icon-category Auto

Belajar dari Tabrakan Beruntun Tol Pejagan: Nyetir Jangan Ngasal!

  • 19 Sep 2022 WIB
  • Bagikan :

    Uzone.id - Lagi dan lagi, dan insiden seperti tabrakan beruntun ini tuh sudah sering banget kejadian di Indonesia. Terbaru, belasan kendaraan terlibat insiden di tol Pemalang - Pejagan, Brebes.

    Apa yang harus kita pelajari dari sekian kali kejadian tabrakan beruntun ini?

    Jadi, seperti ramai di beritakan, kecelakaan beruntun tersebut melibatkan 13 kendaraan dan menyebabkan 1 orang tewas di lokasi kejadian, sementara 129 lainnya luka-luka.

    BACA JUGA: Kenapa Shell Tidak Jual Bensin Murah Sekelas Pertalite?

    Kepala Cabang Pejagan-Pemalang Tol Road (PPTR), Ian Dwinanto mengatakan kecelakaan ini akibat pandangan pengendara terganggu asap pembakaran rumput di sebelah ruas tol. 

    Kondisi ini membuat jarak pandang pengemudi menjadi terbatas sehingga terjadilah kecelakaan beruntun.

    Kejadian berawal dari sebuah SUV paling depan yang melintasi kepulan asap sehingga mengganggu pandangannya, sang pengemudi pun memperlambat laju kendaraannya, tapi sayangnya dengan melakukan pengereman mendadak.

    Sejumlah kendaraan di belakangnya pun, karena tidak menjaga jarak aman, maka mustahil menghindar dari mobil yang ngerem mendadak di depannya. Maka terjadilah…

    Nah, jadi sebenarnya penyebab kecelakaan tersebut karena asap yang menghalangi pandangan atau faktor pengemudinya sendiri?

    Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Uzone.id menghubungi Sony Susmana, Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI).

    “Iya, pada asal nyetir sih. Benar asap bisa menghalangi pandangan. Tapi apa iya asap tiba-tiba? kan ada proses dulu sebelum ngeblock pandangan,” komentarnya.

    Dirinya melanjutkan, meminta para pengemudi jangan asal nyetir dan merasa bisa melihat apa yang ada di depannya, sehingga main tancap gas tanpa mempertimbangkan jarak pandang.

    Sony menjelaskan, melihat adalah satu proses berkendara yang nomor satu! Berikutnya melakukan identifikasi bahaya, selanjutnya memprediksi apa kemungkinan yang terjadi kalau tetap melanjutkan perjalanan, dan terakhir eksekusi untuk memutuskan tindakan yang aman.

    “Jadi prosesnya panjang. Itu kenapa kita harus berhitung jarak aman. Sekarang tidak lagi 3 detik, tetapi 6 detik agar bisa  melambatkan kendaraan secara bertahap, untuk menghindar, tanpa melakukan pengereman mendadak,” tambahnya.

    Banyak faktor penyebab terjadinya kecelakaan, tambah Sony lagi. Dan sayangnya, yang paling bahaya adalah banyak pengemudi sering meremehkan faktor-faktor berbahaya tersebut.

    VIDEO Test Drive Hyundai Ioniq 5:

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini