Daftar Lengkap Pelat Nomor Mobil Pejabat RI Era Presiden Prabowo
Ada pembaruan skema pelat nomor khusus pejabat negara, meliputi Presiden hingga wakil menteri, dengan pendaftaran ulang per Desember 2024.

Highlight Artikel
- Pejabat negara diberikan privilese menggunakan pelat nomor khusus dengan detail huruf dan angka yang berbeda dari pelat umum.
- Kementerian Sekretariat Negara telah menerbitkan skema pendaftaran ulang per Desember 2024, menambahkan sub-kode angka kecil untuk wakil menteri.
- Skema penomoran lama mengacu pada 42 unit nomor utama, dimulai dari RI 1 (Presiden) hingga RI 42 (Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas).
- Skema baru per Desember 2024 memperluas penomoran secara signifikan, memperkenalkan sub-kode angka untuk posisi wakil menteri dan kementerian yang lebih spesifik di bawah menko.
Uzone.id - Para pejabat negara mndapat privilage dengan menggunakan pelat nomor khusus, meskipun secara tampilan tidak berbeda dengan pelat nomor umum. Perbedaan huruf dan angka yang harus diperhatikan.
Kementerian Sekretariat Negara menerbitkan skema pendaftaran ulang per Desember 2024 dengan menambahkan sub-kode angka berukuran kecil di pojok kanan bawah plat kontrol.Skema Penomoran Pelat Dinas Pejabat Tinggi Negara
Melalui sistem ini, menteri utama menggunakan nomor pokok, sedangkan posisi wakil menteri ditandai dengan angka turunan, seperti pelat RI 22 untuk Menko Polkam dan RI 22 2 untuk Wamenko Polkam.
Melansor website Daihatsu, struktur kendaraan dinas pejabat tinggi negara pada dasarnya mengacu pada 42 unit nomor utama tanpa huruf seri di bagian belakang.
Garis penomoran paling atas dipesan khusus untuk pimpinan tertinggi eksekutif, yakni RI 1 untuk Presiden Republik Indonesia, RI 2 untuk Wakil Presiden, RI 3 untuk Istri Presiden, serta RI 4 untuk Istri Wakil Presiden.
Selanjutnya, deretan pimpinan lembaga tinggi dan tinggi negara menempati urutan RI 5 untuk Ketua MPR, RI 6 untuk Ketua DPR, RI 7 untuk Ketua DPD, RI 8 untuk Ketua MA, RI 9 untuk Ketua MK, RI 10 untuk Ketua BPK, dan RI 11 untuk Ketua KY.
Otoritas moneter, jasa keuangan, dan administrasi negara diwakili oleh RI 12 untuk Gubernur Bank Indonesia, RI 13 untuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta RI 14 untuk Kementerian Sekretariat Negara.
Adapun jajaran menteri koordinator era sebelumnya menggunakan RI 15 untuk Menko Polhukam, RI 16 untuk Menko Perekonomian, RI 17 untuk Menko PMK, serta RI 18 untuk Menko Kemaritiman.
Sedangkan pelat nomor RI 19 yang dulunya dialokasikan bagi Menteri Hukum dan HAM kini tercatat kosong atau tidak tersedia.
Daftar penomoran pokok bagi kementerian teknis dalam skema awal 42 unit tersebut mencakup RI 20 untuk Kementerian Dalam Negeri, RI 21 untuk Kementerian Luar Negeri.
Lalu RI 22 untuk Kementerian Pertahanan, RI 23 untuk Kementerian Agama, RI 24 untuk Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, RI 25 untuk Kementerian Keuangan.
Selanjutnya, RI 26 untuk Kementerian Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah, RI 27 untuk Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, RI 28 untuk Kementerian Kesehatan.
RI 29 untuk Kementerian Sosial, RI 30 untuk Kementerian Ketenagakerjaan, RI 31 untuk Kementerian Perindustrian, RI 32 untuk Kementerian Perdagangan, RI 33 untuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
RI 34 untuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, RI 35 untuk Kementerian Perhubungan, RI 36 untuk Kementerian Komunikasi dan Informatika, RI 37 untuk Kementerian Pertanian.
RI 38 untuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, RI 39 untuk Kementerian Kelautan dan Perikanan, RI 40 untuk Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.
Terakhir, RI 41 untuk Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, serta RI 42 untuk Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.
Perluasan Skema Penomoran per Desember 2024
Perkembangan penataan per Desember 2024 membawa perluasan besar pada penanda spesifik pejabat Kabinet Merah Putih.
Sektor dalam negeri kini memuat RI 15 untuk Mendagri, RI 15 2 untuk Wamendagri 1, dan RI 15 3 untuk Wamendagri 2. Perencanaan pembangunan diisi oleh RI 20 untuk Men PPN/Kepala Bappenas dan RI 20 2 untuk Wamen PPN/Wakil Kepala Bappenas.
Reformasi birokrasi diwakili RI 21 untuk Menpan RB dan RI 21 2 untuk Wamenpan RB. Rangkaian kelompok RI 22 mencakup RI 22 untuk Menko Polkam, RI 22 2 untuk Wamenko Polkam, RI 22 3 untuk Menteri Komdigi, serta RI 22 4 dan RI 22 5 untuk dua posisi Wamen Komdigi.
Kelompok RI 24 menjadi wadah bagi kementerian di bidang perekonomian, industri, dan investasi, meliputi RI 24 untuk Menko Perekonomian, RI 24 2 untuk Menaker, RI 24 3 untuk Wamenaker.
RI 24 4 untuk Menperin, RI 24 5 untuk Wamenperin, RI 24 6 untuk Mendag, RI 24 7 untuk Wamendag, RI 24 8 untuk Men ESDM, RI 24 9 untuk Wamen ESDM, RI 24 10 untuk Men BUMN, RI 24 11 untuk Wamen BUMN 1, RI 24 12 untuk Wamen BUMN 2, RI 24 13 untuk Wamen BUMN 3.
RI 24 14 untuk Men Investasi, RI 24 15 untuk Wamen Investasi, RI 24 16 untuk Men Pariwisata, serta RI 24 17 untuk Wamen Pariwisata.
Sementara itu, kelompok RI 25 menaungi urusan kemasyarakatan, pendidikan, dan sumber daya manusia, yang diisi oleh RI 25 untuk Menko PMK, RI 25 2 untuk Menteri Agama, RI 25 3 untuk Wamen Agama, RI 25 4 untuk Mendikdasmen, RI 25 5 dan RI 25 6 untuk para Wamendikdasmen.
RI 25 7 untuk Mendiktisaintek, RI 25 8 dan RI 25 9 untuk para Wamendiktisaintek, RI 25 10 untuk Menteri Kebudayaan, RI 25 11 untuk Wamen Kebudayaan, RI 25 14 untuk Menteri Dukbangga/BKKBN.
RI 25 15 untuk Wamen Dukbangga/BKKBN, RI 25 16 untuk Menteri PPPA, RI 25 17 untuk Wamen PPPA, RI 25 18 untuk Menpora, serta RI 25 19 untuk Wamenpora.
Ekspansi pelat dinas dilanjutkan pada kelompok RI 26 untuk sektor infrastruktur dan kewilayahan, meliputi RI 26 untuk Menko IPK, RI 26 2 untuk Menteri PU, RI 26 3 untuk Wamen PU, RI 26 4 untuk Menteri PKP, RI 26 5 untuk Wamen PKP.
RI 26 6 untuk Menteri Transmigrasi, RI 26 7 untuk Wamen Transmigrasi, RI 26 8 untuk Menteri Perhubungan, RI 26 9 untuk Wamen Perhubungan, RI 26 10 untuk Menteri ATR/BPN, serta RI 26 11 untuk Wamen ATR/BPN.
Kelompok RI 27 difokuskan pada pemberdayaan dan ekonomi kreatif, terdiri dari RI 27 untuk Menko Pemmas, RI 27 2 untuk Menteri Sosial, RI 27 3 untuk Wamen Sosial.
RI 27 4 untuk Menteri PPMI, RI 27 5 dan RI 27 6 untuk Wamen PPMI 1 dan 2, RI 27 7 untuk Mendes PDT, RI 27 8 untuk Wamendes PDT, RI 27 9 untuk Menkop, RI 27 10 untuk Wamenkop.
RI 27 11 untuk Menteri UMKM, RI 27 12 untuk Wamen UMKM, RI 27 13 untuk Menteri Ekraf, serta RI 27 14 untuk Wamen Ekraf.
Bidang pangan dan lingkungan hidup terwakili oleh RI 28 2 untuk Mentan, RI 28 3 untuk Wamentan, RI 28 4 untuk Menhut, RI 28 5 untuk Wamenhut, RI 28 8 untuk MenLH, dan RI 28 9 untuk Wamen LH.
Penutup daftar pembaruan ini diisi oleh pejabat hukum dan lembaga khusus, yakni RI 29 untuk Jaksa Agung, RI 33 6 untuk Kepala BPIP, RI 33 7 untuk Wakil Kepala BPIP, RI 33 8 untuk Kepala BRIN, serta RI 34 untuk KSP dan RI 34 2 untuk Wakil KSP.
Seluruh tatanan baru ini mempertegas legalitas dan identitas operasional pejabat pemerintah di jalan raya.
FAQ Artikel
Apa perbedaan pelat nomor khusus pejabat dengan pelat nomor umum?
Perbedaan utama terletak pada detail huruf dan angka khusus serta adanya sub-kode angka kecil di pojok kanan bawah pelat kontrol untuk pejabat wakil menteri dalam skema baru yang berlaku per Desember 2024.
Kapan skema pendaftaran ulang pelat nomor pejabat ini mulai berlaku?
Skema pendaftaran ulang dengan penambahan sub-kode angka ini diterbitkan oleh Kementerian Sekretariat Negara dan mulai berlaku per Desember 2024.
Siapa yang menggunakan pelat nomor RI 1 dan RI 2?
Pelat nomor RI 1 diperuntukkan bagi Presiden Republik Indonesia, sedangkan RI 2 digunakan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia.
Apa saja perubahan signifikan dalam skema penomoran pelat dinas per Desember 2024?
Perubahan signifikan meliputi perluasan penanda spesifik dengan penambahan sub-kode angka untuk posisi wakil menteri dan pengelompokan kementerian di bawah menko yang lebih detail, seperti RI 22 untuk Menko Polkam dan RI 22 2 untuk Wamenko Polkam.



