icon-category Gadget

Review: Acer Aspire Vero NatGeo, Laptop Daur Ulang yang Pas Buat Kerja

Acer Aspire Vero National Geographic (Foto: Muhammad Faisal/Uzone.id)

Uzone.id - Gak cuma vendor smartphone saja, pabrikan laptop pun mulai gencar-gencarnya menghadirkan produk yang ramah lingkungan. Acer salah satunya, dengan laptop terbaru Aspire Vero NatGeo atau National Geographic Edition.

Sekarang sudah banyak laptop terbaru yang mengusung konsep "ramah lingkungan", mulai dari kemasan yang dibuat dari bahan daur ulang sampai kemampuan pengisian daya menggunakan adaptor dan kabel USB-C.

Fitur terakhir memang sudah digembar-gemborkan oleh banyak merek laptop, seperti Asus, HP, Huawei dan sebagainya. Dengan ini, pengguna ga perlu bawa charger banyak-banyak, cukup satu saja untuk mengisi banyak perangkat.

Mungkin saja, kami memprediksi laptop di masa mendatang akan dijual tanpa adapter charger. Alasan kuatnya, untuk mengurangi emisi karbon dan sampai elektronik yang kian menggunung.

Acer Aspire Vero National Geographic Edition sendiri merupakan laptop edisi khusus yang juga fokus pada keamanan dan keberlanjutan lingkungan di Bumi. 

Kemasan laptop ini sudah sepenuhnya menggunakan bahan daur ulang. Begitu juga dengan material bodi serta keyboard yang pakai 'plastik sampah'. Gak cuma itu,  

Baca juga: Acer Swift 5 AeroSpace Buktikan Laptop Tipis Gak Selamanya Lemot

Setiap pembelian laptop edisi khusus ini, maka turut membantu mendukung National Geographic Society, sebuah nirlaba global yang berbasis di Amerika Serikat (AS) yang dalam misinya untuk membantu melindungi dunia melalui eksplorasi, penelitian, dan pendidikan. 

Tapi hanya itukah kemampuan Acer Aspire Vero National Geographic Edition ini? Biar kalian gak penasaran, berikut review lengkapnya.

Dibuat dari sampah plastik

‘Dibuat dari sampah plastik’ bukan secara harfiah. Maksudnya, laptop ini terbuat dari campuran material ramah lingkungan yang terdiri dari plastik post-consumer recycled atau PCR.

Mulai dari sasis sampai bodinya, dibuat dari plastik PCR. Meski menggunakan ‘sampah’, namun Acer tetap memperhatikan estetika dan kekokohan laptop Aspire Vero National Geographic Edition.

Laptop ini dirancang dengan corak dan kelir warnanya yang ‘go green’ banget. Sebagian besar bodinya dilapisi warna abu-abu dengan tekstur yang lumayan kasar.

Lapisan warna ini jadi pengalaman baru buat kami yang seringnya mengulas laptop dengan permukaan yang halus dan kelihatan mewah. Desain Acer Aspire Vero NatGeo Edition justru terlihat unik, beda dari laptop lainnya.

Apalagi, terdapat titik-titik pigmen kuning yang terlihat kontras. Ditambah, logo khas National Geographic dan visual bergaris yang melintang di penampang belakang, kian membuat laptop ini terlihat alami.

Baca juga: Review ViewSonic M1 Mini Plus, Proyektor Mini untuk Kerjaan dan Hiburan

Acer mengatakan, visual yang mirip seperti peta topografi itu membuat permukaan laptop seolah seperti daratan dan laut. Desain ini sekaligus menyinggung dampak pemanasan global atas naiknya permukaan laut.

Bagian keyboard-nya pun terlihat beda. Pada tombol spasi, terdapat pesan ‘For Planet Earth’ dan tombol E serta R yang dibuat terbalik. 

Ukuran keyboard-nya sendiri full-size lengkap dengan area tombol-tombol untuk nomor. Agar menegaskan kalau laptop ini benar-benar dibuat dari sampah plastik daur ulang, Acer turut membubuhi bagian kanan bawah laptop dengan tulisan ‘Post Consumer Recycled’.

Kualitas layar mengecewakan

Layar Acer Aspire Vero edisi spesial ini berjenis IPS LCD berukuran 15,6 inci dan sudah beresolusi Full HD pula. Tapi entah kenapa, kualitas layar IPS yang seharusnya memanjakan mata, justru bikin kecewa.

Kualitas layarnya bak panel TN dengan resolusi dan intensitas cahaya yang rendah. Kekurangan layar ini begitu terasa ketika kami memakai laptop di luar ruangan dengan sinar matahari yang cukup terik.

Tapi saat digunakan di dalam ruangan, kualitas warna dan cahayanya cukup enak dipandang. Tinggal atur saja intensitasnya ke level menengah, mata pun tetap nyaman menatap layar dalam waktu yang lama.

Bezel-nya pun cukup tebal, membuat ukurannya menjadi terlihat lebih besar. Dengan dimensi yang bulky, sejujurnya kurang nyaman membawa laptop ini kerja mobile.

Alasannya karena bobot laptop yang mencapai 1,8kg dengan ketebalan 17,9 mm, lengkap serta adaptor charger berukuran besar yang harus dibawa kemana-mana.

Baca juga: Review Vivo X80 Pro: Gampang Panas, Kamera Bikin Takjub

Kerja maksimal dengan keyboard luas

Ngetik di laptop ramah lingkungan ini mengobati rasa kekecewaan kami terhadap layar Acer Aspire Vero National Geographic Edition. Keyboard-nya punya format full-sized yang luas dengan jarak antar tombolnya yang pas, serta dilengkapi dengan LED backlight.

Keyboard ini pun terasa empuk, meski efek cetak-cetek setiap menekan tombol masih terdengar cukup berisik. Kendati begitu, ngetik berita, review dan interaksi lainnya menggunakan keyboard laptop ini cukup menyenangkan.

Area trackpad Acer Aspire Vero NatGeo Edition juga luas. Lebih bebas mengontrol kursor dan fungsi mouse lainnya dengan trackpad ini. 

Tepat di kiri atas trackpad, terdapat sensor sidik jari yang langsung terintegrasi dengan Windows Hello. Responnya cepat, membuat kita gak perlu memasukkan password atau PIN untuk login ke Windows 11.

Berbicara sedikit soal audio, Acer punya sepasang speaker stereo di kiri dan kanan bawah penampang bodinya. Keluaran audionya cukup jernih, walau kurang terdengar maksimal pada suara low-mid

Baca juga: Review Samsung Galaxy Z Flip4: Disempurnakan, Harganya Murah Pula

Tapi kualitasnya masih terbilang oke untuk mendengar musik, nonton film atau rapat online via aplikasi video conference.

Buat pengguna yang sering meeting online, ada fitur Acer PurifiedVoice yang dilengkapi dengan teknologi AI atau kecerdasan buatan yang mampu mengurangi kebisingan di latar belakang, sehingga suara yang diterima lawan bicara terdengar lebih jelas.

Fitur ini juga berfungsi baik saat pengguna memakai headphone dan mikrofon eksternal. 

Port kurang lengkap, gak bisa ngecas via USB-C

Ukurannya saja besar, tapi kelengkapan port-nya masih saja kurang. Padahal diplot sebagai laptop yang ramah lingkungan, ngecas menggunakan adaptor + kabel USB-C saja tidak bisa. 

Kalau saja ada kemampuan tersebut, satu adaptor bisa dipakai oleh banyak perangkat dan pastinya berkontribusi untuk mengurangi sampah plastik elektronik yang kian mengkhawatirkan. 

Acer Aspire Vero NatGeo Edition memiliki port USB-C 3.2 Gen 1, tapi hanya berfungsi untuk transfer data dengan kecepatan hingga 5 Gbps. Kemudian ada dua USB 3.2 Gen 1, USB 2.0, port HDMI 2.0, jack audio 3,5mm, DC-in untuk ngecas, serta RJ-45 untuk internet kabel yang lebih stabil.

Gak ada slot SD Card maupun microSD Card di laptop ini. Penting banget lho kehadiran card reader ini, terutama buat fotografer profesional yang harus memindahkan fotonya dari kamera ke laptop dengan mudah.

Sementara untuk konektivitas, laptop ini sudah mendukung WiFi 6 untuk memastikan kecepatan internet nirkabel yang cepat, serta Bluetooth 5.1 untuk proses koneksi antar perangkat atau memindahkan data secara wireless.

Masih Intel Core 11th Gen, maksimal buat kerja

Sudah banyak laptop kelas menengah yang dipasarkan di Indonesia dengan prosesor Intel Core 12th Gen. Cuma, Acer masih memakai prosesor Intel Core 11th Gen untuk Aspire Vero National Geographic Edition.

Cuma ada satu varian prosesor saja, yakni Intel Core i5-1155G7. Lantaran belum 12th Gen, RAM laptop ini pun masih berjenis DDR4 yang sudah ‘ketinggalan zaman’ daripada LPDDR5 di laptop generasi terbaru saat ini.

Walau demikian, kapasitas RAM-nya sudah 8 GB dan mendukung dual-channel. Ditambah, memori penyimpanannya berjenis SSD NVMe Gen3 seluas 512 GB. Kecepatannya bikin proses booting hingga masuk ke login hanya sekejap saja.

Tak ada kartu grafis discrete di laptop ini, cuma integrated saja, yakni Intel Iris Xe Graphics. Dari pengujian kami menggunakan 3DMark dengan skema Time Spy, skor yang diraihnya 1.404 poin yang terbilang cukup baik di kelasnya.

Dari grafik terlihat, titik FPS tertinggi selama pengujian ini masih di atas 30 FPS, tepatnya 43 FPS. Skema Time Spy sendiri merupakan pengujian standar, namun cukup bikin dapur pacu laptop kelas mainstream kerepotan.

Baca juga: Review Samsung Galaxy Fold4 5G, Seperti PC di Dalam Saku

Hasil yang bagus diraih oleh Acer Aspire Vero NatGeo Edition. Lalu, bagaimana dengan performa keseluruhannya? Diuji menggunakan PCMark 10, skornya mencapai 4.846 poin yang cukup memuaskan.

Kami menyoroti skor pada skenario pengujian Productivity dan Digital Content Creation. Nilainya lumayan tinggi, membuktikan (secara angka) kalau laptop ini memang cocok buat kerja, ngerjain tugas kampus atau sekolah, hingga kreator konten yang menggunakan aplikasi editing ringan.

Dilengkapi Acer VeroSense untuk atur kinerjanya

Salah satu aplikasi bawaan Acer yang cukup sering kami gunakan adalah VeroSense. Dengan aplikasi ini, kami bisa mengatur performa laptop mulai dari hemat daya sampai performance-mode.

Ada empat mode yang tersedia, Eco+ Mode, Eco Mode, Balanced Mode dan Performance Mode. Eco+ Mode adalah opsi hemat daya yang ekstrem dengan mematikan beberapa fitur utama, termasuk fitur untuk ngecas perangkat lain melalui USB-A. 

Sedangkan Eco Mode juga melakukan hal yang sama. Cuma, fitur ngecas smartphone maupun perangkat lain masih berfungsi seperti normal.

Baca juga: Review Asus Vivobook Pro 14 OLED: Performa Pas, Baterainya Awet

Balanced Mode mungkin jadi salah satu mode terbaik. Kinerjanya pas, daya tahan baterainya juga cukup panjang. Kalau mau lebih ngegas, Performance Mode bisa dipilih. Lebih gesit, iya. Tapi kipas pada laptop ini juga jadi lebih berisik dan cenderung mengganggu. 

VeroSense juga membawa fitur ala smartphone Android, yakni Optimized Battery Charging. Fitur ini membatasi pengisian baterai sampai 80 persen saja untuk memperpanjang masa pakai baterai. 

Fokus utamanya tetap ramah lingkungan

Gimmick atau bukan, Acer Aspire Vero National Geographic Edition memang berhasil mengubah persepsi kami terhadap laptop. Jika biasanya komputer jinjing dibuat elegan dan semewah mungkin, tapi tidak dengan laptop terbaru Acer ini.

Acer Aspire Vero NatGeo Edition justru mengedepankan konsep sederhana, go green dan alami. Tekstur dan kelir warna pada bodinya menguatkan kesan kalau laptop ini memang dibuat dari sampah plastik daur ulang.

Bayangkan, 30 persen sasis dan 50 persen keyboard-nya terbuat dari sampah plastik PCR. Dari dokumen Acer, diklaim penggunaan bahan itu mengurangi emisi gas karbon sekitar 21 persen dibandingkan laptop dengan ukuran serupa.

Pemakaian bahan daur ulang juga diterapkan pada kemasannya. Acer menggunakan material daur ulang sepenuhnya untuk boks atau kemasan Acer Aspire Vero National Geographic Edition.

Di samping desainnya yang go green, performanya ternyata gak malu-maluin. Prosesor Intel Core 11th Gen masih dapat diandalkan untuk bekerja, membuka banyak aplikasi dalam satu waktu, video conference dan kegiatan non-gaming lainnya.

Baterainya pun awet, terutama saat kami mengaktifkan Eco Mode atau Balanced Mode. 80 persen baterai bisa membuatnya bertahan hingga 4 jam pemakaian normal.

Cukup disayangkan, ada beberapa kekurangan yang kami rasakan selama review Acer Aspire Vero National Geographic Edition ini. Pertama, tentu saja kualitas layar yang kurang oke saat digunakan di luar ruangan.

Kedua, dimensinya yang besar dan cukup bikin malas membawanya kemana-mana untuk kerja di luar ruangan. Ketiga, gak support pengisian daya via USB-C, sehingga kami terpaksa harus membawa adaptor charger kemana-mana untuk mengisi baterai laptop.

Tak adanya card reader juga jadi kekurangan lainnya dari laptop ini. Padahal, ukurannya sudah besar. Masa sih Acer gak kepikiran untuk menyertakan port kecil seperti microSD reader?

Dijual dengan harga Rp11 jutaan, performa Acer Aspire Vero National Geographic Edition terasa seperti laptop Rp9 jutaan. 

Tapi hal baiknya, kalian bisa mendapatkan laptop bergaya unik dan berbeda, ikut berpartisipasi mengurangi emisi gas karbon, dan turut membantu mendukung National Geographic Society, sebuah nirlaba global yang berbasis di Amerika Serikat yang dalam misinya untuk membantu melindungi dunia melalui eksplorasi, penelitian, dan pendidikan.

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini