icon-category Startup

JP Morgan Ditipu Rp2,6 Triliun Oleh Startup Frank, Ini Awal Mulanya

  • 17 Jan 2023 WIB
Bagikan :
Ilustrasi foto: Gedung JP Morgan (Precious Madubuike/Unsplash)

Uzone.id – JP Morgan, salah satu investor terkenal dunia kini sedang menggugat salah satu startup yang telah mereka akuisisi pada tahun 2021 lalu, Frank. 

Startup yang bergerak di fintech ini dibeli seharga USD175 juta oleh JP Morgan karena terlihat menjanjikan dengan pengguna mencapai jutaan.

Frank sendiri merupakan startup yang memberikan layanan pinjaman pendidikan untuk pelajar dan mahasiswa yang membutuhkan di Amerika Serikat. Tujuan yang cukup mulia ini mendapat dukungan dari miliarder Marc Rowan, Aleph, Chegg, Reach Capital, Gingerbread Capital, dan SWAT Equity Partners.

Di tahun 2021 lalu, Charlie melakukan pendekatan pada bank agar bisa diakuisisi, ia selanjutnya mengatakan kalau startup Frank sudah memiliki 4,25 juta pengguna. 

Selanjutnya, di tahun 2022 akhir, JP Morgan akhirnya mempublikasikan kalau mereka menggugat CEO Frank, Charlie Javice dan rekannya Olivier Amar ke Pengadilan Distrik AS di Delaware.

Baca juga: Dikibulin Data Palsu, JP Morgan Kena Tipu Rp2,6 Triliun oleh Startup Ini

Kebohongan ini mulai tercium JP Morgan ketika perusahaan hendak mengirimkan email marketing ke pelanggan Frank. Ternyata, sekitar 70 persen email tersebut tidak terkirim karena email yang dimasukkan tidak benar.

Selanjutnya, kebohongan ini makin terkuak ketika JP Morgan meminta bukti selama uji tuntas dimana Javice diduga membuat daftar besar pengguna palsu startup Frank.

Data-data siswa yang dipalsukan (dan sebenarnya tak ada) ini mencapai sekitar 4,265 juta ‘siswa’ yang terdiri dari daftar nama, alamat, tanggal lahir, dan informasi pribadi lainnya. Nyatanya, Frank disebut hanya memiliki kurang dari 300 ribu akun pelanggan.

“Awalnya, Javice menolak permintaan JPMC untuk berbagi data pengguna dengan alasan privasi,” kata pihak JP Morgan.

“Namun setelah JPMC memaksa, Javice berbohong terkait jutaan pelanggan Frank,” tambahnya.

Usut punya usut, Javice diduga membayar sekitar USD18 ribu kepada seorang profesor ilmu data untuk membuat jutaan akun palsu menggunakan data sintetis. Dari sinilah rekannya Amar masuk dalam skema penipuan bersama Javice.

Baca juga:  Selamat Datang 2023! Ini Tentang Startup Bakar Duit hingga Modal Investor

Amar juga menghabiskan sekitar USD105 ribu untuk membeli kumpulan data terpisah untuk 4,5 juta siswa dari firma ASL Marketing.

Javice tak tinggal diam, ia kemudian menuntut balik JP Morgan dan mengatakan kalau perusahaan berusaha merusak perjanjian akuisisi startup yang telah diakuisisi. Namun, tuntutan dari JP Morgan terlihat sangat detail, karena memasukkan informasi rinci hingga alamat email pengguna yang diduga palsu.

Selanjutnya, operasi startup Frank sendiri sudah ditutup oleh JP Morgan usai gugatan ini dipublikasikan, begitupun dengan Javice yang dipecat langsung dari jabatannya sebagai direktur pelaksana yang mengawasi Frank.

Kasus penipuan startup ini bukan pertama kali terjadi, di 2022 lalu, Elizabeth Holmes yang merupakan founder startup Theranos menipu para investor dan didakwa dengan hukuman 11 tahun penjara.

Cek informasi menarik lainnya di Google News

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini