icon-category Startup

Kapan Startup Harus Move On dari Bakar Duit dan Mulai Gali Profit?

  • 05 Sep 2022 WIB
  • Bagikan :
    Ilustrasi: Uzone.id/Vescha Permata Sari

    Kolom oleh: Direktur Digital Business Telkom Indonesia, M. Fajrin Rasyid

    Uzone.id -- Salah satu hal yang melekat di benak orang awam mengenai industri startup adalah “bakar duit” atau burn rate. Fenomena ini pada dasarnya tidak melulu negatif, karena di balik bakar duit, ada startup yang sedang mati-matian mengejar pangsa pasar.

    Pasti kita pernah menemui komentar orang yang terheran-heran saat mendapatkan banyak promo di suatu layanan digital, lalu berujar, “besar sekali promonya, mereka dapat untung dari mana?

    Orang awam lainnya kemudian berpikir, paling tidak, uang itu dari kucuran dana para investor yang sengaja digunakan untuk ‘dihamburkan’ demi pengembangan bisnis dan akuisisi pengguna baru.

    Terlepas dari metode bakar duit, yang namanya mengembangkan bisnis tentu pada akhirnya perlu meraih profit. Entah butuh waktu berapa lama – 3 tahun, 7 tahun, atau bahkan 10 tahun – yang jelas pemilik startup dan tentunya investor pasti ingin melihat usaha yang dibangun tersebut dapat menghasilkan profit.

    Baca juga: Free Ongkir Bagai Buah Simalakama E-commerce?

    Nah, kenapa sih startup bakar duit? Ini dikarenakan untuk startup khususnya yang bersifat platform, sangat penting untuk mencapai pertumbuhan hingga mencapai pangsa pasar yang signifikan.

    Hal ini disebabkan oleh network effect atau efek jejaring, yakni ketika startup mencapai ukuran yang signifikan, lebih mudah menjangkau pengguna lainnya. Selain itu, akan sulit bagi kompetitor untuk bersaing atau masuk ketika sebuah startup memiliki pangsa pasar yang siginifikan.

    Sebagai contoh, akan sangat sulit bagi kita untuk membuat startup baru di bidang e-commerce marketplace (yang sudah dikuasai oleh Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee) atau ride-sharing (yang sudah dikuasai Gojek dan Grab).

    Ilustrasi: Unsplash

     

    Ketika sudah mencapai ukuran yang signifikan tersebut, lebih mudah bagi startup untuk mengimplementasikan model bisnis atau pendapatan. Sebagai contoh, apabila kita memesan makanan melalui aplikasi ride-sharing, kita akan dibebankan biaya yang tidak semurah dulu.

    Model bisnis atau pendapatan ini adalah kata kunci yang harus selalu diingat oleh founder. Sebelum founder melakukan bakar duit, startup tersebut harus memiliki model bisnis yang kuat dan dibutuhkan oleh pelanggan. Ketika kondisi ini dipenuhi, barulah startup tersebut melakukan bakar duit untuk mengejar skala atau ukuran.

    Yang berbahaya adalah founder yang melakukan sebaliknya, yakni melakukan bakar duit sebesar-besarnya untuk mencari pelanggan sambil mencari model bisnis. Besar kemungkinan para pelanggan startup tersebut akan kabur begitu bakar duit dihentikan.

    Baca juga: Meneropong metaNesia, Seberapa Penting Ada di Indonesia?

    Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jalan menuju profitabilitas atau keuntungan. Meskipun startup belum memperoleh keuntungan, founder mesti dapat memproyeksikan dengan jelas terkait kapan startup tersebut akan mencapai BEP atau profit.

    Beberapa waktu ini, seiring dengan perang Rusia-Ukraina dan kenaikan inflasi, terjadi penurunan harga saham-saham perusahaan teknologi karena investor ingin mencari investasi yang lebih aman.

    Dampaknya, startup mesti lebih disiplin dalam mengelola keuangan startup termasuk terkait profitabilitas. Bakar uang boleh dilakukan, namun didasari oleh model bisnis yang jelas dan kapan startup tersebut akan menghasilkan profit. Sedapat mungkin startup terus tumbuh baik dari sisi pertumbuhan pengguna dan juga dari sisi keuangan.

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini