuk  warganet Indonesia pada publik figure yang dianggap tak pantas hadir di depan layar kaca. Salah satunya pemboikotan Saipul Jamil akibat tindak pelecehan seksual yang ia lakukan.

    Di Hollywood, nama-nama terkenal seperti JK Rowling, Johnny Depp, Ellen Degeneres, dan penyanyi R. Kelly yang menyanyikan lagu ‘I Believe I Can Fly’ pun ikut di cancel karena skandal yang mereka lakukan.

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini