icon-category Auto

Menengok Mobil Hidrogen Buatan BRIN, Apa Saja Kehebatannya?

  • 26 May 2022 WIB
  • Bagikan :
    Prof. Dr. Eng. Eniya Listiani Dewi, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material saat diwawancara Tomi Tresnady dari Uzone.id (Foto: Kris / Uzone.id)

    Uzone.id – Bicara mobil bertenaga hidrogen atau fuel cell atau sel bahan bakar, mungkin pikiran kita tertuju pada Toyota Mirai, Hyundai Nexo, atau Honda Clarity di mana masing-masing mobil tersebut sudah diproduksi massal.

    Hidrogen pada fuel cell tidak dibakar, melainkan berubah menjadi energi listrik untuk menggerakkan roda kendaraan.

    Indonesia ternyata tak ketinggalan soal teknologi fuel cell. Fuel cell buatan anak bangsa sudah ada prototipenya dan sebetulnya sudah siap masuk industri.

    Prototipe fuel cell dibuat oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN. Di mana penciptanya adalah Prof. Dr. Eng. Eniya Listiani Dewi, yang juga menjabat Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material.

    Untuk jadi mobil hidrogen, Eniya mengambil basis mobil golf kemudian di-'swap engine' dengan fuel cell dengan spesifikasi 2,5kW PEMFC, motor penggerak 48VDC/3,7 kW. Selain itu, dipakai juga photo voltaic 200Wp dan Lithium Battery 48V/80Ah.

    Jadi, mobil tersebut tak cuma digerakkan oleh hidrogen, namun baterai yang dayanya di-charge oleh photo voltaic. 

    Eniya menceritakan, jauh sebelum mobil hidrogen tercipta, dia sebetulnya sudah melakukan penelitian di tahun 2003 usai mendapat gelar Doktor.

    BACA JUGA: Wuling Experience Weekend Tebar Promo Menarik

    Mobil hidrogen buatan BRIN (Foto: Tomi Tresnady / Uzone.id)

    Saat itu, dia membuat oksigen baterai karena di laboratorium tidak bisa menggunakan hidrogen. Lalu, setelah di Jakarta melanjutkan penelitian hidrogen.

    “Jadi, sudah dari awal ya kita membuat pemanfaatan hidrogen, mengkonversi hidrogen dengan oksigen menjadi air untuk menghasilkan listrik. Itu penelitian mengenai sel bahan bakar atau fuel cell atau sel tunam bahasanya,” tutur Eniya saat ditemui Uzone.id di gedung BRIN.

    Setelah bisa membuat fuel cell atau sel bahan bakar sendiri pada tahun 2012. itu bisa berguna untuk electrolyzer, selanjutnya diberi arus listrik dan jadilah hidrogen dan oksigen yang terpisah.

    Mobil Hidrogen Punya Banyak Keuntungan

    Mobil berbasis baterai saat ini memang lebih disukai masyarakat dunia dibandingkan mobil berbasis hidrogen. Hal itu karena infrastruktur atau ekosistem kendaraan berbasis baterai sudah tercipta dibandingkan kendaraan hidrogen.

    Meski demikian, Eniya mengatakan jika mobil hidrogen punya keuntungan, yakni:

    1. Minim perawatan
    2. Kendaraan tak seperti mobil berbasis Battery Electric Vehicle (BEV) yang harus nge-charge baterai sampai berjam-jam
    3. Jangkauan berkendara lebih jauh dari kendaraan berbasis baterai
    4. Bobot jauh lebih ringan dari kendaraan baterai
    5. Efisiensi energi juga jauh lebih tinggi. Apalagi dibandingkan dengan mesin konvensional.

    “Berapa persen listrik yang dihasilkan (hidrogen) itu efisiensinya bisa mencapai 85 persen. Kalau kita pakai bensin itu efisiensinya itu hanya 15-25 persen,” terang Eniya.

    Dibalik semua kelebihan pada kendaraan hidrogen, ada kekurangannya juga seperti harga gas hidrogen belum ada standar untuk dijual ke transportasi.

    Jadi, masih menggunakan standar industri yang rata-rata masih mahal. Apalagi infrastruktur juga belum tersedia.

    BACA JUGA: Community Week: Harga Spare Part Toyota Kijang Super Kok Murah Banget?

    “Infrastruktur ini yang terutama untuk hidrogen fueling station karena umumnya yang dipakai itu umumnya high pressure hidrogen yang skalanya itu 50 Mega Pascal atau 70 Mega Pascal, itu 2 kali CNG. Jadi dalam tanda kutip kita harus menguasai masalah safety. Tapi kalau sudah di mobil tidak masalah, itu tidak lebih berbahaya dari bensin,” katanya.

    Eniya sudah melakukan uji coba berkali-kali mengenai keamanan tabung hidrogen. Bahkan dalam uji coba menggunakan peluru yang ditembakkan ke tabung. Hasilnya, tabung tidak meledak.

    “Kalau ditembak nih, kan sudah uji coba berkali-kali. Tangki hidrogen itu ditembak pakai bullet ya, itu tembus, terbakar, terus habis. Nah, beda sama bensin (bisa meledak),” imbuhnya.

    Sehingga, faktor keamanan saat memproduksi hidrogen saja yang paling diperhatikan. Karena biasanya kompresor yang meledak.

    “Di jepang pun kompresornya pernah meledak, bukan tabungnya,” ujarnya.

    Jauh sebelum membuat prototipe mobil hidrogen, Eniya sudah merancang sepeda motor berbasis tenaga hidrogen pada tahun 2012 dengan spesifikasi 500W PEMFC, tangki bahan bakar metal hydrid 740 liter (NiMH) pada tekanan 150 psi.

    Cek informasi menarik lainnya di Google News

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini