icon-category Digilife

Tren Quiet Quitting: Salahkah Bekerja Sesuai 'Argo'?

  • 19 Sep 2022 WIB
  • Bagikan :
    Ilustrasi: Uzone.id/Vescha Permata Sari

    Kolom oleh: Direktur Digital Business Telkom Indonesia, M. Fajrin Rasyid.

    Uzone.id -- Hidup di zaman serba digital artinya harus siap terpapar berbagai tren yang mendadak muncul dan membuat kita harus memperluas memori kosakata di dalam kepala. Belakangan sedang ramai istilah ‘quiet quitting’ dan hal ini cukup menarik untuk dikulik.

    Kalau melihat dari berbagai sumber, quiet quitting bukan berarti kita mengundurkan diri dari pekerjaan secara diam-diam. Justru tren ini memperkenalkan kondisi seorang karyawan yang melakukan pekerjaan apa adanya, alias sesuai ‘argo’.

    Orang-orang yang menerapkan quiet quitting merasa enggan mengerjakan pekerjaan tambahan, atau masih sibuk mengulik pekerjaan di luar jam kerja. Tujuan quiet quitting tak lain dan tak bukan adalah untuk menjunjung work-life balance.

    Di sisi lain, jika kita melihat zaman yang semakin modern, apalagi pertumbuhan startup atau perusahaan teknologi di Indonesia yang serba dinamis dan seringkali fleksibel, tak sedikit kultur pekerjaan menggunakan ‘jargon’ sense of belonging agar karyawan bisa lebih berdedikasi dan bekerja dari hati – bukan alakadarnya saja.

    Baca juga: Kapan Startup Harus Move On dari Bakar Duit dan Mulai Gali Profit?

    Keinginan untuk memperoleh work-life balance sendiri timbul karena kebutuhan untuk menjalankan peran-peran lain yang dijalankan oleh seseorang, termasuk di keluarga, organisasi, maupun circle lainnya. Di satu sisi, penting untuk menunjukkan bahwa kita memiliki etos kerja yang tinggi. Namun, di sisi lain, penting juga untuk menyeimbangkan pekerjaan dengan kegiatan lain agar tidak menjadi burnout.

    Dari sisi perusahaan, tidak dipungkiri bahwa kadang ada kebutuhan-kebutuhan yang mengharuskan karyawan untuk bekerja di luar jam kerja. Dalam kasus startup, kadang ada bug atau isu yang harus diperbaiki dengan segera.

    Lantas, bagaimana sebaiknya? Kita mesti pintar mengomunikasikan hal tersebut terhadap atasan kita. Misalnya, kita sampaikan bahwa kita available untuk membantu di luar jam kerja, selain waktu-waktu tertentu yang sudah kita alokasikan untuk hal lain.

    Foto ilustrasi: Unsplash

    Nah, apabila ternyata kita sering bekerja di luar jam kerja (tidak hanya sesekali saja), kita sampaikan keberatan terhadap atasan kita. Sebaliknya, sebagai seorang atasan yang memiliki bawahan, kita mesti mengalokasikan beban pekerjaan dengan baik sehingga kalaupun tim kita perlu bekerja di luar jam kerja, ini hanya sesekali saja dan tidak menjadi kebiasaan.

    Yang kurang baik adalah kita bekerja sesuai argo, tidak mengomunikasikan hal tersebut kepada atasan, dan tidak bersedia membantu sama sekali apabila ada hal-hal yang dirasakan tidak sesuai dengan argo – apakah itu di luar jam kerja atau sedikit di luar scope pekerjaan kita.

    Baca juga: Usia Baru, Harapan Baru untuk Digitalisasi Indonesia

    Manajemen dapat merespon hal tersebut dengan “quiet firing” – yakni menimbulkan kondisi yang membuat si karyawan tidak nyaman sehingga ia akan terdorong untuk resign dengan sendirinya. Hal ini tentu tidak baik bagi kedua belah pihak.

    Pada akhirnya, hubungan karyawan dengan perusahaan ibarat klub olahraga. Sebagai atlet atau manajer, kita berharap klub tersebut bisa “menang” atau mencapai hasil yang diharapkan.

    Oleh karena itu, kita mesti menjalankan peran dengan baik, termasuk menjalankan latihan sesuai dengan waktu. Tentu merupakan sesuatu yang baik apabila kita melatih fisik kita di luar latihan yang ditentukan – asal tentu tidak berlebihan hingga sampai menimbulkan cedera.

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini