Home
/
Digilife

Situs 9 Institusi Ini Disusupi Iklan Judol, dari Kampus hingga Pemerintah

Vaksincom menemukan iklan judi daring disusupkan ke situs resmi kampus dan pemerintah melalui celah keamanan, membahayakan pengguna dan reputasi institusi.

Situs 9 Institusi Ini Disusupi Iklan Judol, dari Kampus hingga Pemerintah

Bagikan :

Highlight Artikel

  • Iklan judi online ditemukan menyebar ke situs resmi kampus dan lembaga pemerintah, sering muncul di hasil pencarian Google.
  • Pakar keamanan siber Vaksincom menemukan modus ini di sembilan institusi di delapan provinsi pada awal Oktober 2026.
  • Penyusup memanfaatkan reputasi situs terpercaya dengan teknik "bunglon" agar iklan judi hanya muncul saat dicari melalui Google.
  • Celah keamanan, perangkat lunak usang, sandi lemah, dan sulitnya pelaporan insiden menjadi penyebab utama kerentanan situs.

Uzone.id — Iklan judi online semakin gencar menyebar lewat semua celah. Bahkan situs resmi kampus dan lembaga pemerintah yang awalnya terlihat normal-normal saja bisa memunculkan iklan promosi judi online di hasil pencarian Google. 

Kondisi ini ditemukan Vaksincom pada situs milik sembilan institusi di delapan provinsi pada awal Oktober 2026 ini. 

Dalam keterangan tertulis yang diterima Uzone.id, Senin, (12/10), pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, menjelaskan bahwa promosi tersebut dipasang oleh penyusup yang memanfaatkan nama baik institusi. Jadi, institusi pemilik situs tidak secara sengaja mengiklankan judi online.



“Bagi pengelola yang tidak mengerti, situsnya baik-baik saja karena ketika dibuka tidak ada tampilan mencurigakan. Tetapi ketika ada yang mencari informasi judi online, situs milik kampus, institusi dan lembaga pemerintahan ini justru mempromosikan judi online,” tulis Alfons dalam laporan temuannya tersebut.




Dari sembilan institusi tersebut, tujuh merupakan perguruan tinggi, terdiri atas empat kampus negeri dan tiga kampus swasta. Dua lainnya adalah satu unit daerah lembaga pemerintah pusat dan satu perusahaan penerbit jurnal.

“Lokasinya tersebar dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur sampai Kalimantan Timur. Jadi ini bukan masalah satu daerah saja dan menjadi masalah nasional,” kata Alfons.

 

Foto: nama tidak disebutkan demi nama baik institusi

Yang membuat kasus ini tidak segera diatasi oleh institusi adalah karena adanya pengalih / forwarder tersembunyi yang hanya aktif saat yang datang adalah mesin pencari Google.

Hal ini menyebabkan situs terlihat baik-baik saja ketika dibuka di kantor, bahkan ketika dicek menggunakan perangkat seperti smarphone. Tapi, ketika dicari di Google, situs tersebut sudah menjadi situs perjudian online.

“Ibarat bunglon, warnanya berubah tergantung siapa yang melihat. Kalau yang membuka manusia, ditampilkan situs yang normal. Kalau yang datang Google, disuguhi halaman judi,” kata Alfons.

Di sisi lain, halaman jurnal kampus merupakan sumber yang dipercaya dan sering dirujuk oleh Google. Penyusup memanfaatkan reputasi tersebut agar promosinya mendapat posisi paling atas dalam pencarian.

“Ibaratnya numpang pasang spanduk judi di gerbang kampus, gratis pula,” tulis Alfons.

Iklan-iklan judi tersebut disinyalir berasal dari sumber yang sama, karena muncul dengan susunan kalimat yang mirip. Pada kasus lain, Vaksincom juga menemukan situs kampus yang menampilkan jendela penipuan berkedok “tarik uang”, sehingga pengunjung berisiko kehilangan uang.



Melihat kemiripan dalam modusnya, Vaksincom menilai pola tersebut menunjukkan adanya penyusupan yang terorganisasi.

“Artinya ini bukan ulah iseng satu dua orang, melainkan penyusupan massal oleh kelompok yang sengaja berburu situs berdomain terpercaya untuk dijadikan papan iklan gratis,” tambah Alfons.

Dampak dari iklan-iklan ini tentu berbahaya bagi masyarakat/mahasiswa yang tengah mencari situs pendidikan tersebut. Masyarakat bisa saja menjadi korban judi online, nama baik institusi yang ikut tercoreng dan kredibilitas situs dan kampus yang ikut merosot gegara iklan ini.



Kejadian ‘numpang’ iklan di situs kampus hingga jurnal ini ternyata terjadi karena beberapa hal, salah satunya adalah karena adanya celah keamanan dalam situs.

“Ketika ditemukan celah keamanan, dengan mudah dieksploitasi penyusup. Ibarat rumah dengan kunci lama yang cara membukanya sudah beredar luas. Sebagian situs korban masih menjalankan perangkat lunak versi lama yang sudah tidak mendapat pembaruan keamanan,” ujar Alfons.

Selain itu, standar keamanan dalam pengelolaan akun untuk mengunggah jurnal juga menjadi perhatian karena biasanya, pengelola tidak mengikuti standar sekuriti yang baik. Kata sandi yang lemah dan mudah ditebak juga menjadi perhatian.

Selain itu, pengamanan dari situs-situs institusi ini juga hanya mengandalkan username dan juga password sehingga mudah untuk dibobol. Alfons juga menyoroti pelaporan yang tidak jelas.

"Hanya 3 dari 9 institusi yang kontak tim tanggap insiden sibernya mudah ditemukan. Akibatnya laporan dari luar sering tidak sampai ke orang yang tepat,” tambah Alfons.

 

FAQ Artikel

Bagaimana iklan judi online bisa muncul di situs resmi kampus dan pemerintah?

Iklan judi online disusupkan oleh pihak tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan celah keamanan pada situs-situs tersebut. Institusi pemilik situs tidak secara sengaja mengiklankan judi online.

Mengapa pengelola situs tidak menyadari adanya iklan judi online ini?

Iklan ini menggunakan teknik "bunglon" atau forwarder tersembunyi. Situs akan terlihat normal saat dibuka langsung, namun akan menampilkan promosi judi online jika diakses melalui hasil pencarian Google.

Apa dampak dari munculnya iklan judi online di situs-situs terpercaya ini?

Dampaknya meliputi masyarakat/mahasiswa berisiko menjadi korban judi online, nama baik institusi tercemar, dan kredibilitas situs serta kampus menurun.

Apa saja faktor yang menyebabkan situs institusi rentan terhadap penyusupan ini?

Beberapa faktor penyebab adalah adanya celah keamanan situs, penggunaan perangkat lunak versi lama yang tidak terbarui keamanannya, standar keamanan pengelolaan akun yang lemah, penggunaan kata sandi yang mudah ditebak, dan sulitnya pelaporan insiden siber.

Vina Insyani

Vina Insyani

Jurnalis

Jurnalis yang berfokus untuk memantau tren viral di sekitar kalian serta mengulik isu yang ramai dibahas di ruang digital.
Lihat semua artikel →
populerRelated Article