icon-category Digilife

Jelang Meninggal Dunia, Djaduk Posting Ini di Instagram

  • 13 Nov 2019 WIB
  • Bagikan :

    Djaduk Ferianto (Foto: Instagram @djaduk)

    Uzone.id - Djaduk Ferianto telah meninggal dunia di usia 55 tahun pada Rabu (13/11/2019) dini hari akibat sakit jantung.

    Sedari kecil, sudah mengalir deras jiwa seni dalam nadi Djaduk. Wajar saja, dia putra dari maestro tari Bagong Kussudiardjo.

    Di usia 6 tahun, Djaduk sudah aktif menari di Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardjo. Selain itu, Djaduk pernah jadi murid dan pembina di padepokan seni milik sang ayah.

    Baca juga: Djaduk Meninggal, Deretan Orang Top Sampaikan Duka Cita

    Djaduk juga dikenal sebagai seniman yang turut mendirikan Ngayogjazz yang merupakan festival musik jazz tahunan di Daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakan oleh para seniman dan komunitas musik jazz lokal Yogyakarta sejak 2007.

    Satu hari jelang meninggal dunia, Djaduk sempat unggah foto rekannya sesama musisi, Idang Rasjidi yang mengenakan topi, kacamata dan bibirnya tengah tersenyum. Djaduk lalu mempromosikan Idang Rasjidi akan tampil di Ngayogjazz dengan menyanyi, bukan bermain keyboard yang selama ini kita lihat.

    "NGAYOGJAZZ tgl 16 Nov 2019 jam 16.45 di desa Kwagon, Godean, Sleman Jogjakarta anda akan temukan Idang Rasyidi tidak main keyboard tapi beliau akan jadi penyanyi diiringi Om Ole, Neo dkk dalam Educonsert. Datanglah kalian akan dapatkan Vitamin baru tentang Jazz dll nya. Tak tunggu kedatangannya," tulis Djaduk di kolom caption.

     

    Melihat Wikipedia, Pemilik nama lengkap Gregorius Djaduk Ferianto ini lahir di Yogyakarta, 19 Juli 1964 dari pasangan Bagong Kussudiardja dan ibunya, Soetiana.

    Sejak tahun 1972, Djaduk sering menggarap illustrasi musik sinetron, jingle iklan, penata musik pementasan teater, hingga tampil bersama kelompoknya dalam pentas musik di berbagai negara.

    Ia bersama kelompoknya terkenal dengan eksplorasi berbagai alat dan benda sebagai instrumen musiknya.

    Terlahir dengan nama Guritno, pemberian pamannya. Ayahnya, Bagong Kussudiardjo mengganti namanya dengan Djaduk yang artinya unggul. Ia selalu ditemani radio yang sering menyiarkan pertunjukan wayang.

    Baca juga: FOTO: BMW Luncurkan M4 Competition, Cuma 2 Unit di Indonesia

    Tidak lupa juga buku cerita wayang yang selalu ada di sampingnya. Kemudian ia bercita-cita menjadi dalang, bahkan pernah belajar mendalang. Lingkungan masa kecilnya di Tedjakusuman, Yogyakarta yang dekat dengan kesenian sangat mendukung kariernya di bidang musik, juga teater.

    Djaduk pernah mendirikan Kelompok Rheze yang tahun 1978 pernah dinobatkan sebagai Juara I Musik Humor tingkat Nasional, mendirikan Kelompok Musik Kreatif Wathathitha. Pada tahun 1995, bersama dengan kakaknya, Butet Kertaradjasa dan Purwanto, mendirikan Kelompok Kesenian Kua Etnika, yang merupakan penggalian atas musik etnik dengan pendekatan modern. Pada tahun 1997, Djaduk mengolah musik keroncong dengan mendirikan Orkes Sinten Remen.

    Salah satu hal yang pernah mengganjal Djaduk adalah label lokal dan nasional. Ia mengalami diskriminasi itu sejak 1979. Djaduk baru bisa masuk industri (nasional) tahun 1996, setelah muncul di acara Dua Warna RCTI.

    Maka ketika Djaduk banyak menerima job tingkat nasional, ia tetap bertahan sebagai orang lokal. Tak akan menetap atau berdomisili Jakarta, meski frekuensi tampil di ibu kota sangat tinggi. Djaduk dan kelompoknya tetap berada di Yogya.

    Di dunia layar lebar, Djaduk juga pernah membintangi film 'Petualangan Sherina' (2000), 'Koper' (2006), 'Jagad X Code' (2009), dan 'Cewek Saweran' (2011).

    Djaduk pergi untuk selama-lamanya dari dunia ini meninggalkan seorang istri, Petra, dan lima anak; Gusti Arirang, Ratu Hening. Gallus Presiden Dewagana, Kandida Rani Nyaribunyi, dan Rajane Tetabuhan.

    VIDEO Nyobain Skuter GrabWheels eScooter

     

    Cek informasi menarik lainnya di Google News

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini