icon-category Digilife

Kenapa Siaran TV Analog Harus Mati di Indonesia?

  • 29 Apr 2022 WIB
  • Bagikan :
    Ilustrasi (Aleks Dorohovich / Unsplash)

    Uzone.id - Tahun 2022 jadi lembaran baru bagi dunia pertelevisian Indonesia. Kita mulai menyongsong era siaran TV digital dan mengucapkan selamat tinggal kepada siaran TV analog.

    Mulai tengah malam nanti atau Sabtu (30/4/2022) pukul 00.00 WIB, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) mematikan siaran TV analog atau Analog Switch Off (ASO) di tiga provinsi di 8 kabupaten untuk Tahap 1.

    Pertama, Provinsi Riau yang mencakup Kabupaten Dumai dan Kota Dumai, Kabupaten Bengkalis dan Kkabupaten Meranti di wilayah Siaran Riau 4

    Kedua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mencakup Kabupaten Timor Tengah Utara, Kabupaten Belu, dan Kabupaten Malaka, yang masuk wilayah Siaran NTT.

    BACA JUGA: Tengah Malam Nanti, Siaran TV Analog Mati di 3 Provinsi Ini

    Ketiga Provinsi Papua Barat termasuk Kota Sorong dan Kabupaten Sorong, yang masuk wilayah Siaran Papua Barat.

    Kenapa siaran TV analog harus mati?

    Jadi, siaran TV digital ini jadi solusi untuk mengatasi keterbatasan dan inefisiensi pada penyiaran TV analog.

    Bayangkan saja, siaran TV digital untuk satu kanal siarannya saja bisa diisi dengan jumlah siaran yang lebih banyak.

    Sehingga hal itu akan menciptakan digital dividen. Jadi, sisa frekuensi yang tidak dipakai lagi oleh siaran TV analog, nantinya dipakai untuk telekomunikasi sehingga akan tercipta penguatan internet 5G, transformasi digital atau layanan kebencanaan.

    Menteri Kominfo Johnny G. Plate menjelaskan, TV digital menjamin siaran yang jauh lebih berkualitas, sehingga masyarakat bisa menikmati tayangan TV lebih jernih dan interaktif.

    BACA JUGA: Cara Setting STB di TV Analog untuk Menangkap Siaran TV Digital

    Menurutnya, masyarakat juga nantinya akan memperoleh keuntungan, di antaranya akses internet yang lebih cepat karena adanya efisiensi dalam penggunaan spektrum digital dividen frekuensi untuk penyiaran.

    Johnny juga mengatakan, jika masyarakat Indonesia tetap berada di siaran TV analog, penggunaan frekuensi akan sangat boros.

    "Tetapi ketika kita beralih ke digital, maka kita bisa sepersepuluhnya menghemat frekuensi yang ada ini," kata Johnny.

    Bagi kamu yang masih punya TV tabung atau TV LED namun belum bisa menangkap siaran TV digital, maka TV kamu perlu didukung alat Set Top Box (STB).

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini